“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sabtu, 29 Februari 2020

Taisir (64): Sunnah dan Keutamaan Menjawab Adzan

Hadits 64:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : (( إذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ))
Dari Abu Sa'id Al-Khudry -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya" (HR Bukari 611 dan Muslim 383)

MAKNA GLOBAL:
Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: jika kalian mendengar muadzin untuk sholat maka jawablah dia dengan mengucapkan seperti yang dia ucapkan. Tatkala dia takbir maka bertakbirlah setelahnya. Tatkala dia mengucapkan syahadatain maka ucapkanlah juga setelahnya. Dengan demikian kalian akan mendapatkan pahala yang tidak kalian dapatkan dari pahala beradzan yang didapatkan muadzin. Dan Alloh adalah Maha Luas pemberianNya dan Mengabulkan do'a.

KESIMPULAN HUKUM-HUKUM DARI HADITS INI
1. Disyariatkannya menjawab panggilan muadzin seperti yang dia ucapkan dan demikian itu berdasarkan ijma' ulama.
2. Hendaknya jawabannya setelah muadzin selesai mengucapkan kalimatnya; berdasarkan firmannya:فَقُولُوا "Faquuluu" (ucapkanlah). Huruf fa' ini menunjukkan tartib (urutan). Hal ini telah dijelaskan pada sebagian hadits-hadits di antaranya yang diriwayatkan An-Nasa'i dari Ummu Salamah bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengucapkan seperti yang diucapkan oleh muadzin sampai muadzin diam (dari melafadzkan adzannya -pent).
3. Bahwa menjawab muadzin ini dalam segala keadaannya jika dia tidak berada di WC atau sedang buang hajat, sebab setiap dzikir yang memiliki sebab tidak selayaknya diabaikan sehingga tidak terluput dengan hilangnya sebabnya.
4. Dzahir hadits bahwa orang yang mendengar adzan menjawab muadzin seperti yang ducapkan muadzin dalam seluruh kalimat adzan. Dan menurut jumhur ulama bahwa orang yang menjawab adzan mengucapkan: "Lahaula wala quwwata illa billah" ketika muadzin mengucapkan Hayya 'alas sholah dan hayya 'alal falah sebagaimana yang ada pada shahih Muslim dari Umar bin Khottob, di antaranya:
ثم قال حي على الصلاة ، قال : لاحول وﻻ قوة إﻻ بالله، ثم قال: حي على الفلاح، قال:  لاحول وﻻ قوة إﻻ بالله
"Kemudian muadzin berkata: hayya 'alas sholah; kemudian beliau menjawab: La haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian muadzin berkata: hayya 'alal falaah; beliau menjawab: la haula wa la quwwata illa billah.
Hal ini karena al-haya'alah tidaklah cocok bagi pendengarnya namun yang sesuai adalah hauqolah (la haula wa la quwwata illa billah). Maka tatkala muadzin menyeru mereka maka mereka menjawabnya dengan La haula wa la quwwata illa billah. Yakni dengan pertolonganNya dan kekuatanNya kami bisa mendatangi sholat dan mengerjakannya.

Faidah:
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Jabir bin Abdulloh: Bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
 من قال حين يسمع النداء: " اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة، آت محمداً الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقاماً محموداً الذي وعدته، حلت له شفاعتي يوم القيامة
"Barang siapa tatkala mendengar adzan mengucapkan: "Wahai Rabb yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad Al-Wasilah dan keutamaan. Dan tempatkanlah dia di Maqam Mahmud (tempat yang terpuji) yang telah Engkau janjikan untuknya". Maka ia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)