Ucapan Penulis -rahimahulloh-
فسبح نفسه عما وصفه به المخالفون للرسول، وسلّم على المرسلين لسلامة ما قالوه من النقص والعيب
"Maka Alloh mensucikan diriNya atas apa yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi Rasululloh dan menyampaikan akan selamatnya para rosul karena selamatnya ucapan mereka tentang Alloh dari sifat kurang dan tercela".
Penjelasan:
Makna kalimat ini telah jelas, dan tetap dikatakan: Alloh memuji diriNya karena kesempurnaan sifatNya yang dinyatakan oleh diriNya dan para RasulNya. Sesungguhnya Alloh -subhanahu wa ta'ala- terpuji atas kesempurnaan sifatNya dan diutusnya para Rasul yang hal tersebut karena rahmat bagi manusia dan kebaikan untuk mereka.
************
Ucapan Penulis -rahimahulloh-:
وهو سبحانه قد جمع فيما وصف وسمّى به نفسه بين النفي والإثبات
"Dan Alloh -subhanahu wa ta'ala- telah menggabungkan dalam pensifatan dan penamaan diriNya antara nafi' (peniadaan) dan itsbat (penetapan).
Penjelasan:
Penulis -rahimahulloh- menjelaskan dalam kalimat ini bahwa Alloh -ta'ala- menggabungkan dalam pensifatan dan penamaan diriNya antara peniadaan dan penetapan, demikian itu karena puncak kesempurnaan tidaklah ada kecuali dengan penetapan sift kesempurnaan dan peniadaan dari lawannya berupa sifat-sifat yang kurang. Penulis -raimahulloh- memberikan faidah pada kita bahwa shifat-shifat Alloh ada dua:
1. Shifat Mutsbitah; sebagian menyebutnya dengan shifat Subutiyah.
2. Shifat Manfiyah; dan mereka ada yang menyebut shifat Salbiyah; dari kata as-salbu yang berarti nafi (peniadaan). Tidak mengapa kita menyebutnya salbiyah;meski sebagian orang tawaquf (tidak memakai istilah ini) dan berkata: "Kita tidak menamakannya salbiyah namun kita katakan manfiyah'.
Kita katakan: "Selama Salbiyah secara bahasa bermakna Manfiyah; maka perbedaan lafadz tidaklah mengapa.
Dengan demikian sifat Alloh -azza wa jalla- ada dua: Subutiyah dan Salbiyah; atau jika mau bisa kau katakan: Mutsbitah (sifat yag ditetapkan) dan Manfiyah (sifat yang ditiadakan); dan maknanya sama.
Mutsbitah: Setiap sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya. Semuanya adalah sifat yang sempurna. Tidak ada padanya sifat yang kurang dari seluruh sisiNya. Dan termasuk kesempurnaannya, bahwasannya tidak mungkin sifat yang ditetapkanNya menunjukkan kepada tamtsil (keserupaan dengan makhlukNya); karena tamtsil kepada makhluk adalah sifat yang kurang.
Misalnya mereka berkata: "seandainya kita menetapkan wajah bagi Alloh; mengharuskan keserupaan dengan wajah-wajah makhluk. Pada saat itu wajib mentakwilkan maknanya kepada makna yang lain bukan kepada mkna wajah yang hakiki".
Kita katakan kepadanya: "Setiap shifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya adalah sifat yang sempurna dan tidak mungkin selamanya dari shifat-shifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya terdapat shifat-shifat yang kurang".
Namun; apabila ada yang bertanya: "Apakah sifat-sufat tersebut tauqifiyah seperti nama-nama Alloh, ataukah ijtihadiyah? Maksudnya, bahwa boleh bagi kita untuk mensifati Alloh -subhanahu wa ta'ala- dengan sesuatu yang Alloh tidak shifatkan untuk diriNya?
Jawabnya kita katakan: "Bahwasannya sifat-sifat Alloh adalah tauqifiyah menurut pendapat yang masyhur dikalangan ulama, sebagaimana nama-nama Alloh, maka janganlah engkau mensifati Alloh kecuali dengan sesuatu yang Alloh shifatkan untuk diriNya".
Dan, ketika itu bisa kita katakan: "Shifat-shifat Alloh terbaagi kepada tiga kelompok: sifat yang sempurna secara mutlak, sifat yang sempurna yang muqayyad (terikat dengan kondisi tertentu) dan sifat yang naqis(kurang) secara mutlak.
Ada pun shifat yang sempurna secara mutlak; maka ditetapkan untuk Alloh -azza wa jalla-; seperti mutakallim (berbicara), melakukan yang dikehendaki, yang Maha Mampu ... dan yang serupa dengan itu.
Adapun shifat sempurna yang muqayyad (terikat kondisi tertentu); maka yang ini tidaklah disifatkan kepada Alloh secara mutlak kecuali secara muqayyad. Misal: Al-Makru (makar), Al-Khida' (menipu), Al-Istihza' (memperolok-olok), dan yang serupa dengan itu. Ini adalah sifat sempurna yang muqayyad. Jika membalas orang-orang yang berbuat demikian maka ini adalah kesempurnaan. Namun jika disebutkan secara mutlak maka tidaklah benar jika dinisbatkan kepada Alloh 'azza wa jalla. Dengan demikian tidaklah benar memutlakkan sifatnya dengan Al-Makar(pembuat tipu daya) atau Al-Mustahzi'(yang mengolok-olok) atau Khadi'(penipu); namun dimuqayyadkan. Maka kita katakan: Alloh Makir (pembuat makar) kepada orang-orang yang berbuat makar; mustahzi'(memperolok-olok) kepada orang-orang munafik; khadi'(menipu) kepada orang-orang munafik dan Kaid(pembuat tipu daya) kepada orang-orang kafir. Maka sifat-sifat ini di kaitkan; sebab sifat-sifat ini tidaklah datang kecuali dalam keadaan muqayyad.
Adapun sifat Naqish(yang menunjukkan sifat tidak sempurna) secara mutlak maka tidaklah diifatkan kepada Alloh bagaimana pun keadaannya. Seperti lemah, khianat, buta dan tuli; sebab semua ini adalah naqis secara mutlak; maka tidaklah boleh Alloh disifati dengannya. Lihatlah perbedaan antara Khodi' (menipu) dan Kho'in(khianat). Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka".(QS An-Nisa': 142)
Maka ditetapkan sifat 'penipu' bagi Alloh kepada orang yang menipuNya. Namun Alloh berfirman tentang khianat:
وَإِن يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِن قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ ۗ
"Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka" (QS Al-Anfal: 71)
Alloh tidak mengatakan: "Lalu Alloh berkhianat kepada mereka"; sebab khianat adalah penipuan dalam hal amanah, dan menipu dalam perkara amanah adalah naqis dan tidak ada pujian padanya selamanya.
Dengan demikian; sifat naqis ditiadakan dari Alloh secara mutlak.
Dan shifat-shifat yang diambil dari nama-namaNya adalah sempurna dalam segala keadaan dan Alloh -azza wa jalla- telah menyandang sifat dengan yang ditunjukkannya. Mendengar adalah sifat kesempurnaan yang ditunjukkan dengan namaNya As-Samii' (Maha Mendengar). Setiap sifat yang ditunjukkan atas nama-namaNya maka itu adalah sifat yang sempurna yang ditetapkan untuk Alloh secara mutlak. Dan ini kita jadikan sebagai bagian yang terpisah karena tidak ada perincian di dalamnya. Dan selainnya terbagi kepada tiga klasifikasi yang telah terdahulu penjelasannya. Oleh karenanya Alloh tidak menamakan dirinya dengan Al-Mutakallim (yang Maha Berbicara) meski Dia berbicara. Karena kalam (berbicara) terkadang baik dan terkadang buruk, dan terkadang tidak baik dan tidak buruk. Keburukan tidak disandarkan kepada Alloh. Demikian pula sendau gurau tidak dinasabkan kepada Alloh karena hal itu adalah kebodohan. Dan kebaikan disandarkan kepada Alloh. Oleh karenanya Dia tidak menamai diriNya dengan Al-Mutakallim (Maha Berbicara), karena nama-namaNya sebagaimana yang Alloh -azza wa jalla- mensifatinya:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna" (QS Al-A'raf: 180)
maka tidak ada padanya sesuatu yang kurang. Oleh karenanya nama-nama ini ada dengan isim tafdhil(superlatif) secara mutlak.
Apabila ada yang bertanya: "Kami paham sifat-sifat dan pembagiannya; lalu apa metode untuk menetapkan sifat yang senantiasa kita katakan: Sesungguhnya sifat-sifat itu tauqifiyah?".
Kita jawab: Di sana ada beberapa metode untuk menetapkan sifat-sifat Alloh.
Metode Pertama: dengan penunjukkan dari nama-nama (Alloh)atasnya, sebab setiap nama mengandung sifat. Oleh karenanya kita katakan terdahulu: Sesungguhnya setiap dari nama-nama Alloh menunjukkan akan Dzat-Nya dan shifat(Nya) yang merupakan derivat (makna turunan) darinya.
Metode Kedua: disebutkan sebagai shifat(Alloh). Misal: Wajah, Dua tangan, Dua mata dan lain sebagainya. Maka ini (disebutkan) dengan nash dari Alloh 'azza wa jalla-. Misalnya juga 'al-intiqoom' (balasan). Alloh ta'ala berfirman tentangnya:
إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ
"Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan".(QS Ibrahim: 47)
Bukanlah termasuk dari nama Alloh Al-Muntaqim (Yang membalas); hal ini berbeda dengan yang didapati di sebagian kitab-kitab yang di dalamnya memasukkannya sebagai nama Alloh; sebab 'Al-Intiqam' hanyalah ada dalam bentuk sifat atau isim fail secara muqoyyad(terikat dengan keadaan tertentu), sebagaimana firman Alloh:
إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
"Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa". (QS As-Sajdah: 22)
Metode Ketiga: diambil dari fi'il (perbuatan Alloh); misal: Al-Mutakallim (Yang Berbicara); kita mengambilnya dari:
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung". (QS An-Nisa': 164)
Ini adalah metode-metode yang dengannya sifat-sifat Alloh ditetapkan. Berdasarkan hal itu kita katakan: Sifat Alloh lebih umum dari pada nama-namaNya; sebab setiap nama menunjukkan akan sifat dan tidak setiap sifat menunjukkan akan nama.
Adapun sifat-sifat yang ditiadakan dari Alloh 'azza wa jalla maka banyak, namun yang ditetapkan lebih banyak, sebab sifat-sifat yang ditetapkan semuanya sifat-sifat sempurna sehingga tatkala banyak dan bermacam-macam maka nampak kesempurnaan yang disifati lebih banyak lagi dan sifat yang ditiadakan sedikit. Oleh karenanya kita dapati bahwa sifat-sifat yang ditiadakan kebanyakannya datang dalam bentuk umum bukan dikhususkan dengan sifat tertentu. Dan yang dikhususkan dengan sifat tertentu tidaklah ada kecuali dengan suatu sebab; misal (dalam rangka) mendustakan klaim (anggapan) bahwa Alloh bersifat dengan sifat tertentu yang Alloh tiadakan dari diriNya atau menolak anggapan sifat tersebut yang Alloh tiadakan (dari diriNya).
Pembagian pertama: Umum; sebagaimana firman Alloh ta'ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat". (Asy-Syura: 11)
Tidak ada yang semisal denganNya dalam ilmuNya, kemampuanNya, pendengaranNya, penglihatanNya, kemulianNya, hikmahNya, rahmatNya dan selainnya dari sifat-sifatNya. Tidaklah dirinci, bahkan Alloh berfirman: Tidak ada yang serupa dengan Dia. Ini adalah peniadaan yang umum dan global yang menunjukkan kepada kesempurnaan yang mutlak. 'Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia' pada seluruh kesempurnaan.
Ada pun apabila disebutkan secara terperinci maka engkau tidak akan mendapatinya kecuali dengan suatu sebab; sebagaimana firman Alloh ta'ala:
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِن وَلَدٍ
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak" (QS Al-Mukminuun: 91)
sebagai penolakan terhadap orang yang berkata: Sesungguhnya Alloh memiliki anak. Dan firmanNya:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
"Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan"(QS Al-Ikhlas: 3) demikian pula.
Dan firman Alloh -ta'ala-:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ
"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan". (QS Qaaf: 38)
sebab menurut pikiran orang yang tidak mengagungkan Alloh dengan sebenar-benarnya pengagungan bahwa langit-langit dan bumi-bumi yang agung apabila Alloh menciptakannya dalam 6 hari niscaya akan mengalami kelelahan. Maka Alloh berfirman: "dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan" yakni keletihan dan kecapekkan.
Maka menjadi jelas dengan hal ini bahwa nafi'(peniadaan) tidak dijumpai dalam sifat-sifat Alloh -azza wa jalla- kecuali dalam bentuk umum atau dalam bentuk khusus dengan suatu sebab; sebab sifat-sifat salbiyah (yang ditiadakan dari Alloh) tidaklah terkandung kesempurnaan kecuali apabila terdapat penetapan. Oleh karenanya kita katakan: Sifat salbiyah yang Alloh tiadakan dari diriNya terkandung penetapan kesempurnaan dari kebalikannya. FirmanNya:
وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ
"dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan". (QS Qaaf: 38)
mengandung kesempurnaan kekuatan dan kemampuan. Dan firmanNya:
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
"Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS Al-Kahfi: 49)
mengandung kesempurnaan keadilanNya. Dan firmanNya:
وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." (QS Al-Baqarah: 85)
mengandung kesempurnaan pengetahuan dan pengawasan, demikian seterusnya.
Dengan demikian pastilah sifat manfiyah 9yang di tiadakan dari Alloh) mengandung penetapan (sifat sebaliknya). Dan penetapan tersebut adalah kesempurnaan dari kebalikan sifat yang ditiadakan. Jika tidak demikian maka tidak ada pujian.
Tidak ada dalam sifat manfiyah dari Alloh sekedar peniadaan saja, sebab hanya peniadaan saja berarti tidak ada, dan sesuatu yang tidak ada tidak dianggap apa-apa; tidak ada pujian dan sanjungan padanya, karena terkadang disebabkan ketidakmampuan sehingga menjadi celaan; dan terkadang karena bukan kapasitasnya sehingga tidak menjadi pujian dan celaan.
Misal yang pertama karena ketidakmampuan adalah perkataan penyair:
قبيلة ﻻيغدرون بذمة وﻻ يظلمون الناس حبة خردل
"Kabilah yang lemah yang tidak menghianati janji dan tidak pula mendzalimi orang lain sedikit pun"
Contoh yang kedua karena bukan kapasitasnya; engkau katakan: "sesungguhnya tembok kami tidak mendzolimi siapa pun".
Dan yang wajib bagi kita terhadap sifat-sifat yang Alloh tetapkan untuk diriNya dan yang dinafi'kannya adalah mengatakan: kami mendengar, akmi membenarkan dan kami mengimaninya.
Ini adalah sifat-sifat yang padanya terdapat penetapan dan penafi'an. Adapun Nama-nama Alloh maka semuanya ditetapkan (untuk Aloh).
Namun nama-nama Alloh -ta'ala- yang mutsbatah (ditetapkan) di antaranya ada yang menunjukkan kepada makna ijabi(penetapan) dan di antaranya juga ada yang menunjukkan kepada makna salbi (penafi'an/peniadaan). Dan ini adalah sumber pembagian dalam penafian dan penetapan yang berhubungan dengan nama-nama Alloh.
Contoh yang menunjukkan pada ijabi (penetapan) adalah banyak.
Dan contoh yang menunjukkan salbi (peniadaan) adalah as-salam. Makna As-Salam; berkata para ulama bahwa maknanya: Selamat dari setiap kekurangan; dengan demikian yang menunjukkan salbi, dengan makna tidak ada padaNya kekurangan dan tidak pula aib. Demikian pula Al-Qudus yang dengan dengan makna As-Salam karena maknanya : tersecikan dari setiap kekurangan dan aib.
Dengan demikian ungkapan penulis benar dan tepat yaitu bahwa yang berhubungan dengan nama-nama Alloh tidak ada di sana nama-nama yang manfiah(yang mengandung peniadaan) karena nama-nama manfiah bukanlah nama Alloh; tapi maksudnya bahwa yang ditunjukkan nama-nama Alloh ada yang Subutiyah dan ada yang Salbiyah.



0 komentar:
Posting Komentar