“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 28 Oktober 2019

Syarah Mandzumah Qawaidul Fiqhiyah - Pujian dan Sanjungan Kepada Alloh -ta'ala-


Bait 1:
الحمد لله العلي الأرفق # و جامعِ الأشياء و المفرِّق
#1 Segala puji bagi Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Lembut (kepada hambaNya -pent),
Yang mengumpulkan segala sesuatu dan memisah-misahkannya"

* Adapun الحمد (alhamdu) maknanya adalah pujian kepada Alloh dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, kesempurnaan nikmat-nikmatNya, keluasan kemurahanNya, dan keindahan hikmah-hikmahNya karena Dia memiliki kesempurnaan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan. Tidak ada dalam nama-namaNya suatu yang tercela, bahkan seluruh namaNya adalah husna (indah). Dan tidak ada dalam sifat-sifatnya suatu yang kurang dan tercela bahkan sifat-sifat itu adalah sifat-sifat yang sempurna dari segala sisi. Dan Allah ta'ala memiliki kebaikan dalam seluruh perbuatanNya, karena perbuatan-perbuatanNya berporos pada keadilan dan ihsan (kebaikan). Dan Dia terpuji karena hal ini, dan karena hal inilah menjadi sempurna pujian.
Dan lafadz "Alloh" adalah ma'luuh al ma'buud (yang disembah dan diibadahi), yang berhak untuk diibadahi. Diibadahi dengan seluruh jenis ibadah tidak disekutukan sesuatu pun denganNya karena kesempurnaan pujianNya.

Lafadz "Al 'Aliy" yang baginya ketinggian yang sempurna secara mutlak dari seluruh sisi. Ketinggian DzatNya, ketinggian kemampuanNya, dan ketinggian kekuasaanNya.
Lafadz "Al-Arfaq" yaitu Ar-Rafiiq (Maha Lembut) dalam segenap perbuatanNya. Maka seluruh perbuatanNya adalah kelembutan yang berada di puncak kemaslahatan dan kebijaksanaan.
Dan Alloh -ta'ala- telah memperlihatkan tanda-tanda kelembutanNya kepada para hambaNya yang dengannya mereka bisa menemukan bukti akan kesempurnaanNya, dan kesempurnaan kebijaksanaan dan kelembutanNya. Sebagaimana dalam penciptaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam hari, padahal Dia Maha Mampu untuk menciptakannya dengan sekejap mata. Demikian pula penciptaan manusia, hewan-hewan, tetumbuhan yang bermacam-macam jenisnya. Dia menciptakannya tahap demi tahap sampai menjadi lengkap dan sempurna, padahal Dia mampu untuk menciptakan semua itu sekejap mata. Akan tetapi Dia Maha Lembut dan Maha Bijaksana. Dan termasuk kebijaksanaan dan kelembutanNya adanya proses dalam hal ini dan tidaklah hal itu menafikkan kemampuan dan hikmahNya.

Sebagaimana juga Dia menetapkan adanya hidayah dan kesesatan, akan tetapi hikmahNya mengharuskan tetapnya mereka dalam kesesatan sebagai bentuk keadilan bukan kedzaliman, karena anugerah keimanan dan hidayah murni dari fadhilahNya. Apabila Dia tidak memberikannya kepada seseorang tidaklah terhitung sebagai kedzaliman. Terlebih lagi apabila kondisinya bukan orang yang siap menerima nikmat tersebut.

Seluruh sifat-sifatNya memiliki pengaruh dalam penciptaan dan pengaturanNya. Tidak saling menafikkan. Barang siapa memahami permasalahan pokok yang agung ini niscaya akan terurai darinya keruwetan-keruwetan dalam memahami asma Alloh dan sifat-sifatNya dan menempatkan setiap nama-nama Alloh sesuai kedudukannya yang semestinya.

Dan perkataanku: "Dia mengumpulkan segala sesuatu dan memisah-misahkan"

Alloh -ta'ala- yang mengumpulkan segala sesuatu dalam suatu keadaan dan memisah-misahkannya dalam keadaan yang lain. Sebagaimana Dia mengumpulkan makhluknya dalam keadaan Dia telah menciptakan dan memberikan rezekinya. Dan Dia membedakan di antara mereka dalam hal jenis dan fisik, tinggi dan pendek, hitam dan putih, rupawan dan jelek, dan sifat-sifat lainnya.
Semua ini berasal dari kesempurnaan kemampuanNya dan hikmahNya, dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing yang sesuai. Allohu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)