Jika ada yang berkata:
Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengkhabarkan kepada kita dengan hadits-hadits yang masih samar bagi kami, apakah tamtsil atau bukan?
Dan kami akan membawakannya kepada kalian:
✔ Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
إنكم سترون ربكم كما ترون القمر ليل لبدر، لا تضامون في رؤيته
"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama. Kalian tidak berdesak-desakkan dalam melihatNya" ¹
Ia berkata: كما, kaf adalah untuk tasybih (penyerupaan). Dan ini adalah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-, dan kita -berdasarkan kaidah kita- mengimani sabda Rasulullah sebagaimana kita mengimani firman Alloh. Berikanlah jawaban mengenai hadits ini?
Kita katakan: Kami jawab hadits ini dan hadits-hadits semisalnya dengan dua jawaban: jawaban global dan jawaban terperinci.
Pertama global: Bahwasannya tidak akan terjadi pertentangan antara kalam Alloh dengan ucapan NabiNya yang shahih dari beliau selamanya, karena semuanya adalah kebenaran. Dan kebenaran tidak akan bertentangan. Dan seluruhnya dari sisi Alloh dan apa yang berasal dari sisi Alloh tidak akan saling bertentangan.
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya". (QS An-Nisa': 82)
Jika terdapat sesuatu yang seolah-olah bertentangan dalam pemahamanmu, maka ketahuilah bahwa pertentangan ini bukan dari sisi nash akan tetapi dari pemahamanmu. Maka jika menurutmu terjadi pertentangan nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka bisa jadi disebabkan karena dangkalnya ilmu, atau sedikitnya pemahaman, atau kurangnya dalam meneliti dan merenungkannya. Seandainya engkau meneliti dan merenungkannya niscaya engkau akan mendapati bahwa pertentangan yang engkau kira itu sebenarnya tidak ada asalnya. Bisa jadi karena buruknya tujuan dan niat dengan engkau memperlihatkan nash yang dzohirnya bertentangan untuk dicari pertentangannya. Maka engkau dihalangi dari mendapatkan taufiq sebagaimana orang-orang yang menyimpang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat.
Dan jawaban global ini bercabang-cabang yaitu wajib atasmu ketika terjadi kesamaran untuk mengembalikan sesuatu yang mutasyabihat kepada muhkamat, sebab metode ini adalah jalannya orang-orang yang mendalam ilmunya . Alloh ta'ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” (QS Ali Imran: 7).
Mereka membawa ayat-ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat muhkam sampai semua nash adalah muhkamat.
Adapun jawaban terperinci maka kita menjawab dari setiap nash itu sendiri. Kita katakan:
Bahwa perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
إنكم سترون ربكم كما ترون القمر ليل لبدر، لا تضامون في رؤيته
"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama. Kalian tidak berdesak-desakkan dalam melihatNya"
Bukanlah penyerupan sesuatu yang dilihat akan tetapi penyerupaan cara melihat (kalian akan melihat ... sebagaimana kalian melihat) Huruf Kaf dalam كما ترون masuknya pada mashdar muawwal, sebab ما (maa) adalah huruf mashdariyah, dan perkiraan ucapannya adalah كرؤيتكم القمر ليلة بدر "Seperti penglihatanmu pada rembulan di malam purnama" dengan demikian ini adalah penyerupaan cara melihat bukan obyek yang dilihat. Dan maksudnya adalah engkau akan melihatNya dengan penglihatan yang jelas sebagaimana engkau melihat rembulan pada malam purnama. Oleh karenanya diikuti dengan perkataan beliau: Kalian tidak berdesak-desakkan dalam melihatnya" atau kalian tidak saling memudharatkan dalam melihatnya. Dengan demikian hilanglah kerancuan.
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Wasithiyyah oleh Syaikh Al Utsaimin -rahimahulloh-
Masih bersambung -insya Alloh-
Note:
1. Riwayat Al Bukhari 554, Muslim 633, dari Jarir bin Abdulloh. Dan akan dibawakan hadits lengkapnya di awal-awal juz kedua -biidznillah-.



0 komentar:
Posting Komentar