“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 19 April 2020

Tafsir Surat Ali Imron ayat 133 - 136 Bagian 2

Tafsir QS Ali Imron Ayat 134
Kemudian Alloh -ta'ala- menyebutkan sifat-sifat mereka:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ *
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal". (QS Ali Imron: 134 - 136)

Sifat pertama mereka الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit". Infaq di sini disebutkan secara umum; tidak disebutkan infaq berupa apa dan kepada siapa. Sehingga infaq mencakup apa pun yang bisa diinfaqkan; bisa berinfaq dengan barang seperti pakaian ataupun dengan harta seperti uang ataupun dengan menghutangi orang yang membutuhkan; atau dengan kedudukan yang dia miliki dan lain sebagainya. Dalam kondisi lapang mereka memberikan infaqnya dan dalam kondisi sempit pun mereka juga berinfaq dan tidak meremehkan keaikan sekecil apa pun.
Kemudian, kepada siapa dia berinfaq? Alloh sebutkan dalam ayat yang lain:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ
"Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan".(QS Al-Baqarah: 215)

Bahkan memberikan suapan di mulut istrinya juga merupakan infaq, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
واعلم أنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله الا أجرت عليها حتى ما تجعله في فم امرأتك
"Ketahuilah, sesungguhnya engkau tidaklah berinfaq dengan suatu infaq yang engkau harapkan wajah Alloh dengannya kecuali pasti engkau akan diberi balasan sampai pun suapan yang engkau berikan dimulut istrimu" (HR Bukhari)

Bahkan dalam kodisi yang sangat sulit seseorang tetap berinfaq untuk keluarganya, atau istrinya bahkan untuk dirinya sendiri.

Kemudian sifat orang yang bertaqwa selanjutnya: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ "Dan orang-orang yang menahan amarahnya".
Al-ghoidz adalah puncak kemarahan; yaitu seseorang yang apabila sedang marang dengan kemarahan yang meletup-letup bisa menahan dirinya dan memenjarakan amarahnya.
Berapa banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri di kala marah. Ada di antara mereka yang mentalak istrinya, mencabik-cabik dirinya, menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi dan sebagainya. Kemarahan adalah bara api syaitan yang dilemparkan ke dada anak adam. Dalam kondisi marah yang amat sangat maka seseorang tidak berlaku hukum baginya karena apa yang dia lakukan diluar kendali akalnya. Misalnya, tidak jatuh talak kepada istrinya ketika kondisinya sedang marah seperti ini.

Sifat selanjutnya yaitu: وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ "dan memaafkan (kesalahan) orang lain". Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- emberikan penjelasan tentang ayat ini dengan mengatakan: "Memaafakan yaitu tidak memberikan hukuman terhadap kesalahan. Maksudnya, bahwa mereka ini jika ada orang menyakiti dirinya maka dia membalasnya dengan memberikan maaf. Dan yang lebih baik lagi adalah membalasnya dengan kebaikan dengan syarat dia (orang yang disakiti) memiliki keampuan untuk membalasnya. Ada pun orang yang yang memaafkan tanpa memiliki kemampuan untuk membalasnya, maka ini pemaafan dari orang yang lemah yang tidak dipuji atasnya. Bahkan pemberian maaf semacam ini adalah kelemahan yang tercela".
Lafadz ayat ini umum namun keumumannya tidak mutlak. Adakalanya kesalahan seseorang terkait dengan hak Alloh. Misal kasus perzinaan; tidak bisa seseorang yang berzina hanya minta maaf kepada si korban atau keluarganya karena Alloh ta'ala berfirman:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah"(QS An-Nuur: 2)

Adapun kesalahan yang berhubungan dengan hak manusia yang tidak ada keterkaitan dengan hak Alloh maka ini juga perlu dilihat. Jika memaafkannya ada maslahatnya maka memberikan maaf adalah lebih baik, namun jika dengan memberikan hukuman lebih bermaslahat maka memberikan hukuman adalah lebih baik. Namun jika sama-sama tidak memberikan konsekwensi apa-apa antara memberi maaf dan menjatuhkan sanksi maka memberi maaf adalah lebih baik. Dan perlakuan ini berlaku umum, baik untuk muslim maupun kafir selama bukan kafir harbi.

Dan firmanNya: وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  "Dan Alloh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan" yaitu orang-orang yang berbuat baik kepada manusia.
Syaikh Nashir As-Sa'dy dalam tafsirnya mengatakan terkait ayat ini:
 والإحسان نوعان: الإحسان في عبادة الخالق. [والإحسان إلى المخلوق، فالإحسان في عبادة الخالق]. فسرها النبي ﷺ بقوله: "أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك" وأما الإحسان إلى المخلوق، فهو إيصال النفع الديني والدنيوي إليهم، ودفع الشر الديني والدنيوي عنهم، فيدخل في ذلك أمرهم بالمعروف، ونهيهم عن المنكر، وتعليم جاهلهم، ووعظ غافلهم، والنصيحة لعامتهم وخاصتهم، والسعي في جمع كلمتهم، وإيصال الصدقات والنفقات الواجبة والمستحبة إليهم، على اختلاف أحوالهم وتباين أوصافهم، فيدخل في ذلك بذل الندى وكف الأذى، واحتمال الأذى، كما وصف الله به المتقين في هذه الآيات، فمن قام بهذه الأمور، فقد قام بحق الله وحق عبيده.

"Ihsan ada dua macam yaitu ihsan dalam peribadahan kepada Al-Kholiq dan ihsan kepada makhluk. Ihsan dalam beribadahan kepada Al-Khalik sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-
أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك
"Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seakan akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak bisa maka sesungguhnya Dia melihatmu"(HR Bukhari dan Muslim).
Adapun ihsan kepada makhluk yaitu memberikan manfaat diniyyah maupun dunyawiyah kepada mereka; mencegah keburukan diniyah dan duniawiyah dari mereka. Termasuk di dalamnya memerintahkan mereka kepada yang ma'ruf dan mencegah mereka dari yang munkar, mengajari mereka yang bodoh, mengingatkan yang lalai, memberikan nasehat kalangan awamnya maupun khususnya, berupaya menyatukan kalimat mereka, menyampaikan shodaqoh dan infak baik yang wajib maupun yang sunah kepada mereka; dengan segala keragaman keadaan mereka dan perbedahan sifat-sifat yang ada pada mereka. Termasuk pula di dalamnya bersungguh-sungguh mengupayakan kebaikan bagi mereka, menolak gangguan dan (mencegah) kemungkinan adanya gangguan bagi mereka; sebagaimana yang disifatkan oleh Alloh mengenai keadaan orang-orang yang bertaqwa dalam ayat-ayat ini. Barang siapa yang menegakkan perkara-perkara ini maka ia telah menegakkan hak Alloh dan hak hambaNya" -selesai-

Syaikh Utsaimin -rahimahullah- menyebutkan beberapa faidah dari surat Ali Imron ayat 134 yang saya ringkas sebagai berikut:

1. Keutamaan infaq dalam segala kondisi; berdasarkan firman Alloh ta'ala:
 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit"; Infaq tidak harus kepada orang lain bahkan infaq kepada dirinya sendiri pun terhitung sedekah.

2. Pujian kepada orang yang berinfaq di saat lapang dan sempit. Seseorang yang berinfak disaat lapang maka ini mudah baginya namun berinfaq di saat sempit maka ini menunjukkan akan harapannya untuk mendapatkan pahala.

3. Selayaknya bagi manusia untuk bisa menahan diri dari amarah sebab yang demikian itu termasuk ciri-ciri penghuni surga.

4. Anjuran memberikan maaf kepada manusia jika ada maslahatnya.

5. Penetapan sifat mahabbah (cinta) bagi Alloh -azza wa jalla- bahwa Alloh mencintai (sesuai dengan keagunganNya kepada siapa yang dikehendakiNya).

6. Anjuran untuk berbuat baik berdasarkan firman Alloh yang artinya :"Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik". Jika setiap orang mengetahui bahwa Alloh mencintai perbuatan baik maka ia akan berbuat ihsan dan mengutamakan perbuatan baik dan akan bersemangat padanya; sebab kecintaan Alloh kepada hambaNya adalah puncak yang diharapkan hamba.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi". (QS Ali Imron: 31)
Puncaknya adalah bahwa Alloh akan mencintaimu; sebab perkara yang terpenting adalah Alloh mencintaimu.

Bersambung ...

Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati



0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)