“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 19 April 2020

Tafsir Surat Ali Imron ayat 133 - 136 Bagian 3

Tafsir QS Ali Imron Ayat 135

Kemudian Aloh ta'ala berfirman pada ayat berikutnya yaitu:
 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui" (QS Ali Imran: 134)

Fahisyah(فَاحِشَةً)"perbuatan keji" adalah sesuatu yang dianggap fahisyah secara syar'i dan secara 'urf (kebiasaan) seperti zina dan homosex. Sebagaimana perkataan Luth kepada kaumnya:
  أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ
"Mengapa kalian mendatangi (melakukan) perbuatan fahisyah ini?"(QS Al-A'raf: 80).
Demikian pula menikahi wanita yang telah dinikahi bapaknya juga perbuatan fahisyah secara syar'i sebagaimana yang Alloh firmankan:
وَلَا تَنكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS An-Nisa': 22)
Dan demikian pula perbuatan ini adalah fahisyah secara adat. Namun dalam permasalahan pahala dan hukuman kembalinya adalah menurut syariat. Oleh karenanya sebagian ulama berkata bahwa maksudnya fahisyah adalah dosa-dosa besar.
Dan firmanNya: أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ "atau menzhalimi diri sendiri" maksudnya adalah dosa dibawah fahisyah yaitu dosa-dosa kecil.
Syaikh Utsaimin -rahimahulloh- berkata: "Terkadang ada orang yang bertanya: "Bagaimana mungkin seseorang mendzalimi diri sendiri? Seseorang (biasanya) mencegah kedzaliman yang akan mencederai dirinya. Lalu bagaimana mungkin seseorang mendzalimi diri sendiri?
Jawabnya kita katakan: "Setiap orang yang menyelisihi perintah Alloh dengan mengerjakan keharaman atau meninggalkan kewajiban adalah mendzalimi diri sendiri. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
"barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri". (QS Ath-Tholaq: 1)
Kenapa? Karena jiwamu adalah amanah yang harus engkau jaga. Alloh telah mewasiatkan hal ini dalam firmanNya:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu" (QS An-Nisa': 29)
Dan firmanNya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu" (QS At-Taubah: 36)
Alloh melarang membunuh jiwa dan mendzalimi diri sendiri karena itu adalah amanat bagimu.
Dan yang sesuai dengan hal ini kami bawakan perkataan ulama: Sesungguhnya Alloh lebih menyayangimu dari pada bapakmu, anakmu dan dirimu sendiri. Adapun Alloh menyayangimu dari bapakmu, Alloh berfirman:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ
"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu". (QS An-Nisa': 11)
Alloh mensyariatkan para bapak dan ibu tentang pembagian harta warisan kepada anak-anaknya, dengan demikian Alloh lebih menyayangi mereka dari pada bapak-bapak mereka dan ibu-ibu mereka. Sebaliknya, Alloh lebih mencintaimu dari pada anak-anakmu. Alloh berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ

"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya". (QS Al-Ankabut: 8)
Adapun Alloh lebih menyayangimu dari pada dirimu sendiri, Alloh berfirman:
 وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu" (QS An-Nisa': 29)
 وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ
" dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan" (QS Al-Baqarah: 195)
Dengan demikian kita katakan: Bentuk kedzaliman manusia kepada diri sendiri adalah karena jiwamu adalah amanah. Apabila engaka mengabaikan amanah ini dengan menceburkan dirimu kepada larangan Alloh atau mengabaikan terhadap kewajiban yang dibebankan Alloh kepadamu maka engakau telah mendzolimi dirimu"-selesai ucapan beliau-

Syaikh Nashir As-Sa'dy berkata dalam kitab tafsirnya: "Kemudian Alloh menyebutkan udzur mereka kepada Rabb mereka terkait kejahatan dan dosa-dosa mereka. Aloh berfirman:
والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم
""dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri" (QS Ali Imran: 134)
Yakni mereka melakukan amalan-amalan keburukan yang besar (dosanya) atau pun yang lebih ringan dari itu; mereka bersegera bertaubat dan mohon ampun serta mengingat Rabb mereka, mengingat ancaman yang disediakan bagi orang-orang yang bermaksiat dan janji Alloh untuk orang-orang yang bertaqwa. maka mereka meminta kepada Alloh ampunan terhadap dosa-dosa mereka, penutup terhadap kekurangan-kekuragan mereka dengan meninggalkan dosa-dosa tersebut dan menyesalinya. Oleh karenanya Alloh berfirman:
ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui" (QS Ali Imran: 134)

Firman Alloh: ذَكَرُوا اللَّهَ "Mereka mengingat Alloh"; yakni mereka mengingat Alloh dengan lisannya, dengan anggota badannya dan dengan hatinya.

Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- berkata dalam tafsirnya: "Adapun dzikir dengan hati maka tatkala mereka mengerjakan perbuatan keji atau mendzolimi diri sendiri; mereka ingat akan keagungan Alloh dan hukuman bagi orang- orang yang menyelisihi (perintahNya). Demikian pula mereka ingat akan rahmat Alloh dan pahala yang dijanjikan kepada orang-orang yang taat. ini adalah mengingat dengan hati. Apabila mereka ingat Alloh dengan makna awal, dalam artian mereka ingat akan keagunganNya, maka mereka takut akan hukumanNya dan menegakkan dalam rangka agamaNya menghindari siksaNya. Apabila mereka ingat Alloh dengan makna kedua yaitu ingat akan rahmat dan pahalaNya maka mereka berusaha melaksanakan syariatNya agar bisa sampai kepadaNya. Maka mengingat yang pertama sebagai bentuk menghindar (dari siksaNya) dan mengingat yang kedua sebagai bentuk pengharapan (rahmatNya). Seorang hamba yang berharap rahmatNya lebih utama kedudukannya dari pada yang menghindar (takut) dari siksanya. Para ulama berkata: Karena orang yang berharap ia memurnikan (pengharapannya) baik ketika yang diharap tidak hadir maupun ketika hadir. Sedangkan orang yang menghindar (siksaNya) dia memurnikannya ketika hadir yang ditakuti sedangkan ketika tidak hadir (yang ditakuti) dia tidak memperdulikannya. Dan bisa jadi hal ini diambil dari perkataan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
ان تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك
"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu".
Dan dzikir dengan lisan bisa jadi maksdunya adalah dzikir khusus seperti: Lailaha illalloh sebagaimana yang disebutkan oleh Setan bahwa dia berkata:
أهلكت بني آدم بالمعاصي، وأهلكوني بلا اه الا الله والإستغفار
"Anak Adam telah binasa dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Dan mereka membinasakanku dengan ucapan Lailaha illalloh dan istighfar"

Maka dzikir kepada Alloh -tanpa diragukan- merupakan sebab-sebab diampuni dosa-dosanya. Maka mereka mengingat Alloh dengan lisan-lisan mereka dengan mengucapkan: lailaha illalloh -ucapan pemurnian-. Jika seseorang mengucapkannya dengan ikhlas maka Alloh akan mengampuninya. Dan demikian pula dzikir kepada Alloh dengan istighfar: Allohummaghfirli atau astaghfirulloh atau yang semisal dengannya.

Dan dzikir dengan perbuatan yaitu mereka mengerjakan amal-amal yang bisa menutup dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan ini. Diantaranya yaitu shodaqah; sesungguhnya nabi -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:
الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار
"Shodaqah itu menghapuskan kesalahan-kesalahan sebagaimana air yang memadamkan api" (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)
Demikian pula sholat; seseorang apabila berwudhu dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian sholat 2 rekaat dengan khusyu' maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Dan firmanNya:  فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ "lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya" yakni kemudian mereka mengingat Alloh dan beristighfar atas dosa-dosanya; yaitu memohon ampunan kepada Alloh -subhanahu wa ta'ala- atas dosa-dosanya. Dan telah berlalu bagi kita bahwa maghfiroh yaitu ditutupinya dosa-dosa dan dimaafkan. Dan firmanNya لِذُنُوبِهِمْ Adz-Dzunub yaitu maksiat-maksiat dan dosa-dosa. Maka mereka memohon kepada Alloh -ta'ala- agar mengampuni maksiat-maksiat dan dosa-dosa mereka. Apabila manusia memohon ampun kepada Robb-nya dengan niat yang benar dan merasa butuh kepadanya maka Alloh -ta'ala- akan mengampuninya. Oleh karenanya Alloh berfirman:  وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ "dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?" Dan مَنْ adalah isim istifham dan bukan isim syarat. Dalil bahwa ini adalah isim istifham dan bukan isim syarat adalah karena fi'il setelahnya marfu' وَمَنْ يَغْفِرُ. Kemudian adatul istbat (kata penetapan) datang setelahnya yaitu kata إِلَّا. Oleh karenanya kita katakan: مَنْ adalah isim istifham dengan makna penafikkan. Dan yang menunjukan bahwa مَنْ bermakna penafikkan yaitu datangnya penetapan setelahnya yaitu إِلَّا اللَّهُ.

Jika ada yang berkata: Apa faidah dari penafikkan dengan bentuk istifham (pertanyaan)? Lalu kenapa ayatnya tidak seperti pada hadits Abu Bakar -radhiyallohu 'anhu- yang diajari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda:
اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا وﻻ يغفر الذنوب إﻻ أنت
"Ya Alloh, sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku dengan kedzaliman yang banyak dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau".
Dan ayat ini datang dengan firmanNya:
 وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
"dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?"?

Maka kita katakan: Sebab penafikkan dengan bentuk istifham(pertanyaan) lebih dalam maknanya dari pada sekedar penafikkan. Jika ada penafikkan dengan bentuk istifham berkesan menantang. Seolah-olah orang yang bertanya berkata: "Datangkan kepadaku begini dan begini. Datangkanah seseorang kepadaku yang bisa mengampuni dosa selain Alloh -azza wa jala-. Sehingga istifham di sini menunjukkan kepada penafikkan yang mengesankan tantangan.

FirmanNya:
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
FirmanNya: وَلَمْ يُصِرُّوا (Dan mereka tidak meneruskan) adalah athaf dari firmanNya: ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ ((segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya).
Makna  يُصِرُّوا yakni terus menerus dan tetap di atas dosa yang dia kerjakan, sebab orang yang meminta ampunan tidak mungkin meneruskan perbuatan dosanya. Dia berucap "Ya Alloh Ampunilah aku" sedangkan dia tetap pada maksiatnya; ini adalah olok-olokan dan ejekan. Oleh karenanya Alloh berfirman:مَا فَعَلُوا (perbutan yang dia kerjakan) dari perbuatan keji dan kedzoliman atas diri sendiri.

FirmanNya: وَهُمْ يَعْلَمُونَ (sedangkan mereka mengetahui).
Mengandung kemungkinan menjadi istisnaiyah dari وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا (Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu). Yakni,artinya ini datang sebagai kalimat baru. Maka maknanya: mereka ini mengetahui besarnya besarnya dosa-dosanya, dan mereka mengetahui agungnya Dzat yang dia maksiati. Oleh karenanya mereka tidak terus-menerus atas perbuatannya.
Mungkin juga adalah wawu sebagai haal, yakni: Mereka tidak terus menerus melakukan perbuatan dosanya dalam keadaan mereka mengetahui bahwa terus menerus meakukan dosa tidak akan mendapatkan ampunan.
Atau mereka mengetahui bahwa hal itu adalah dosa.
Ayat ini maknanya tidak lepas dari ketiga kemugkinan ini. Maka kita katakan berdasarkan kaidah bahwa ayat ini mengandung semua kemungkinan ini. Setiap makna yang terkandung dalam ayat dan tidak bertentangan di antara makna-maknanya maka wajib menerima seluruh maknanya. Jika makna-maknanya ada yang bertentangan maka dicari yang rajih (kuat); sebab tidak mungkin menggabungkan suatu makna tertentu dengan makna lain yang bertentangan.

Di antara faidah ayat yang mulia ini:
1. Bahwasannya orang yang bertaqwa itu tidak maksum dari berbuat fahisyah (kekejian) atau mendzalimi diri sendiri; sebab dalam ayat ini Alloh tidak berkata: Dan mereka tidak berbuat kekejian atau mendzalimi diri sendiri, bahkan Alloh berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri"
Sehingga perbuatan fahisyah tidaklah menciderai ketaqwaan apabila pelakunya telah meminta ampunan dan bertaubat. Telah datang hadits dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwasannya beliau bersabda:
كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
"Setiap anak adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat" (HR Ibnu Majah dan Ad-Darimi)
Dan telah shahih bahwa beliau -'alaihi sholatu wa sallam- bersabda:
 لو لم تذنبوا لذهب الله بكم، ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم
"Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Alloh akan melenyapkan kalian lalu mendatangkan suatu kaum yang mereka berbuat dosa lalu mereka meminta ampun kepada Alloh dan Alloh mengampuni mereka". (HR Muslim)
Jadi, yang jadi masalah bukanlah bagaimana seseorang tidak berbuat dosa sebab setiap orang pastilah berbuat dosa, namun yang jadi masalah adalah jika berbuat dosa segera kembali (bertaubat) kepada Alloh.
2. Bahwasannya dosa terbagi atas dua macam: fahisah dan yang di bawahnya. Berdasarkan firmanNya:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ
"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri"
Dan أَوْ di sini menunjukkan tanwii'(ragam). Ini disepakati oleh para ulama bahwa dosa terbagi atas dosa kecil dosa besar. Namun apa definisi dikatakan dosa besar dan dosa kecil? Sebagian ulama berpendapat: bahwasannya dosa-dosa esar itu berbilang. Maka mereka mulai menghitungnya dengan mengatakan dosa besar pertama, dosa besar kedua, kesepuluh....sampai selesai sesuai dengan pengetahuannya tentang dosa-dosa besar.
Sebagian ulama lagi berkata: dosa-dosa besar itu terbatas dan tidaklah berbilang. Makna terbatasi yakni terkait pada sifat bukan pada jumlah. Mereka berkata misalnya: dosa yang ada hadnya di dunia, maka itu adalah dosa besar seperti zina, mencuri dan menuduh berzina. Setiap yang ada hukum had-nya di dunia maka itu adalah dosa besar. Dan setiap dosa yang menyebabkan terlaknat pelakunya adalah dosa besar, misal: "Alloh melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan"(HR Muslim). Misal lain: "Alloh melaknat pelaku suap dan yang disuap" (HR Ahmad) dan yang semisalnya.
Dan setiap dosa yang menyebabkan kemurkaan Alloh maka itu adalah dosa besar. Misalnya firman Alloh -ta'ala- tetang pembunuh:
و غضب الله عليه
"Dan Alloh murka kepadanya" (QS An-Nisa': 93)
Dan setiap dosa yang mendapat ancaman di akhirat dengan dikatakan: Barang siapa yang berbuat demikian maka dia di neraka, da yang semisalnya. Misal:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
"Pakaian yang berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka" (HR Bukhari)

Dan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh-: Setiap yang menyebabkan hukuman secara khusus baik hukuman dunia maupun akhirat maka itu adalah dosa besar. Sedangkan larangan yang tidak disebutkan hukumannya maka itu doa kecil. Beliau berkata misalnya: Menipu adalah dosa besar; sebab Syari (yang menetapkan syariat ini) menjadikan hukuman yang khusus padanya. من غشنا فليس منا "barangsiapa yang menipu kami maka bukan termasuk golongan kami" (HR Muslim 101).
Menykiti tetangga termasuk dosa besar berdasarkan perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره
"Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya"(HR Bukhari dan Muslim).
Batasan yang ditetapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- ini masuk padanya dosa-dosa yang sangat banyak. Akan tetapi -tidak dipungkiri- bahwa apa yang dikatakan oleh beliau -rahimahulloh- bukanlah artinya bahwa dosa-dosa besar itu hanya satu tingkatan; bahkan dosa-dosa besar pun ada yang paling besar dan ada yang paling ringan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: أﻻ أنبئكم بأكبر الكبائر "Maukah kamu aku tunjukkan dosa besar yang paling besar". Dengan demikian kita katakan: dosa terbagi atas dosa kecil dan dosa besar berdasarkan ayat ini. Kemudian, dosa-dosa besar ini berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan dampak yang disebabkannya baik berupa dosa maupun kerusakan.

3. Cepatnya perhatian mereka ketika melakukan dosa-dosa; berdasarkan firmanNya:
إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ
"orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah"
mereka segera bertaubat. Dan bersegera bertaubat adalah sifatnya orang-orang ang bertakwa. Apakah ini wajib?
Jawabnya: Iya. Wajib segera bertaubat; sebab taubat jika datang ajal tidak akan diterima dan manusia tidak pernah tahu kapan ajalnya datang. Dengan demikian wajib bagi manusia bertaubat dari dosa-dosanya dengan segera dan tidak mengundur-undurnya.

4. Bahwasannya mengingat Alloh -azza wa jalla- menjadi sebab taubat dan kembali kepada Alloh; berdasarkan firmanNya:ذَكَرُوا اللَّهَ "mereka mengingat Alloh".

5. Bahwasannya mereka bersegera bertaubat dan permohonan ampun orang-orang yang bertaqwa untuk dosa-dosa mereka; berdasarkan firmanNya: فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ "lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya". Dan bercabang (pembahasan) berdasarkan faidah ini cacatnya kaum yang mengatakan: "Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun dan Maha Penyayang" namun mereka tidaklah memohon ampun kepada Alloh. Sesungguhnya sebagian orang yang berbuat dosa apabila engkau melarangnya dari dosanya, dia berkata: "Alloh Maha Pengampun dan penyayang" namun dia sendiri tidak minta ampun. Padahal orang-orang mulia mereka minta ampun kepada Rabb-nya bahkan Alloh memerintahkan Nabinya -'alaihis Sholatu wa sallam- untuk memohon ampun, maka bagaimana denganmu orang yang berada dibawah mereka. Alloh -ta'ala- berfirman:
 واستغفر لذنبك
"Mohonlah ampun kepada Rabb-mu" (QS Ghafir: 55)
وَٱسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا
"dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS An-Nisa': 106)

6. Tidak ada seorang pun yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Alloh; berdasarkan firmanNya:
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
"dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?"
Dan bercabang pembahasan ini bahwa janganlah engkau bersandar kepada seorang pun dalam pengampunan dosa atau meminta ampunan. Dan hendaklah yang engkau tuju hanya Alloh -azza wa jalla-.


7. Bahwasannya penghulunya orang-orang yang bertaqwa tidaklah terus mnerus dalam melakukan perbuatan fahisyah(perbuatan keji) atau mendzalimi diri mereka sendiri dalam keadaan mereka mengetahuinya.

8. Bahwa seseorang apabila berbuat dosa kemudian mohon ampun, kemudian berbuat dosa lagi kemudian minta ampun, lalu berbuat dosa lagi lalu minta ampun maka Alloh mengampuninya meski berulang melakukan dosa karena Alloh berfirman:
 وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
dan Alloh tidak mengatakan: "Mereka tidak mengulangi perbuatan dosanya".
Manusia tatkala setiap kali berbuat dosa dia meminta ampun maka dia diampuni berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
 قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Az-Zumar: 53)
Dan haruslah tidak memohon ampun dengan lisannya sedaangkan hatinya menyelipkan keinginan untuk mengulangi. Jika demikian keadaannya maka permintaan ampunannya tidak bermanfaat baginya. Namun hendaklah istighfarnya dengan sebenar-benarnya dengan hati dan lisannya. Manusia mungkin saja terkalahkan oleh nafsunya pada waktu yang akan datang sehingga dia berbuat maksiat sedangkan dia telah memohon ampun dari dosanya itu. Maka kita katakan: meskipun engkau telah berbuat dan meskipun terulang perbuatan dosa itu pada dirimu selama engkau memohon ampun maka Alloh -ta'ala- akan mengampunimu.

9. Celaan pada orang yang terus menerus dalam perbuatan dosa sangkan dia mengetahuinya; berdasarkan firmanNya:
 وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
dan Alloh tidak mengatakan: "Mereka tidak mengulangi perbuatan dosanya".
Oleh karenanya para ulama berkata: "Sesungguhnya terus menerus melakukan kemaksiatan kecil akan menjadikannya besar karena terus menerusnya dia di atas dosa menunjukkan akan peremehannya terhadap yang dimaksiati (Alloh -ta'ala).

Bersambung ...

Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati






0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)