“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Kamis, 21 November 2019

Hukum menyertakan anak kecil yang belum Tamyiz ke dalam shof sholat

Pertanyaan:
Sebagian orang yang sholat dengan sengaja membawa anak-anak mereka ke masjid; umumnya umurnya antara 2 sampai 6 tahun. Jika sudah iqomah anak putra atau putri tersebut dibariskan bersama orang tuanya ke dalam shof laki-laki. Apakah ini boleh? Jazakumullohu khoiron.

Jawab:
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
Anak kecil jika sudah sampai umur 7 tahun -yang merupakan awal dari usia tamyiz menurut pendapat yang shahih- maka boleh bershof bersama laki-laki sebab dia sudah diperintahkan sholat berdasarkan sabda nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
"Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan sholat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah (ketika mereka tidak mau mengerjakannya -pent) pada usia 10 tahun"(1)(2)
Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma- pernah sholat bersama Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu beliau memegang kepalanya dan menggeser beliau ke sebelah kanan beliau (3). Demikian pula diimami anak kecil adalah sah apabila dia lebih hafal kitabulloh (Al-Qur'an) dari pada selainnya -sebagaimana yang telah sahih dalam hadits Amr bin Salamah -radhiyallohu 'anhu- bahwa dia mengimami manusia sedangkan dia berumur 7 tahun. Maka masuk barisan shof lebih boleh lagi. 
Jika tidak usia tamyiz maka dia tidak diperintahkan sholat dan tidak memutus shof sholat berdasarkan hadits Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu- ia berkata:
فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصَفَفْتُ أَنَا وَاليَتِيمُ وَرَاءَهُ، وَالعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ
"Kemudian aku berdiri di tikar milik kami yang telah menghitam karena lama digunakan. Lalu aku memercikinya dengan air. Kemudian Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berdiri di atasnya. Aku dan seorang anak yatim berbaris di belakang beliau sedangkan orang-orang lemah (renta) di belakang kami. Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salam- mengimami sholat kami dua rekaat lalu kembali"(5)
Yang nampak dari lafadz "yatim" dalam hadits ini adalah anak kecil. Yatim yaitu anak kecil yang kehilangan bapaknya sebelum baligh (6) tanpa ada beda antara mumayiz dan bukan mumayiz; dan tidak dijadikan perbedaan kecuali dengan dalil. Syaukani -rahimahulloh- berkata: "Dalam hadits ini bahwa anak kecil merapatkan pundaknya" (7)

Adapun menyamakan anak kecil yang belum mumayiz dengan tiang atau dengan orang yang tidak sah sholatnya seperti orang kafir, atau wanita bersama laki-laki; maka ini adalah qiyas yang jelas perbedaannya antara orang berakal dan benda mati, antara muslim dan kafir dan antara laki-laki dan perempuan.

Adapun anak kecil perempuan maka di dua kondisi yakni mumayiz atau belum mumayiz maka tidak shaf satu shaf dengan kau laki-laki karena perbedaan jenis dan dia memutus shof sebab ada dan tidak adanya sama.

Jika orang tua si anak perempuan terpaksa harus menjaganya untuk sholat jamaah maka hendaklah si anak ikut sholat di bagian tepi shaf; sebelah kanan atau sebelah kiri sehingga dia (orang tua si anak) menjadikannya seperti bagian akhir tersendiri pada rangkaian shof agar tidak memutus shaf. Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah sholat dengan membawa Umamah binti Zainab -radhiyallohu 'anhuma- di pundaknya (8) sampai orang-orang tahu bahwa perbuatan semacam ini diperbolehkan dalam sholat ketika sangat dibutuhksn dan sangat diperlukan.

Bagaimana pun, saya tidak mengetahui adanya dalil yang menetapkan batalnya sholat di kondisi tersebut di atas dengan sebab merusak kelurusan shaf atau ketidak teraturannya.

Hal ini, layak untuk menjadi perhatian bahwa anak kecil yang belum tamyiz jika nampak bandel dan ceroboh atau melakukan hal yang mengganggu di masjid maka yang lebih utama adalah tetap di rumahnya bersama keluarganya sebab dia belum diperintahkan menegakkan sholat ini yang pertama; dan ia mengganggu dengan kebandelan dan tingkahnya kepada orang yang sholat, ini yang kedua. Secara asal kita diperintahkan untuk menghilangkan kemudharatan dan gangguan karena keumuman sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
"Tidak diperbolehkan hal yang berbahaya dan membahayakan" (9)
selama orang tuanya tidak terpaksa untuk menemaninya, (jika terpaksa menemaninya maka diperbolehkan) dengan ditunjukkan dalil hadits Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- menggendong Umamah binti Zainab -radhiyallohu 'anhuma-.(10)
Namun jika perilaku anak tidak bandel dan membuat ribut maka boleh mengajaknya ke masjid sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melihat Hasan bin Ali -radhiyallohu 'anhuma- ketika beliau ada di atas mimbar lalu bersabda:
«إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ»
"Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Alloh mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin dengan perantara dirinya" (11)
Dan yang diriwayatkan An-Nasa'i dan Ahmad dari jalan Abdullah bin Syaddad dari bapaknya yakni Syaddad bin Hadi -radhiyallohu 'anhu- beliau berkata:

«خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ العَشِيِّ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا»، قَالَ أَبِي: «فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: «يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ»، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي؛ فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»»

"Rasalulloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- keluar menemui kami di salah satu sholat petang sedangkan beliau membawa Hasan atau Husain. Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- maju kedepan dan meletakkannya kemudian bertakbir untuk memulai sholat. Kemudian beliau sholat di tengah sholatnya dengan sujud yang lama". BApakku berkata: Maka aku mengangkat kepalaku dan ternyata anak kecil itu di atas punggung Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sedangkan beliau dalam keadaan sujud. Maka aku pun kembali sujud. Tatkala Rasululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- selesai dari sholatnya maka para sahabat berkata: Wahai Rasululloh, Engkau sujud di tengah sholat dengan sujud yang engkau panjangkan sampai kami menyangka telah terjadi sesuatu atau telah turun wahyu kepadamu". Beliau bersabda: "Semua itu tidak terjadi, akan tetapi anakku ini menunggangiku dan aku tidak ingin tergesa-gesa untuknya sampai keinginannya terpenuhi" (12). Dan ulama berdalil dengan kedua hadits ini tentang bolehnya memasukkan anak kecil ke masjid.
Adapun hadits:
جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِينَكُمْ
"Jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak kecil kalian dan orang-orang gila" (13)
Maka tidak bisa diangkat untuk berhujah dengannya karena sangat lemah sebagaimana yang dijelaskan Al-Albani -rahimahulloh-.
Dan ilmunya ada di sisi Alloh -ta'ala-

Catatan:
(1). Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam "As-Sholah" bab: Kapan seorang anak diperintahkan sholat? (No 495) dari hadits Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya Abdullah bin Ar -radhiyallohu 'anhuma. Hadits ini di hasankan An-Nawawi dalam Al-Khulashoh (1/252) di shahihkan Ibn Mulaqqin dalam Al-Badru Al-Munir (3/238) dan Al-Albani dalam Al-Irwa' (1/266).
(2). Lihat Mas'alatal Amri Bis Sholah dalam fatwa no 1049. Al-Mausu'ah: في صفة الأمر في قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «مُرُوا أولادَكم بالصلاة ..
(3). Muttafaqun 'alaih: dikeluarkan Al-Bukhari di dalam Al-Ilmu bab As-Samaru fil Ilmi (117) dan Muslim dalam Sholat Musafirin (763) dari hadits Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma.
(4). Dikeluarkan A-Bukhari dalam A-Maghazi bab Man Syahida Fath(4302)
(5). Dikeluarkan Al-Bukhari dalam As-Sholah bab As-Sholatu 'alal Hashri (380) dan Muslim dalam Al-Masajidu wa Mawadhi'us Sholah (658)
(6). Nihayah oleh Ibni Atsir (5/291).
(7). Nailul Authar oleh Asy-Syaukani 4/90
(8). Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam As-Sholah pada bab hamala jariyatan shogirotan ala 'unuqhi fis Sholah (516); dan Muslim dalam Al-Masajidu wa Mawadhius Sholah (543) dari hadits Abu Qatadah -radhiyallohu 'anhu-.
(9). Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Al-Ahkam bab man banaa fi haqqihi maa yadhurru bijaarih (2341) dari hadits Ibnu Abbas -radhiyalohu 'anhuma-. Nawawi berkata pada hadits no 32 dalam Arbain An-Nawawiyah : "Hadits ini memiliki jalan-jalan periwayatkan yang saling menguatkan". Ibnu Rajab berkata dalam Jami' Ulumu wal Hikam (378): sbagaimana yang dikatakan; dan di shahihkan Al-Albany dalam Al-Irwa': 3/408.
(10). Telah terdahulu takhrijnya lihat catatan kaki no 8.
(11). Dikeluarkan Al-Bukhari dalam As-Sulh bab Qoulin Nabi -sholallohu 'alaihi wa sallam- kepada Hasan bin Ali -radhiyallohu 'anhuma-: Innabni haadza...(2704) dari hadits Abu Bakrah -radhiyallohu 'anhu-.
(12). Dikeluarkan oleh An-Nasa'i dalam shifat Sholat bab : Hal yajuuzu an takuna sajdatun ath-walu min sajdah? (1141) dari hadits Syaddad bin Al-Haad -radhiyallohu 'anhu-. Dishahihkan Al-Albani dalam shifat sholat 148.
(13). Lihat Irwaul Ghalil (7/362) dan Dhoif Al-Jami' (2636) keduanya oleh Al-Albany.


في حكم اصطفاف الصبيِّ غيرِ المميِّز في الصلاة
السؤال:
يَعْمِدُ بعضُ المُصَلِّين إلى اصطحابِ بَنِيهم وبناتِهم إلى المسجد، وغالبًا ما يكون سِنُّهم ما بين سنتين إلى سِتِّ سنواتٍ، وإذا أُقيمَتِ الصلاةُ يصطفُّ الابْنُ أو البنتُ مع والدَيْهما في صفِّ الرجال، فهل هذا جائزٌ؟ وجزاكم اللهُ خيرًا.

الجواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:

فالصبيُّ إذا بَلَغَ سَبْعَ سنينَ ـ وهو بدايةُ سِنِّ التمييز على الأصحِّ ـ فإنه تصحُّ مُصافَّتُه مع الرجال؛ لأنه مأمورٌ بالصلاة في قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ»(١)(٢)، وقد صلَّى ابنُ عبَّاسٍ رضي الله عنهما مع النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، فأخَذَ برأسِه وجَعَلَه عن يمينِه(٣)، وإذا كانَتْ إمامةُ الصبيِّ تصحُّ إذا كان أَحْفَظَ مِن غيرِه لكتابِ اللهِ تعالى ـ كما ثَبَتَ في حديثِ عمرِو بنِ سَلِمَةَ رضي الله عنه، فقَدْ أمَّ الناسَ وهو ابنُ سبعِ سنينَ(٤) ـ فإنَّ مُصافَّتَه تصحُّ مِنْ بابٍ أَوْلَى.

فإِنْ كان دون سِنِّ التمييزِ فهو غيرُ مأمورٍ بالصلاة، ولا يقطع الصفَّ في الصلاة؛ لمكانِ حديثِ أنسٍ رضي الله عنه قال: «فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصَفَفْتُ أَنَا وَاليَتِيمُ وَرَاءَهُ، وَالعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ»(٥). والظاهرُ مِنْ لفظِ: «اليتيم» في الحديث أنه الصغيرُ، و«اليُتْمُ في الناسِ: فَقْدُ الصبيِّ أباه قبل البلوغ»(٦)، مِنْ غيرِ تفريقٍ بين مميِّزٍ وغيرِ مميِّزٍ، ولا يُصارُ إلى خلافِه إلَّا بدليلٍ، قال الشوكانيُّ ـ رحمه الله ـ: «وفيه أنَّ الصبيَّ يَسُدُّ الجَناحَ»(٧).

وأمَّا إلحاقُ الصبيِّ غيرِ المميِّزِ بالسارية، أو بِمَنْ لا تصحُّ صلاتُه كالكافر، أو المرأةِ مع الرجال؛ فهو قياسٌ ظاهِرُ الفَرْقِ بين العاقل والجماد، والمسلمِ والكافرِ، والذَّكَرِ والأنثى.

وأمَّا الصبيَّةُ ففي كلا الحالتين، مميِّزةً كانَتْ أو غيرَ مميِّزةٍ، فلا تصحُّ مُصَافَّتُها مع الرجال لاختلافِ الجنس، وهي تقطع الصفَّ لأنَّ وجودَها وعَدَمَها سواءٌ.

فإنْ كان وليُّ الصبيَّةِ مضطَرًّا إلى استصحابِها لصلاةِ الجماعة فلها أن تُصَلِّيَ معه في أحَدِ طَرَفَيِ الصفِّ يمينًا أو شِمالًا، فيجعلُها كآخِرِ فردٍ في السلسلة لئلَّا تقطعَ الصفَّ، وقد صلَّى النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم وهو حاملٌ أُمامةَ بنتَ زينبَ رضي الله عنهما على عاتِقِه(٨) حتَّى يعلمَ الناسُ أنَّ مِثْلَ هذا العملِ سائغٌ في الصلاةِ عند الاضطرار والحاجة.

وعلى كُلٍّ، فإنِّي لا أعلم دليلًا يقضي ببطلانِ الصلاة في الحالات السابقة بسببِ الإخلال بتسويةِ الصفوف أو عدَمِ ترتيبها.

هذا، وجديرٌ بالتنبيه أنَّ الصبيَّ غيرَ المميِّزِ إذا ظَهَرَ منه عَبَثٌ وطيشٌ أو تصرُّفٌ مُؤْذٍ في المسجد فالأَوْلَى إبقاؤُه في بيته مع أهله وذويه لأنه غيرُ مأمورٍ بالصلاة أوَّلًا، ويتأذَّى بعَبَثِه وتشويشِه المُصَلُّون ثانيًا، والأصلُ رَفْعُ الضَّرَرِ وإزالةُ الأذى؛ لعمومِ قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ»(٩) ما لم يُضْطَرَّ وليُّه إلى استصحابه معه؛ فإنه يُسْتَدَلُّ له بحديثِ حَمْلِه صلَّى الله عليه وسلَّم لِأُمامةَ بنتِ زينبَ رضي الله عنهما(١٠).

أمَّا إذا خَلَتْ تصرُّفاتُ الصبيِّ مِنْ عَبَثٍ وتشويشٍ فإنه يجوز إدخالُه المسجدَ؛ لأنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم رأى الحسنَ بنَ عليٍّ رضي الله عنهما وهو على المنبر فقال: «إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ»(١١)، ولِما رواه النسائيُّ وأحمدُ مِنْ طريقِ عبدِ اللهِ بْنِ شدَّادٍ عن أبيه شدَّادِ بْنِ الهادِ رضي الله عنه قال: «خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ العَشِيِّ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا»، قَالَ أَبِي: «فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: «يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ»، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي؛ فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»»(١٢)، وقد استُدِلَّ بهما على جوازِ إدخالِ الصبيانِ المساجدَ.

وأمَّا حديثُ: «جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِينَكُمْ»(١٣) فلا ينتهض للاحتجاج به؛ لشدَّةِ ضَعْفِه كما بيَّنه الألبانيُّ ـ رحمه الله ـ(١٤).

والعلمُ عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا.

الجزائر في: ٩ مِن ذي القعدة ١٤٣١ﻫ
الموافق ﻟ: ١٧ أكتوبر ٢٠١٠م

(١) أخرجه أبو داود في «الصلاة» باب: متى يُؤْمَر الغلامُ بالصلاة؟ (٤٩٥) مِن حديث عمرو بنِ شعيبٍ عن أبيه عن جدِّه عبد الله بنِ عمرٍو رضي الله عنهما. والحديث حسَّنه النوويُّ في «الخلاصة» (١/ ٢٥٢)، وصحَّحه ابنُ الملقِّن في «البدر المنير» (٣/ ٢٣٨)، والألبانيُّ في «الإرواء» (١/ ٢٦٦).

(٢) انظر مسألةَ الأمر بالصلاة في الفتوى رقم: (١٠٤٩) الموسومة ﺑ: «في صفة الأمر في قوله صلَّى الله عليه وسلَّم: «مُرُوا أولادَكم بالصلاة ..»».

(٣) مُتَّفَقٌ عليه: أخرجه البخاريُّ في «العلم» بابُ السَّمَرِ في العلم (١١٧)، ومسلمٌ في «صلاة المسافرين» (٧٦٣)، مِن حديث ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما.

(٤) أخرجه البخاريُّ في «المغازي» بابُ مَن شَهِدَ الفتحَ (٤٣٠٢).

(٥) أخرجه البخاريُّ في «الصلاة» بابُ الصلاة على الحصير (٣٨٠)، ومسلمٌ في «المساجد ومواضع الصلاة» (٦٥٨).

(٦) «النهاية» لابن الأثير (٥/ ٢٩١).

(٧) «نيل الأوطار» للشوكاني (٤/ ٩٠).

(٨) أخرجه البخاريُّ في «الصلاة» باب: إذا حَمَلَ جاريةً صغيرةً على عُنُقه في الصلاة (٥١٦)، ومسلمٌ في «المساجد ومواضع الصلاة» (٥٤٣)، مِن حديث أبي قَتادة رضي الله عنه.

(٩) أخرجه ابنُ ماجه في «الأحكام» بابُ مَن بنى في حقِّه ما يضرُّ بجاره (٢٣٤١) مِن حديث ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما. قال النوويُّ في الحديث رقم: (٣٢) مِن «الأربعين النووية»: «وله طُرُقٌ يَقْوى بعضُها ببَعْضٍ»، وقال ابنُ رجبٍ في «جامع العلوم والحِكَم» (٣٧٨): «وهو كما قال»، وصحَّحه الألبانيُّ في «الإرواء» (٣/ ٤٠٨).

(١٠) سبق تخريجه، انظر: الهامش رقم: (٨).

(١١) أخرجه البخاريُّ في «الصلح» بابُ قولِ النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم للحسن بنِ عليٍّ رضي الله عنهما: «إِنَّ ابْنِي هَذَا...» (٢٧٠٤) مِن حديث أبي بكرة رضي الله عنه.

(١٢) أخرجه النسائيُّ في «صفة الصلاة» باب: هل يجوز أن تكون سجدةٌ أَطْوَلَ مِن سجدةٍ؟ (١١٤١) مِن حديث شدَّادِ بنِ الهاد رضي الله عنه. وصحَّحه الألبانيُّ في «صفة الصلاة» (١٤٨).

(١٣) أخرجه ابنُ ماجه في «المساجد» بابُ ما يُكْرَهُ في المساجد (٧٥٠) مِن حديثِ واثلةَ بنِ الأسقع رضي الله عنه.

(١٤) انظر: «إرواء الغليل» (٧/ ٣٦٢) و«ضعيف الجامع» (٢٦٣٦) كلاهما للألباني.

https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1076

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)