“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 09 September 2019

Syarah Aqidah Wasithiyyah – Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- (hal 148 - 156)

Perkataan Mu'allif -rahimahulloh-:
فلا عدول لأهل السنة والجماعة عما جاء به المرسلون؛ فإنه صراط المستقيم؛ صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين

"Maka Ahlus Sunnah wal Jamaah tidaklah berpaling dari apa yang dibawa oleh para Rasul; sesungguhnya ini adalah jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang Alloh telah anugerahkan nikmat atas mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang sholih.

Penjelasan:
* Ucapan muallif:
فلا عدول لأهل السنة والجماعة عما جاء به المرسلون
"Maka Ahlus Sunnah wal Jamaah tidaklah berpaling dari apa yang dibawa oleh para Rasul".
Al-'Udul (العدول)maknanya adalah الإنصراف والإنحراف (berpaling dan menyimpang). Ahlus Sunnah wal jamaah tidak mungkin menyimpang dari apa yang dibawa oleh para Rasul.
Penulis membawakan penafi'an ini tiada lain adalah untuk menjelaskan bahwa karena kesempurnaan ittiba' mereka -radhiyallohu 'anhum- tidak mungkin mereka menyimpang dari apa yang dibwa para Rasul. Mereka berpegang teguh dengan sempurna dan bukan orang yang merubah-rubah sama sekali terhadap apa yang dibawa para Rasul. Justru metode mereka bahwasannya mereka berkata: Kami mendengar dan kami taati dalam masalah hukum, kami mendengar dan kami membenarkan dalam masalah kabar-kabar.

* Ucapan Penulis: "terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul": (yaitu) apa yang dibawa oleh Muhammad -'alaihi shollatu wa sallam- adalah jelas, dan bahwasannya kami tidak berpaling darinya; sebab beliau adalah penutup para nabi. Wajib bagi seluruh hamba untuk mengikutinya. Namun apa yang datang dari selain beliau; apakah Ahlus Sunnah berpaling darinya? Mereka tidak berpaling darinya; sebab apa yang datang dari para Rasul -'alaihimus shollatu wa sallam- dalam masalah pengkhabaran tidaklah bertentangan sebab mereka adalah orang-orang yang benar dan tidak mungkin (khabar-khabar dari nabi sebelumnya -pent) di nasakh(dihapus/diganti) sebab itu adalah khabar. Setiap apa yang dikhabarkan para Rasul tentang Alloh -azza wa jalla- maka itu harus diterima dan pasti benar dan wajib mengimaninya. Misalnya Musa berkata kepada Fir'aun tatkala Fir'aun berkata kepadanya:
قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ * قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

"Berkata Fir'aun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?"
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa" (QS Taha: 51-52)

Maka ditiadakan dari Alloh sifat salah dan lupa; maka bagi kita wajib membenarkan hal tersebut sebab hal itu dibawa oleh Rasul dari Alloh.
قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَا مُوسَىٰ* قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ
"Berkata Fir'aun: "Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?.
Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (QS Thaha: 49-50)
Seandainya ada yang bertanya ke kita: Dari mana kita tahu bahwasannya Alloh memberikan tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya?". Kita katakan dari perkataan Musa, kita mengimaninya. Kita katakan: Alloh memberikan setiap sesuatu bentuknya yang layak baginya. Manusia dengan wajah demikian, onta dengan wajah demikian, sapi dengan wajah demikian dan domba dengan wajah demikian. Kemudian Alloh memberikan petunjuk kepada setiap makhluk kepada kemaslahatannya dan yang bermanfaat baginya. Setiap sesuatu engetahui yang bermaslahat dan bermanfaat baginya. Semut pada hari yang panas menyimpan bahan makanannya di sarangnya, namun tidak menyimpan biji-bijian sebagaimana adanya, namun dia memotong-motong bagian kepala tunasnya agar tidak tumbuh, sebab jika tumbuh akan merusaknya. Apabila datang hujan dan menjadi basah biji-bijian yang ada di sarangnya maka dia tidak membiarkannya dimakan jamur dan busuk. Namun ia menjemurnya diluar sarangnya sampai kering oleh sinar matahari dan angin, kemudia ia memasukkannya.

Namun haruslah diperhatian bahwa apa yang dinisbatkan kepada para nabi terdahulu dibutuhkan padanya dalil yang sahih karena adanya kemungkinan kabar dusta; sebagaimana yang disandarkan kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lebih layak lagi. Dan ucapan penulis -rahimahulloh-:  "dari apa yang dibawa oleh para Rasul", apakah hal ini mencakup hukum-hukum atau perkataan beliau ini dalam permasalahan sifat, sehingga beliau mengkhususkannya mengenai khabar(tentang sifat-sifat Alloh -pent)?

Jika kita mengamati keumuman lafadz; kita katakan : mencakup khabar dan hukum-hukum. Namun jika kita melihat pada konteks maka kita katakan: indikasinya menunjukkan bahwa pernyataan beliau pada permasalahan aqidah, yakni pada permasalahan khabar.
Namun kita katakan: jika perkataan Syaikhul Islam -rahimahulloh-khusus masalah aqidah, maka ini adalah bahasan yang khusus, kita tidak akan membahasnya. Namun jika cakupannya umum maka mencakup hukum-hukum.

Dan hukum-hukum yang dibawa para rasl terdahulu para ulama berselisih pendapat di dalamnya: Apakah menjadi hukum bagi kita jika tidak ada syariat kita yang menyelisihinya? Atau tidak menjadi hukum bagi kita? Yang shahih adalah menjadi hukum juga bagi kita. Bahwasannya apa yang telah ada dari para nabi terdahulu dari permasalahan hukum maka menjadi hukum bagi kita juga kecuali jika ada dari syariat kita yang menyelisihinya. Jika ada dari syariat kita yang menyelisihinya maka kita ikuti syariat kita. Misalnya: sujud penghormatan diperbolehkan dalam syariat nabi Yusuf, Ya'qub dan anak keturunannya, namun dalam syariat kita diharamkan. Demikian pula onta diharamkan atas orang-orang Yahudi:
وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ ۖ
"Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku"(QS Al-An'am: 146)
namun dalam syariat kita halal.

Dengan demikian, bisa saja kita bawa perkataan Syaikhul Islam -rahimahulloh- kepada keumuman khabar dan hukum-hukum. Dan kita katakan: Hukum-hukum yang ada pada syariat para nabi terdahulu maka itu juga berlaku untuk kita kecuali adanya dalil (yang menyelisihinya -pent).

Namun tersisa pertanyaan: Bagaimana kita mengetahui bahwa ini dari syariat para nabi terdahulu?
Kita jawab: Dalam masalah ini kita ada dua metode:
Metode pertama: Al-Qur'an. Metode kedua: AS-Sunnah. Maka apa yang disebutkan oleh Alloh tentang umat-umat terdahulu dalam KitabNya maka itu adalah shahih. Dan apa yang diriwayatkan dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- yang shahih dari beliau maka ini juga shahih.

Dan sisanya: kita tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan kecuali jika ada pada syariat kita membenarkan apa yang disampaikan ahlul kitab maka kita membenarkannya. Bukan karena penukilan mereka namun karena hal tersebut ada pada syariat kita. Dan jika ada pada syariat kita yang mendustakan ahlul kitab maka kita juga mendustakannya karena syariat kita mendustakannya. Orang-orang Nasrani menganggap bahwa Al-Masih (Nabi Isa -alaihis salam-) adalah anak Alloh. Maka kita katakan: ini dusta. Dan Yahudi berkata: 'Uzair adalah anak Alloh; maka kita katakan: ini adalah dusta.

* Perkataan penulis -rahimahulloh ta'ala-:  فإنه صراط المستقيم "Sesungguhnya itu adalah jalan yang lurus". Lafadz (فإنه): Dhomir kembali kepada ما جاء به المرسلون "apa yang dibawa para nabi". Dan mungkin juga kembali kepada "jalannya Ahlus Sunnah wal jamaah" yaitu ittiba' (meneladani) dan tanpa ada penyimpangan darinya. Maka apa yang dibawa para rasul dan apa yangipegangi Ahlus Sunnah wal Jamaah maka itulah As-Shirot Al-Mustaqim (jalan yang lurus).

Kata صراط (jalan) mengikuti wazan فعال maknanya bermakna مصروط (yang dijalani). Misalnya فراش (tempat tidur)  bermakna  مفروش (yang ditiduri). Dan غراش bermakna مغروش yaitu bermakna isim maf'uul. As-Shiroth hanya dikatakan untuk jalan yang luas dan lurus; yang diambil dari Az-Zarth yaitu menelan suapan dengan cepat. Sebab, jika jalan itu luas tidak ada padanya kesempitan yang meghalangi orang yang melewatinya. As-Shiroth para ahli bahasa mendefinisikan: setiap jalan yang luas yang tidak ada padanya tanjakan, turunan maupun belokan.

Dengan demikian, jalan yang dibawa oleh para Rasul adalah jalan yang lurus yang tiada padanya kebengkokan dan tidak pula mendaki. Jalan yang lurus tidak ada padanya simpangan ke kanan maupun kek kiri:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ
"dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia" (QS Al-An'am: 53).
Maka kata mustaqim (lurus) adalah sifat yang mengungkap penafsiran kami tentang as-Shirath bahwa maksudnya adalah jalan yang luas yang tidak ada kebengkokan padanya; inilah yang disebut mustaqim (lurus). Atau bisa dikatakan bahwasannya As-Shirath adalah  sifat yang muqayyad(terikat pada keadaan tertentu); sebab pada sebagian siroth(jalan) terkadang tidaklah mustaqim (lurus), sebagaimana firman Alloh ta'ala:
فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ* وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
"Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya" (QS As-Shoffat: 23-24).
Ini adalah jalan yang tidak lurus.

* Perkataan Penulis:
صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين
"jalannya orang-orang yang Alloh telah anugerahkan nikmat atas mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang sholih.
"jalannya orang-orang yang Alloh telah anugerahkan nikmat atas mereka" yaitu thoriqah mereka. Dan disandarkan kepada mereka sebab merekalah yang menempuhnya; merekalah yang berjaan di atasnya sebagaimana Alloh terkadang menyandarkannya kepada diriNya.
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi" (As-Syura': 52-53)
dari sisi bahwa Dialah yang menyariatkan dan menetapkannya untuk para hambaNya. Dan jalan ini yang akan mengantarkan kepadaNya. Ini adalah jalan Alloh -ta'ala- dari dua sisi. Jalannya orang-orang yang beriman dari satu sisi; dan jalannya Alloh dari dua sisi; yaitu bahwasannya Dialah yang menetapkannya untuk hamba-hambaNya dan yang mengantarkan kepadaNya. Dan jalannya orang-orang yang beriman karena mereka sendirilah yang menempuhnya.

* Perkataan Penulis الذين أنعم الله عليهم "yaitu orang-orang yang Alloh telah anugerahkan nikmat atas mereka".
Nikmat yaitu seluruh anugerah dan kebaikan dari Alloh -azza wa jalla- kepada para hambaNya; inilah nikmat. Setiap kenikmatan yang ada pada kita semuanya dari Alloh. Nikmat-nikmat Alloh ada dua: Nikmat umum dan nikmat khusus. Nikmat khusus juga terbagi dua: kekhususan yang khusus dan kekhususan yang umum.

Nikmat umum yaitu nikmat yang Alloh berikan kepada orang-orang yang beriman dan orang kafir.
Oleh karenanya; seandainya ada orang yang bertanya kepada kita: Apakah ada nikmat Alloh untuk orang-orang kafir?
Kita katakan: Ya. Namun ini adalah nikmat yang umum; yaitu nikmat untuk menguatkan badan bukan nikmat untuk kebaikan agama, semisal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan yang serupa dengan itu. Ini semua ada pada orang mukmin dan orang kafir.

Nikmat yang khusus: yaitu kenikman yang membawa kebaikan kepada agama berupa keimanan, ilmu dan amal shalih. Maka ini khusus untuk orang mukmin dan umum diberikan kepada para nabi dan shodiqin seperti para syuhada dan orang-orang yang shalih.
Akan tetapi nikmat Alloh kepada para nabi dan rasul inilah nikmat yang paling khusus. Perhatikan firman Alloh ta'ala:
وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

"Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu".(QS An-Nisa': 113)
Ini adalah nikmat yang paling khusus yang orang-orang mukmin tidak bisa menyamai para nabi, bahkan orang-orang mukmin di bawah para nabi dan rasul.

Ucapan penulis "jalannya orang-orang yang Alloh telah anugerahkan nikmat atas mereka" hal ini sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka"(QS Al Fatihah: 6-7)

Lalu siapakah orang-orang yang Alloh anugerahi nikmat atas mereka itu?
Alloh -ta'ala- menjelaskan dalam firmanNya:
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh". (QS An-Nisa': 69).
Mereka ini ada empat kelompok:
PERTAMA: Para Nabi; mereka adalah setiap orang yang diberi wahyu dan diberi kabar oleh Alloh. Mereka masuk pada ayat ini. Masuk padanya para rasul karena setiap Rasul adalah Nabi dan tidak setiap nabi adalah rasul. Berdasarkan hal ini maka para nabi mencakup juga para rasul ulul 'azmi dan selainnya; dan termauk juga para nabi yang tidak diutus (kepada kaumnya). Mereka ini adalah kelompok manusia yang paling tinggi.

KEDUA: Orang-orang yang shiddiqun; jama' dari shiddiq; sesuai dengan wazan fa'iil; bentuk shigoh mubalaghah. Lalu siapa orang-orang shiddiq ini?
Penjelasan yang paling tepat adalah firman Alloh -ta'ala-:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ
"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya" (QS Az-Zumar: 33)
Dan firmanNya:
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ ۖ

"Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien"(QS Al-Hadid: 19)
Maka orang yang merealisasikan iman - dan tidaklah realisasi iman kecuali dengan kejujuran dan pembenaran- mereka inilah shiddiq:
Kejujuran dalam aqidah: dengan keikhlasan; dan ini yang paling berat bagi seseorang, sampai sebagian salaf berkata: "Tidaklah pernah aku bersungguh-sungguh pada diriku untuk melakukan sesuatu sebagaimana kesungguhanku untuk bisa ikhlas". Maka mestilah harus jujur dalam tujuan -yaitu aqidah- dan ikhlas untuk Alloh -azza wa jalla-.

Kejujuran dalam ucapan: tidaklah seseorang itu berucap kecuali sesuai dengan keadaannya; baik atas dirinya maupun kepada selain dirinya. Dia tegak dengan keadilan kepada dirinya dan kepada orang lain; baik bapaknya, ibunya, saudara ataupun saudarinya dan selain mereka.

Jujur dalam perbuatan:yaitu hendaklah perbuatan-perbuatannya sesuai dengan yang dibawa oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dan termasuk jujurnya perbuatan adalah hendaknya lahir dari keikhlasan. Jika tidak lahir dari keikhlasan maka tidak ada kejujuran sebab perbuatannya menyelisihi ucapannya.
Dengan demikian orang yang jujur adalah orang yang benar dalam keyakinannya, keikhlasannya, kehendaknya, ucapan-ucapannya dan perbuatan-perbuatannya.

As-Shiddiq yang paling utama secara mutlak adalah Abu Bakar -radhiyallohu 'anhu-; sebab sebaik-baik umat adalah umat ini (umat Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam-pent) dan seutama-utama umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar -radhiyallohu 'anhu-.

As-Shiddiqah adalah kedudukan yang ada pada laki-laki dan perempuan. Alloh -ta'ala- berfirman tentang Isa bin Maryam: وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ "dan ibunya adalah seorang yang amat benar" (QS Al-Maidah: 75). Dan dikatakan As-Shiddiqah bintu As-Shiddiq 'Aisyah -radhiyalloh 'anha-. Alloh -ta'ala- memberikan anugerah kepada siapa yang dikehendakiNya dari para hambaNya.

Adapun SYUHADA; maka dikatakan: mereka adalah orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ
"dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'".(QS Ali Imran: 140)
Dan dikatakan bahwa maksudnya adalah ulama. Dan firman Alloh -ta'ala-:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), (Yang menegakkan keadilan). Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)" (QS Ali Imran: 18).
Maka orang-orang yang berilmu dijadikan saksi terhadap apa yang Alloh persaksikan atas diriNya, dan karena ulama mempersaksikan para rasul telah menyampaikan (risalah) dan telah menunaikan dakwah kepada umatnya. Seandainya ada yang mengatakan: Ayat-ayat ini umum untuk orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh -ta'ala- dan untuk para ulama karena lafadz ini sesuai pada dua sisi dan tidak saling mentiadakan sehingga mencakup orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh -ta'ala- dan para ulama  yang mereka mempersaksikan keesaan Alloh dan mempersaksikan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau telah menyampaikan (risalahnya) dan mereka bersaksi atas umat bahwa mereka telah didakwahi.

Adapun ORANG-ORANG SHALIH- mencakup tiga golongan sebelumnya dan orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. Maka para Nabi adalah orang-orang sholih, Shiddiqun adalah orang-orang sholih dan syuhada juga adalah orang-orang shalih. Athafnya adalah athaf umum atas khusus.

Orang-orang shalih adalah mereka yang menegakkan hak Alloh dan hak hamba-hambaNya namun tidak berada pada tingkatan sebelumnya -yaitu kenabian, shiddiqah, dan syuhada- namun mereka berada dibawah tingkatan tersebut.

Ini adalah jalan yang dibawa oleh para rasul, jalannya empat golongan tersebut. Adapun selain mereka tidaklah berjalan di atas risalah para nabi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)