✔ Perkataan penulis -rahimahulloh-:
"وهو الإيمان بالله, وملائكته, وكتبه, ورسله, والبعث بعد الموت, والإيمان بالقدر خيره وشره".
"Yaitu iman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rosulNya, kebangkitan setelah kematian, dan keimanan kepada Qodar(taqdir) yang baik ataupun yang buruk".
Penjelasan:
Ini adalah aqidah yang telah dibangun pondasinya oleh Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- untuk kita, ketika beliau menjawab pertanyaan Jibril yang bertanya kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tantang apa itu iman? Apa itu Islam? Apa itu ihsan? Dan kapan datangnya hari kiamat. Beliau bersabda kepada Jibril:
"أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقدر خيره وشره"
"Engkau beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan qadar yang baik maupun yang buruk. (HR Muslim no. 8 dari hadits Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu dalam kitab Al Iman pada bab Bayan arkanul Iman wal Islam)
✔ "Iman kepada Alloh". Al Iman secara bahasa: banyak yang mengatakan: yaitu at-tashdiiq (pembenaran). Aku membenarkan dan aku mengimani makna keduanya adalah satu secara bahasa. Dan telah berlalu penjelasan kami bahwa perkataan ini tidaklah benar. Akan tetapi Al Iman secara bahasa: Menetapkan sesuatu yang telah dibenarkan (diyakini). Buktinya engkau mengatakan: Aku mengimani yang demikian dan aku membenarkannya. Dan aku membenarkan si Fulan, dan engkau tidak mengatakan: Aku beriman kepada fulan.
Dengan demikian, iman memiliki makna tambahan dari hanya sekedar tashdiiq (pembenaran), yaitu penetapan dan pengetahuan yang mengharuskan menerima khabar-khabar dan kepatuhan terhadap hukum-hukum. Inilah iman.
Adapun sekedar engkau meyakini bahwa Alloh itu ada, ini bukanlah iman, sampai keyakinan ini melahirkan kelaziman dalam menerima khabar-khabar dan kepatuhan terhadap hukum-hukum. Jika tidak, makan bukanlah iman namanya.
Dan iman kepada Alloh mencakup 4 hal:
1. Iman akan wujud Alloh -subhanahu wa ta'ala-.
2. Iman kepada Rububiyyah Alloh, yakni pengesaan terhadap RububiyyahNya.
3. Iman terhadap keesaan Alloh dalam uluhiyahNya.
4. Iman kepada Nama-nama dan Shifat-shifatNya.
Tidak mungkin bisa merealisasikan iman kecuali dengan hal tersebut.
Barang siapa yang tidak beriman dengan wujudnya Alloh, dia bukanlah seorang mukmin. Dan barang siapa yang beriman kepada wujud Alloh tapi tidak mengimani keesaan Alloh dalam Rububiyah, maka dia bukan orang mukmin. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh, dan mengesakan dalam Rububiyahnya, namun tidak beriman kepada UluhiyahNya, maka dia bukanlah seorang mukmin. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh, mengesakannya dalam Rububiyah dan UluhiyahNya, namun tidak beriman kepada Asma (nama) dan shifat-shifatNya, maka dia juga bukan seorang mukmin. Meski yang terakhir ini, terkadang menghapuskan iman secara keseluruhan dan terkadang juga menghapuskan kesempurnaan iman.
Iman kepada Wujud Alloh:
Apabila yang bertanya: "Apa buktinya bahwa Alloh azza wa jalla itu ada? Kita jawab: Bukti akan adanya Alloh adalah (berdasarkan): akal, indra, dan syar'i. Ketiganya ini memberikan bukti akan adanya Alloh. Jika mau, engkau bisa menambahkan: fitrah. Sehingga bukti akan adanya Alloh ada 4 yaitu: Akal, Indra, Fitrah dan Syar'i. Kami mengakhirkan bukti secara syar'i bukan karena tidak layak untuk didahulukan, akan tetapi kita sedang berbicara dengan orang yang tidak mengimani syariat.
✔ Adapun bukti secara akal, kita katakan: Apakah adanya segala sesuatu ini ada dengan menciptakan dirinya sendiri, atau ada dengan tiba-tiba begitu saja? Jika engkau mengatakan: ada karena menciptakan dirinya sendiri. Maka hal ini tidak masuk akal selama sesuatu itu tidak ada. Bagaimana sesuatu itu menjadi ada padahal ia tidak ada? Sesuatu yang tidak ada tidaklah ada sampai ia diciptakan. Sehingga tidak mungkin sesuatu itu menciptakan dirinya sendiri. Jika engkau mengatakan: ada dengan sendirinya. Maka kami katakan pula: ini juga mustahil. Maka engkau, wahai orang yang mendustakan, apakah adanya pesawat-pesawat, roket-roket, mobil-mobil, dan berbagai peralatan dengan berbagai modelnya, apakah ada dengan sendirinya?
Maka dia akan berkata: tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Demikian pula burung-burung, gunung-gunung, matahari, bulan, bintang-bintang, pepohonan, bebatuan, pasir-pasir, lautan dan yang selain itu, tidak mungkin terjadi dengan sendirinya -selamanya.
Dan dikisahkan: Ada sekelompok orang Atheis yang datang kepada Abu Hanifah -rahimahulloh-, yang berasal dari India. Mereka berdebat dengan beliau dalam masalah penetapan Al Kholik (Pencipta) 'azza wa jalla. Dan Abu Hanifah adalah salah seorang ulama yang cerdas. Maka beliau menjanjikan agar mereka datang lagi sehari atau dua hari lagi. Maka mereka pun datang lagi. Mereka berkata: "Apa yang akan kamu sampaikan?". (Abu Hanifah berkata)Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh dengan barang dagangan dan kebutuhan(untuk manusia) yang datang dengan mengarungi gelombang samudera, sampai ke pelabuhan dan menurunkan muatannya kemudian pergi, tanpa nahkoda dan pengangkut barang.
Mereka berkata: Engkau berfikir demikiab? Beliau menjawab: Ya. Mereka berkata: "Jika demikian, kau tidak memiliki akal. Apakah masuk akal bahwa suatu kapal datang tanpa nahkoda, berlabuh lalu berangkat pergi? Ini tidak masuk akal. Beliau berkata: "Kenapa tak masuk akal kalian? Padahal menurut kalian masuk akal bahwa langit, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, binatang-binatang, dan manusia seluruhnya ada tanpa pencipta?" Pahamlah mereka bahwa beliau ini berbicara dengan logika mereka. Dan mereka tidak mampu menjawabnya.
Dan dikatakan kepada orang arab Baduwi dari Badiyah: Bagaimana engkau mengetahui Rabbmu? Dia berkata: Bekas itu menunjukkan adanya pelaku. Langit yang memiliki bangunan tinggi, bumi yang memiliki jalan-jalan, samudra yang memiliki gelombang, bukankah itu menunjukkan kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat? Oleh karenanya, Alloh 'azza wa jalla berfirman:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُون
"Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"(QS At-Tur: 35)
Maka dengan demikian, akal menjadi petunjuk yang jelas akan adanya wujud Alloh.
✔ Adapun bukti dengan hissi (indera) akan adanya Alloh, yaitu bahwasannya manusia berdoa kepada Alloh 'azza wa jalla, dan berkata: Ya Robb! Dan meminta sesuatu kemudian diperkenankan do'anya. Dan ini bukti perasaannya, yaitu jiwanya tidaklah memohon kecuali kepada Alloh, dan Alloh mengabulkan untuknya. Dia menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya. Demikian itu kita mendengar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang pada zaman kita sekarang, bahwasannya Alloh mengabulkan baginya.
Seorang Arab Baduwi yang menemui Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- ketika beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat, ia berkata: Harta-harta kami telah musnah dan jalan-jalan telah terputus, berdoalah kepada Alloh untuk kami agar Dia menurunkan hujan.
Anas bin Malik berkata: "Demi Alloh, tidaklah ada di langit gumpalan awan ataupun mendung, tidak pula ada diantara kami dan gunung Sala' (gunung di kota madinah yang datang awan dari arahnya), tidak pula dari arah rumah dan pemukiman...setelah do'anya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam tiba-tiba muncul awan berarak seperti perisai dan meninggi, menyebar, muncul guruh dan petir, lalu turun hujan.
Tidaklah Rasululoh -shollallohu 'alaihi wa sallam- turun (dari khotbah) kecuali air hujan bercucuran dari jenggot beliau -. shollallohu 'alaihi wa sallam- (Diriwayatkan Al Bukhadi 1033 dalam Kitabul Istisqa/Bab Istisqa' fi khutbatil Jum'ah. Muslim 897 dari hadits Anas -radhiyallohu 'anhu- dalam kitabus Sholatil Istisqa/Bab Dua al Istisqa')
Ini adalah perkara nyata yang menunjukkan akan adanya Sang Pencipta dengan bukti hissiyah (perasaan).
Dan dalam Al Qur'an banyak yang seperti ini, misal:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَه
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka kami kabulkan doa'nya”(QS Al Anbiya' 83-84)
✔ Adapun dalil fithrah, sesungguhnya kebanyakan manusia yang tidak melenceng fitrahnya meyakini akan adanya Alloh, sampai pun binatang-binatang ternak beriman akan adanya Alloh. Kisah semut yang diriwayatkan dari Sulaiman -alaihis sholatu wa sallam-. Beliau keluar untuk memohon hujan, lalu beliu mendapati seekor semut yang terlentang pada punggungnya, kaki-kakinya tengadah ke langit, berdoa: Ya Alloh, aku adalah hamba di antara para hambamu, maka janganlah engkau halangi dari kami air (hujan)Mu. Maka beliau berkata: "Kembalilah kalian, sesungguhnya kalian telah diberi hujan dengan doa selain kalian" (As Suyuti menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah dalam Ad darrul Mantsur. Dan Ahmad dalam Az Zuhud. Ibnu Abi Hatim dari Abu Shodiq An Naji. Silahkan dilihat dalam Ijtima'uj Juyusy oleh Ibnul Qoyyim hal 328,321)
Maka fithrah diciptakan untuk mengenal Alloh -azza wa jalla- dan mengesakannya. Dan Alloh ta'ala telah mengisyaratknn hal itu dalam firmanNya:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ .أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Atau agar kamu mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. (QS Al A'raf: 172-173)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dengan fitrahnya untuk mengakui adanya Alloh dan rububiyyahnya. Sama saja apakah kita mengatakan: "Sesungguhnya Alloh mengeluarkan mereka dari punggung Adam dan meminta persaksian mereka", ataupun kita katakan: "Ini adalah sesuatu yang Alloh ta'ala sertakan kepada fitrah mereka berupa persaksian tentangnya". Sesungguhnya ayat ini menunjukkan bahwa manusia mengetahui Robbnya dengan fitrahnya.
Inilah empat bukti yang menunjukkan akan adanya Alloh -ta'ala-.
✔ Adapun dalil Syar'i, yakni karena syariat Alloh ta'aa yang dibawa para rasul mencakup seluruh perkara yang memperbaiki keadaan makhluk menunjukkan bahwa Dzat yang mengutus membawanya adalah Rabb yang Rahim (Maha Penyayang) lagi Hakim (Maha Bijaksana). Terlebih lagi Al-Qur'an yang Mulia ini yang manusia dan jin tidak mampu membuat yang semisalnya.
*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-



0 komentar:
Posting Komentar