“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 15 Desember 2019

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 2)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 167 - 169

* FirmanNya:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ
"tidak ditimpa kantuk dan tidak tidur"
As-Sinnah maksudnya adalah An-Nuas (ngantuk); yakni permulaan tidur. Dan tidak dikatakan: La yanam (tidak tidur); sebab tidur itu dengan ikhtiyar sedangkan ditimpa (kantuk) adalah dengan paksaan.
Tidur adalah sifat naqis (kekuranga bukan sempurna -pent). nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إن الله ﻻ ينام وﻻ ينبغي له أن ينام
"Sesungguhnya Alloh tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya untuk tidur" (HR Muslim 179 dari hadits Abu Musa Al-'Asyari).

Sifat ini termasuk sifat yang ternafikkan (ditiadakan). Dan telah berlalu penjelasannya bahwa sifat yang ternafikkan mestilah mengandung sifat yang ditetapkan, yaitu kesempurnaan sifat kebalikannya. Dan sifat kesempurnaan dalam firmannya:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ
"tidak ditimpa kantuk dan tidak tidur"
yaitu kesempurnaan Al-Hayat (hidup) dan Al-Qayyumiyah (kemandirian dan kepengurusan terhadap makhlukNya -pent). Dengan kesempurnaan hidupNya Dia tidak membutuhkan tidur; dan dari kesempurnaan QoyyumiyahNya dia tidak tidur; sebab tidur hanyalah dibutuhkan oleh makhluk hidup sebagai (bentuk) kekurangannya. Sebab makhluk membutuhkan tidur untuk istirahat dari kelelahan sebelumnya dan mengembalikan kekuatan untuk beraktivitas selanjutnya. Tatkala penduduk surga sempurna hidupnya maka mereka tidak tidur sebagaimana disebutkan dalam atsar-atsar yang shahih.
Namun senadainya ada yang berkata: Tidur itu bagi manusa adalah sempurna, oleh karenanya jika manusia tidak tidur dianggap sakit.

Maka kita katakan: Seperti makan bagi manusia adalah sempurna, seandainya tidak makan makan dianggap sakit. Namun ini adalah kesempurnaan di satu sisi dan kekurangan di sisi lain. Sempurna sebagai pertanda bagi sehatnya badan dan kebugarannya namun bentuk kelemahannya karena badan membutuhkannya. Dan ini pada hakekatnya adalah bentuk kekurangan.

Dengan demikian tidaklah setiap kesempurnaan yang relatif pada makhluk adalah kesempurnaan juga bagi A-Kholiq. Sebagaimana juga tidaklah kesempurnaan bagi Al-Kholiq adalah kesempurnaan juga bagi makhluk. Makan, minum, dan tidur adalah kesempurnaan bagi makhuk namun sifat naqis bagi Al-Kholik. Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman tentang diriNya:
وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ
"Dan Dia memberi makan dan tidak diberi makan"(QS Al-An'am: 14)

FirmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.".
Lafadz لَّهُ adalah khobar muqoddam (khabar yang didahulukan). Dan مَا adalah mubtada' yang diakhirkan. Maka pada kalimat ini ada pembatasan, formatnya adalah dengan mendahulukan bagian kalimat yang harusnya diakhirkan yaitu khobar. Huruf lam pada  لَّهُ adalah menunjukkan kepemilikan yang sempurna tanpa ada lawanNya. Dan مَا فِي السَّمَاوَاتِ "Apa-apa yang ada di langit". Yaitu para malaikat, jin dan lain sebaginya dari hal-hal yang kita tidak tahu. وَمَا فِي الْأَرْضِ "Dan apa-apa yang ada di bumi"; berupa makhluk-makhluk seluruhnya, di antaranya hewan-hewan dan yang bukan hewan.
* FirmanNya السَّمَاوَاتِ (langit-langit) memberikan informasi bahwa langit itu berbilang; dan memang demikian adanya. Dan Al-Qur'an telah menginformasikan bahwa langit itu ada tujuh:
قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Katakanlah: "Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik 'Arsy yang besar?" (QS Al-Mukminun: 86)
Dan bumi-bumi diisyaratkan Al-Qur'an bahwa jumlahnya tujuh tanpa penjelasan; dan dijelaskan oleh As-Sunnah. Alloh ta'ala berfirman;

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi dengan semisalnya".(QS Ath-Tholaq: 12)
Semisalnya dalam jumlah dan bukan dalam sifat. Dan dalam hadits Nabi -'alaihisholatu wa salam-:
من اقتطع شبرا من الارض ظلما طوقه الله به يوم القيامة من سبع أرضين
"Barang siapa merampas sejengkal tanah secara dzalim niscaya Aloh akan mengalungkannya pada hari kiamat dengan tujuh lapis bumi". (HR Bukhari 2452 dan Muslim 1610 dari Sa'id bin Zaid -radhiyallohu 'anhu).

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)