Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 163 - 167
قوله: وما وصف به نفسه في أعظم آية في كتاب الله، حيث يقول
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Perkataan penulis:
Dan sifat yang Alloh sifatkan diriNya dengannya yang terdapat pada ayat yang paling agung dalam Kitabulloh; ketika Alloh berfirman:
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar". (QS Al-Baqarah: 255)
Penjelasan:
Perkataan Penulis: "Dan sifat yang Alloh sifatkan diriNya dengannya yang terdapat pada ayat yang paling agung dalam Kitabulloh". Ayat ini dinamakan dengan ayat kursi; sebab di dalamnya disebutkan "Al-Kursi": وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ (Kursi Allah meliputi langit dan bumi) (Al Baqarah: 255) dan ini adalah ayat yang paling agung dalam kitabulloh.
Dalil akan hal tersebut adalah: Bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada Ubai bin Ka'ab: "Ayat apa yang paling agung dalam kitabulloh?". Ia menjawab: اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ ("Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya))(QS Al Baqarah: 255). lalu beliau menepuk dadanya dan bersabda: "Semoga Alloh memudahkan ilmu untukmu wahai Abu Mundzir".
Yakni bahwasannya Nabi -sollallohu 'alaihi wa sallam- menegaskan bahwa ini adalah ayat yang paling agung dalam kitabulloh -azza wa jalla-.
Dan dalam hadits ini ada dalil bahwa ayat-ayat Al-Qur'an itu bertingkat-tingkat (keutamaannya); sebagaimana juga yang ditunjukkan pada hadits tentang surat Al-Ikhlas. Ini mebuktikan ada tingkatan keutamaan padanya. Kita katakan: Adapun ditinjau dari sisi mutakallim (yang berbicara); maka tidaklah bertingkat-tingkat (sisi keutamaannya) sebab yang berfirman adalah satu yaitu Alloh 'azza wa jalla. Adapun ditinjau dari penunjukannya dan pembahasannya maka bertingkat-tingkat. Surat Al-Ikhlas yang di dalamnya ada pujian kepada Alloh 'azza wa jalla- dengan kandungannya berupa asma dan shifat (Alloh) tidaklah seperti surat Al-Masad yang didalamnya terdapat penjelasan keadaan Abu Lahab dari sisi bahasannya. Demikian pula bertingkat-tingkat dari sisi pengaruhnya dan kuatnya dalam uslub (gaya bahasa). Di antara ayat-ayat ada yang engkau dapati ayat tersebut pendek namun di dalamnya pengaruh yang kuat dalam hati dan nasehat. Dan engkau dapati ayat-ayat lain yang lebih panjang darinya namun tidak berisi sebagaimana ayat-ayat yang pendek tadi. Misalnya firman Alloh -ta'ala-:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar....dst". (QS Al Baqarah: 282)
Ayat ini bahasannya mudah dan temanya tentang muamalah yang terjadi di antara manusia namun pengaruh di dalamnya tidaklah seperti firman Alloh -ta'ala-:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (QS Ali Imran: 185).
Ayat ini mengandung makna-makna yang agung. Di dalamnya ada peringatan, nasehat, motivasi dan ancaman. Tidaklah seperti ayat utang piutang misalnya bersamaan bahwa ayat utang piutang lebih panjang darinya.
* Perkataan Penulis: Ketika Alloh berfirman: اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia". Dalam ayat ini Alloh mengkabarkan bahwa Dia Esa dalam Uluhiyah. Demikian pula firmanNya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ "Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia"; karena kalimat ini mengandung pembatasan. Dan metode penafikan dan penetapan dalam ayat ini adalah bentuk pembatasan yang paling kuat.
* Dan firmanNya: الْحَيُّ الْقَيُّومُ "Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)". Kata Al-Hayyu yaitu yang memiliki kehidupan yang sempurna, mencakup seluruh sifat-sifat kesempurnaan. Tidak didahului ketidakadaan dan tidak diikuti kepunahan; dan tidak ditimpa kekurangan dari segala sisi.
Dan Al-Hayyu di antara nama-nama Alloh dan terkadang dimutlakkan kepada selain Alloh. Alloh ta'ala berfirman:
يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
" Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati " (QS Al-An'am: 95)
Namun bukanlah kehidupan sebagaimana kehidupan makhluk. Persamaan dalam nama tidak mengharuskan sama dengan yang dinamai.
"Al-Qayyum" ( الْقَيُّومُ)dengan wazan "Fai'uul" merupakan shigah mubalaghah yang diambilkan dari kata "Qiyam".
Makna الْقَيُّومُ yakni yang berdiri sediri. Berdiri dengan diriNya sendiri (Qiyamuhu binafsihi) mengharuskan ketidakbutuhanNya kepada segala sesuatu. Tidak butuh kepada makan dan minum dan selainnya. Dan selain Alloh tidak mampu untuk berdiri secara mandiri namun dia membutuhkan Alloh -azza wajalla- dalam penciptaannya, perbekalannya dan kelengkapannya.
Diantara makna الْقَيُّومُ juga bahwa Dia mengurus selainNya. Sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۗ
"Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?" (QS Ar-Ra'd:33)
dan disini ada lawan dari pernyataan ini yang dihilangkan yang taqdirnya adalah: sama dengan yang tidak demikian (sifatnya)? Dan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya adalah Alloh -azza wa jalla-. Oleh karenanya para ulama berkata: "Al-Qoyyum yaitu yang berdiri tegak dengan diriNya sendiri dan juga mengurus selainNya". Jika Dia mengurus selainNya maka mengharuskan bahwa selainNya membutuhkanNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya.(QS Rum: 25)
Dengan demikian maka Dia adalah yang sempurna sifat-sifatNya, sempurna kepemilikanNya dan perbuatanNya.
Kedua nama ini adalah nama yang agung yang apabila Alloh diminta dengan menyebutnya maka Dia mengabulkannya. Dengan demikian semestinya bagi seseorang dalam do'anya bertawasul dengan asma ini dengan mengatakan: Ya Hayyu Ya Qayyum! Dan kedua asma ini telah disebutkan dalam Al-Qur'an Al-'Aziz dalam tiga tempat: yang pertama di ayat yang kita bahas ini, kedua di surat Ali imran:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya". (QS Ali Imran: 2)
Ketiga di surat Thaha:
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
"Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman". (QS Thaha: 111)
Kedua nama ini di dalamnya mengandung kesempurnaan dzat dan kesempurnaan kekuasaan. Kesempurnaan dzat dalam perkataan: Al-Hayyu (yang hidup kekal) dan kesempurnaan kekuasaan dalam lafadz Al-Qayyum (yang tegak mengurus makhlukNya); sebab Dia mengurus segala sesuatu dan segala sesuatu membutuhkanNya.
*****



0 komentar:
Posting Komentar