“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 01 Desember 2019

Apakah Setiap Khariqul Adah (Kejadian Luar Biasa) Pada Seseorang Adalah Karomah?

Pertanyaan:
Apakah karomah wali itu benar adanya? Dan apakah setiap khoriqul 'adah (kejadian diluar kebiasaan) menunjukkan akan kebenaran orang yang memilikinya? Mohon kami diberikan penjelasan dengan perincian. Jazakallohu khoiron.

Jawab:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
Karomah adalah sesuatu yang Alloh jalankan melalui tangan sebagian dari para waliNya yang mukmin berupa kejadian yang di luar kebiasaan dalam perkara pengetahuan, mukasyafah, kemampuan dan pengaruh yang tidak berkaitan dengan dakwah kenabian dan bukan pula permulaannya.
Masalah khoriqul 'adah -dalam karomah- hanya Alloh -ta'ala- berikan kepada orang yang secara dzohirnya beriman dan beramal sholih serta iltizamnya dalam mengikuti Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- terbebani dengan syariat. Karomah tidaklah diperoleh kecuali dengan barakahnya mengikuti Nabi. Maka adanya karomahnya para wali -pada hakikatnya- adalah dari mu'jizatnya para Nabi.

Adapun kejadian di luar nalar yang terjadi pada para pendusta, orang sesat dan orang yang menyimpang  secara manhaj dan aqidah dari kalangan penyembah sesembahan lain selain Alloh, atau mengklaim mengetahui rahasia alam atau mengetahui yang ghaib, atau orang yang berdoa kepada yang mati atau yang hidup seperti jin dan manusia dengan meyakini mampu memberikan manfaat dan mudharat; seperti tukang sihir, dukun, tukang tenung dan yang semisalnya Maka yang demikian ini adalah tipuan syaiton dan ulah iblis bukanlah dari karomah sama sekali. (1).
Dengan kriteria tersebut maka nampak juga mu'jizat yang Alloh -ta'ala- tampakkan melalui tangan para rosul dan para nabi yang mereka menyampaikan kabar tentang Alloh -ta'ala- dan mereka menghadapi tantangan para hamba dengan mu'jizat agar mereka membenarkannya (para rasul) dan mengikuti dakwah mereka serta apa yang mereka bawa.
Berdasarka hal ini maka tidaklah mesti kejadian luar biasa secara dzatnya menunjukkan kebenaran orang yang memilikinya dan tidak pula (menunjukkan) kewaliannya. Terkadang justru istidraj dan tipuan. Terkadang sebagai ujian sehingga menjadi bahagia suatu kaum dengannya dan menjadi sedih kaum yang lainnya.
Hal ini; dan di antara contoh karomah yang berupa ilmu dan mukasyafah yaitu kisah Khoidhir (2) dan Musa -'alaihi wa sallam- dan apa yang Alloh tampakkan melalui tangannya berupa tiga kejadian yang dianggap Musa -alaihis salam- sebagai perkara besar: melubangi perahu, pembunuhan anak kecil dan menegakkan dinding. Dan juga pengkhabaran Abu Bakar -radhiyalohu 'anhu- bahwa di kandungan istrinya adalah anak perempuan; Alloh pun membenarkan dugaannya dan dijadikan hal itu sebagai karomah baginya (3). Dan seruan Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- sedangkan beliau berada di atas mimbarnya di Madinah. Dia berseru: "Wahai Sariyah bin Zunaim, gunung!!" sedangkan dia (Sariyah bin Zunaim) di Iraq mendengarnya.(4)
Adapun contoh karomah dalam masalah qudrah (kemampuan) dan ta'tsir yaitu kisah Ashabul Kahfi dan tinggalnya mereka di dalamnya dalam keadaan hidup selama 309 tahun. Kisah Maryam ketika dia diberi buah-buahan musim dingin di musim panas, dan buah-buahan musim panas di musim dingin. Maka takjublah Zakariya akan hal itu dan berkata:
يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ
"Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". (QS Ali Imron: 37)
Dan kisah Sarah istri Ibrahim Al-Khalil -'alaihis salam- yang diberi kabar gembira oleh para utusan (malaikat) dengan Ishaq. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
"Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".(QS Hud: 71-73)
Demikian pula kisah tentang seseorang yang memiliki ilmu dari Kitab bersama Sulaiman -'alaihi sholatu was salam-; Alloh -ta'ala- berfirman:
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(QS An-Naml: 40)

Dan yang semisal ini banyak sekali(5). Karomahnya para wali akan senantiasa ada sampai hari kiamat. Dan ini menunjukkan bahwasannya (karomah para wali) dijumpai bersamaan dengan kejadian-kejadian dan sebab-sebab yang menuntut terjadinya musabab (yakni karomah -pent). Dan peletakan(karomah itu sendiri -pent) ada peristiwa lain yang tidak diketahui ilmu manusia dan tidak dapat diperoleh dengan amal-amal mereka dan sebab-sebab mereka.
Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal jamaah beriman dengan karomah para wali yang shahih sebagai kewajiban dan bahwa karomah itu benar adanya. Ada pun yang tidak jelas maka hukumnya adalah tawaquf (menahan diri tidak berkomentar) dengan menetapkan kemungkinan kejadiannya tanpa menetapkan dan menafikkan. Dan mereka (Ahlus Sunnah) dengan hal ini menyelisihi Mu'tazilah dan yang semodel mereka dalam pengingkarannya terhadap karomah para wali.
Dan ilmunya ada di sisi Alloh -ta'ala-.
وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

Aljazair, 19 Jumadal Ula 1430 H bertepatan 14 Mei 2009.

ferkous.com
######
Note: catatan kaki ada pada teks asli dibawah tulisan ini.
#########

في كرامات الأولياء

السـؤال:

هل كراماتُ الأولياء حقٌّ؟ وهل كلُّ خارقةٍ للعادة تدلُّ على صِدقِ مَن ظهرت على يديه؟ أفيدونا مع التفصيل جزاكم الله خيرًا.

الجـواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:

فالكرامةُ هي ما يجريه اللهُ على يد بعض أوليائه المؤمنين من خوارق العادات في العلوم والمكاشفات والقدرة والتأثير غيرَ مقرونٍ بدعوة النبوَّة ولا مقدِّمةٍ لها.

والأمر الخارق للعادة -في الكرامة- إنما يجريه الله تعالى على مَنْ ظاهرُه الإيمان والعملُ الصالح والتزامه بمتابعة نبيٍّ كُلِّف بشريعةٍ، فالكرامةُ لا تحصل إلاَّ ببركةِ متابعة النبيِّ، فكان وقوع كرامات الأولياء -في حقيقة الأمر- من معجزات الأنبياء.

أمَّا خوارق العادات التي تظهر على أيدي أهل الدَّجل والضلال والانحراف السلوكيِّ والعقديِّ ممَّن يدعو مع الله إلهًا آخر أو يدَّعي معرفةَ أسرار الكون والاطِّلاعَ على الغيب أو من يدعو الأمواتَ والأحياء من الجنِّ والإنس معتقدًا نَفْعَهم وضرَّهم، كالسحرة والكهنة والمشعوذة ونحو ذلك؛ فإنما هي أحوالٌ شيطانيةٌ وخوارق إبليسيةٌ ليست من الكرامة في شيءٍ(١).

وبهذا المعيار السابق تظهر –أيضًا- خوارق المعجزة التي يجريها الله تعالى على أيدي الرسل والأنبياء الذين يخبرون عن الله تعالى ويتحدَّوْن بالمعجزة العبادَ لتصديقهم والإقرار بدعوتهم وما أُرسلوا به.

وعليه فلا تدلُّ خوارق العادات في ذاتها على صدقِ مَن ظهرت على يديه ولا على ولايته، فقد تكون استدراجًا أو مَكْرًا، وقد تُعَدُّ ابتلاءً فيسعد بها قومٌ ويشقى آخَرون.

هذا، ومن أمثلة الكرامة في باب العلوم والمكاشفات: قصَّة الخَضِر(٢) مع موسى عليه السلام وما أجرى الله على يده من الوقائع الثلاث التي استعظمها موسى عليه السلام: خرق السفينة، وقتل الصبيِّ، وتقويم الجدار، وكإخبار أبي بكرٍ رضي الله عنه أنَّ في بطن امرأته أنثى فصدَّق الله ظنَّه وجعل ذلك كرامةً له(٣)، ونداء عمر بن الخطَّاب رضي الله عنه وهو على منبره بالمدينة فقال: «يا سارية بنَ زُنَيْم، الجبلَ» وهو بالعراق فسمعه(٤).

أمَّا أمثلة الكرامة في باب القدرة والتأثير: فقصَّة أصحاب الكهف ومكوثهم فيه أحياء ثلاثمائةٍ سنينَ وازدادوا تسعًا، وقصَّة مريم حيث كانت تؤتى بفاكهة الشتاء في الصيف وفاكهة الصيف في الشتاء، فعجب من ذلك زكريَّا وقال: ﴿يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ﴾ [آل عمران: ٣٧] وقصَّة «سارَة» زوجة إبراهيم الخليل عليه السلام التي بشَّرها الرسل بإسحاق، وقال تعالى: ﴿وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ﴾ [هود: ٧١-٧٣]، وكذلك في قصَّة الذي عنده علمٌ من الكتاب مع سليمان عليه الصلاة والسلام، قال تعالى: ﴿قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ﴾ [النمل: ٤٠]، ونحو ذلك كثيرٌ(٥)، ولا تزال كرامات الأولياء جاريةً إلى قيام الساعة. وهذا يدلُّ على أنه يوجد مع السنن والأسباب المقتضية للمسبَّبات الموضوعة لها سننٌ أخرى لا يقع علمُ البشر عليها ولا تدركها أعمالُهم وأسبابهم.

هذا، وأهل السنَّة والجماعة يؤمنون بما صحَّ من كرامات الأولياء وجوبًا وأنها حقّ، أمَّا ما لم يثبت فحكمه التوقُّف فيه مع الإقرار بإمكان وقوعه من غير إثباته ولا نفيه، وهم بذلك يخالفون المعتزلةَ ومن وافقهم في إنكارهم لكرامات الأولياء(٦).

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

الجزائر في: ١٩ جمادى الأولى ١٤٣٠ﻫ
الموافق ﻟ: ١٤ ماي ٢٠٠٩م

(١) انظر: «قاعدة في المعجزات والكرامات» لابن تيمية (١١/ ٣١١)، وانظر رسالته: «الفرقان بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان» وفي «مجموع الفتاوى» (١١/ ٢٧٦-٢٨٢).

(٢) وهذا إذا ما تقرَّر أنَّ الخضر وليٌّ و ليس نبيًّا وهو قول أكثر العلماء. [انظر: «مجموع الفتاوى» لابن تيمية (٤/ ٤٩٧)، «تفسير ابن كثير» (٤/ ١٨٧)].

(٣) أخرجه مالك في «الموطإ» (٢/ ٧٥٢)، والبيهقي في «السنن الكبرى» (١١٩٤٨)، والطحاوي في «شرح معاني الآثار» (٤/ ٨٨)، واللالكائي في «شرح أصول الاعتقاد» (٩/ ١٢٤)، عن عائشة رضي الله عنها. قال الألباني في «الإرواء» (٦/ ٦٢): «وهذا إسنادٌ صحيحٌ على شرط الشيخين».

(٤) أخرجه البيهقي في «الاعتقاد» (٣١٤)، وأبو نعيم في «دلائل النبوَّة» (٢/ ٥٧٩)، واللالكائي في «شرح أصول الاعتقاد» (٩/ ١٢٨)، عن ابن عمر رضي الله عنهما، وحسَّنه ابن حجر في «الإصابة» (٢/ ٣)، والألباني في «السلسلة الصحيحة» (٣/ ١٠١).

(٥) للاطِّلاع على مجموعةٍ من وقائع كرامات الأولياء يراجع الجزء التاسع (٩) المتعلِّق ﺑ «كرامات أولياء الله» من كتاب «شرح اعتقاد أهل السنَّة و الجماعة» لأبي القاسم اللالكائي رحمه الله.

(٦) انظر: «شرح العقيدة الطحاوية» لابن أبي العزِّ (٥٥٨-٥٦٤).

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)