“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 09 Desember 2019

Hadits (54): Qodho' Sholat yang Tertinggal dan Tatacaranya

Hadits 54:

عَن جَابر بْنِ عَبْدِ الله رَضيَ الله عَنْهُمَا: أنَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضي الله عَنْهُ، جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَتِ الشمس فَجَعَل يَسُبّ كُفَّارَ قُرَيْش، وَقَالَ: يَا رسول الله، مَا كِدتُ أصَلي العَصر حَتَّى كَادَتِ الشمسْ تَغْرُبُ.
فَقَاَل النَبيُّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ: " والله مَا صَليْتُهَا ".
قَالَ: فَقُمْنَا إِلى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأ للصّلاةَ وتوضأنا لَهَا، فصَلّى العَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتِ الشَّمس، ثُم صَلّى بَعْدَهَا المَغْرِبَ.
"Dari Jabir bin 'Abdullah -radhiyallohu 'anhuma-: Bahwa Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- datang pada saat perang Khandaq setelah terbenamnya matahari. Maka mulailah dia mencerca kafir Quraisy. Beliau berkata: "Ya Rasululloh, hampir-hampir aku tidak pernah mengerjakan sholat Ashar hingga matahari nyaris terbenam". Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "Demi Alloh, aku belum mengerjakannya (Ashar)".
Dia (Jabir) berkata: Kami pergi ke Buthan lalu beliau berwudhu' untuk sholat dan kami pun berwudhu' untuk sholat. Beliau sholat Ashar setelah matahari tenggelam, kemudian sholat Maghrib setelahnya". (HR Bukhari 596 dan Muslim 631).

Penjelasan Lafadz:
(1). Makna يَوْمَ الْخَنْدَقِ yaitu perang A-Ahzab yang orang-orang Quraisy datang bersama kabilah-kabilah Najd. Mereka mengepung kota Madinah.
(2). Makna  مَا كِدتُ dengan mengkasrahkan kaf dan 'Kaada' termasuk fi'il muqorobah, yang artinya: hampir mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan.
(3). Makna غَرَبَتِ (tenggelam). Az-Zarkasyi berkata: dengan fathah ra'. Dan dianggap keliru dengan dhommah. Dan maknanya di sini: Tidak pernah aku sholat Ashar sampai matahari hampir tenggelam.
(4). Makna بُطْحَانَ dengan dhommah ba' dan mensukunkan tho' yaitu suatu lembah di kota madinah.

makna Global:
Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- datang kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada perang Khondaq setelah matahari tenggelam dengan mencaci orang-orang kafir Quraisy sebab mereka telah membuatnya sibuk dari mengerjakan sholat Ashar. Dan dia tidaklah mengerjakannya sampai matahari hampir tenggelam. Maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersumpah -dan beliau adalah orang yang benar- bahwa beliau belum mengerjakannya sampai saat ini untuk menenangkan Umar yang perkara ini telah membuatnya sempit.

Kemudian bangkit Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu berwudhu' dan para shahabat berwudhu' bersama beliau. Beliau mengerjakan sholat Ashar setelah matahari tenggelam, dan setelah sholat Ashar beliau mengerjakan sholat maghrib.

Kesimpulan Hadits:
1. Wajibnya melakukan qadha' sholat lima waktu yang terluput.
2. Dzahirnya bahwa mengakhirkannya (sholat ashar) dalam qodha' ini tidaklah karena lupa namun dengan sengaja. Tapi hal ini sebelum disyariatkannya sholat khouf sebagaimana yang dikuatkan oleh para ulama.
3. Di dalamnya ada dalil mendahulukan sholat yang tertinggal daripada sholat yang sedang datang waktunya selama tidak sempit waktunya. Dengan mendahulukan tersebut agar tidak semakin banyak yang tertinggal (sholatnya).
4. Bolehnya mendoakan keburukan kepada orang yang dzolim karena Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak mengingkaari hal tersebut.
5. Disyariatkannya meringankan musibah atas orang yang tertimpanya.
6. Bolehnya orang yang jujur bersumpah meski tidak diminta bersumpah.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)