Tafsir QS Ali Imron Ayat 136
Firman Alloh -ta'ala_ selanjutnya:
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
"Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal". (QS Ali Imron: 136)
* Lafadz أُولَٰئِكَ di sini adalah isim isyarat dan khitob. Isyarah dari lafadz 'ula' dan khitob dari huruf kaf. Dan harus kita ketahui bahwa dari sisi bahasa Arab bahwa isim isyarah tergantung pada musyaru ilaih (yang ditunjuk). Adapu kaf Khitob sesuai dengan mukhatab (yang diajak bicara). Lalu jika sesuai dengan mukhotob maka apakah tetap mufrod berfathah dan mabni dengan fathah, atau sesuai dengan mukhotob mudzakkar, muannats, tasniyah, jama' dan mufrod, atau tetap dengan fathah untuk mudzakkar secara mutlak meski jama' atau mutsanna?
Dalam masalah ini ada 3 bahasan dalam bahasa Arab:
PERTAMA: bahwasannya tetap fathah karena mukhotob adalah isim jenis. Jika engkau berkata: ذلك engkau berbicara kepada dua orang. Artinya engkau berbicara kepada keduanya dari jenis laki-laki atau dari jenis manusia.
KEDUA: Fathah untuk mudzakkar secara mutak. Kasrah untuk muannats secara mutlak. Makna mutlak yaitu sesuai dengan tatsniyah, jama' dan mufrodnya.
KETIGA: ini yang paling fasih bahwasannya tergantung kepada yang diajak bicara secara mutlak. Jika mukhotob mufrod mudzakkar maka dengan fathah mufrod. Jika mutsanna dengan tastniyah. Jika jama' mudzakkar maka ditambah dengan mim. Jika jama' muannats maka bersambung dengan nun. Sebagaimana perkataan wanita: فَذَلِكُنَّ (QS Yusuf: 32)sebab dia (istri Aziz) berbicara kepada jamaah wanita. Dan perkataan Yusuf -alaihis salam-: ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ ۚ (Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku).(QS Yusuf: 37) karena beliau berbicara kepada dua orang laki-laki. Dan perkataan Musa -alaihis salam-: ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ "dan itu adalah lebih baik bagimu"(QS Al-Baqarah: 54) sebab beliau berbicara kepada jamaah laki-laki. Ini yang lebih tepat.
Di sini Alloh berfirman: أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ khitob kepada satu orang yaitu "mereka itulah wahai fulan (mukhottob)". Dan isyarah kepada jama' yaitu أُولَٰئِكَ "Orang-orang yang bertaqwa itu wahai fulan(mukhottob)".
* Makna جَزَاؤُهُمْ yakni pahala mereka dan balasan atas amalan-amalan mereka adalah ampunan Robb mereka sehingga menjadi penyelamat dari neraka. -Dan وَجَنَّاتٌ (surga) - dengan ampunan itu mendapatkan yang diinginkan di surga yang penuh kenikmatan.
* Makna مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ yakni dimaafkan dan diampuni dosa-dosanya dan ditutupi dari para makhlukNya
* Makna وَجَنَّاتٌ (surga-surga)adalah bentuk jama' karana surga memiliki tingkatan-tingkatan yang banyak dan kedudukan yang berbeda-beda. Manusia berbeda-beda di dalamnya sesuai dengan amal-amal mereka. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam- telah mengkhabarkan bahwa penduduk surga saling memandang kamar-kamar (di surga) sebagaimana kita melihat bintang kejora yang bekilauan di langit timur. Para shahabat bertanya: Ya Rasululloh, itu adalaah kedudukannya para nabi yang tidak didapatkan oleh selain mereka? Beliau mejawab: "Benar, demi yang jiwaku ditanganNya, (dan juga)para laki-laki yang beriman kepada Alloh dan membenarkan para Rasul"(HR Bukhari dan Muslim).
Inilah kedudukan mereka. Kami memohon karuniaMu, Ya Alloh. Ya Alloh jadikanlah kami termasuk golongan mereka.
Kedudukan ini manusia bertingkat-tingkat di dalamnya. Penghuni surga saling melihat kamar-kamar tersebut sebagaimana kita meihat bintang kejora yang berkilauan di langit timur. Sangat jauh sekali. Bukanlah di atas setinggi kepala-kepala mereka namun sangat jauh sekali.
Surga itu bertingkat-tingkat oleh karenanya (datang dengan lafadz) jama'. Dan yang paling tinggi adalah Firdaus karena di atasnya adalah Arsy Alloh -azza wa jalla-, letaknya di tengah-tengah surga, surga tertinggi dan darinya mengalir sungai-sungai surga. Alloh mensifatinya dengan jannah (taman surga) sebab di dalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan yang tak pernah terbayangkan oleh angan. Surga adalah negeri yang esensi dan hakikatnya tidak mungkin bisa dijangkau oleh (akal)manusia sebab surga terlalu agung untuk bisa dijangkau oleh imajinasi kita. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌۭ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍۢ
"Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang" (QS As-Sajdah: 17)
Alloh -ta'ala- berfirman dalam hadits Qudsi:
أعددت لعبادي الصالحين ماﻻ عين رأت وﻻ أذن سمعت وﻻ خطر على قلب بشر
"Aku telah sediakan bagi para hambaku yang sholih sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, belum pernah di dengar telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia" (HR Bukhari dan Muslim)
* Firman Alloh: جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا "surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai".
"Di bawahnya..." kata ulama: yaitu di bawah istana-istana dan pepohonan surga bukan dibawah tanah surga sebab seandainya di bawah tanahnya niscaya adanya di dasarnya. Namun sungai-sungai ini mengair di tanah dataran surga di bawah istana-istana dan pepohonannya. Dan telah datang riwayat bahwa sungai-sungai ini mengalir tanpa butuh parit dan selokan (diriwayatkan At-Thobrony dalam tafsirnya dari Masyruq dan para perawinya adalah tsiqah). Dalam hal ini Ibnul Qayyim-rahimahulloh- berkata dalam Nuniyahnya:
أنهارها في غير أخدود جرت ، سبحان ممسكها عن الفيضان
"Sungai-sungainya mengalir tanpa parit-parit;
Alloh -yang Maha Suci- menahannya agar tidak banjir"
Mengalir di atas tanah tanpa parit-parit yaitu irigasi namun megalir kemana pun diiginkan manusia.
FirmanNya: الْأَنْهَارُ adalah jama' dari nahr. Alloh -ta'ala- telah menjelaskan dalam surat Muhammad bahwa sungai surga ada 4 macam:
فِيهَآ أَنْهَـٰرٌۭ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍۢ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّن لَّبَنٍۢ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُۥ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ خَمْرٍۢ لَّذَّةٍۢ لِّلشَّـٰرِبِينَ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ عَسَلٍۢ مُّصَفًّۭى ۖ
"di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring" (QS Muhammad: 15)
فِيهَآ أَنْهَـٰرٌۭ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍۢ
"di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya" yakni tidak menjadi payau berbeda dengan air di dunia yang terkadang menjadi payau atau berubah (rasa dan baunya). Air di dunia jika telah lama dan menggenang maka berubah. Ada pun air surga maka tidak berubag.
نٍۢ وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّن لَّبَنٍۢ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ
"sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya" berbeda dengan susu di dunia yang menjadi berubah dan rusak jika telah lama.
وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ خَمْرٍۢ لَّذَّةٍۢ لِّلشَّـٰرِبِينَ
"sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya"
lezat karena;
لَا فِيهَا غَوْلٌۭ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
"Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya"(As-Shaffat: 47)
Tidak membuat pusing kepala dan tidak membunuh akal dan sangat lezat. Keempat:
وَأَنْهَـٰرٌۭ مِّنْ عَسَلٍۢ مُّصَفًّۭى
"sungai-sungai dari madu yang disaring" yakni sungai-sungai dari madu. Bukan dari madu tawon yang sebagiannya atau kebanyakannya bercampur lilin. Akan tetapi ini adalah dari madu yang telah dibersihkan.
*FirmanNya: خَالِدِينَ فِيهَا "mereka kekal di dalamnya"; yakni mereka tinggal di dalamnya sangat lama sekali. Dan dalam ayat yang lain menunjukkan bahwa kekalnya ini adalah kekal yang abadi. Para ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa surga ini dikekalkan dengan kenikmatan yang ada di dalamnya.
* FirmanNya: وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ "Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal"
Ini adalah kalimat insyaiyah untuk sanjungan dan pujian. Pujian untuk pahala yang agung ini " أَجْرُ الْعَامِلِينَ" yakni pahala mereka. Alloh pemilik Anugerah dan kebaikan menjadikannya sebagai pahala agar manusia menjadi tenang mendapatkannya tatkala dibawakan balasannnya. Namun jika tidak demikian, maka anugerah itu adalah milik Alloh -azza wa jalla- awal dan akhirnya. Akan tetapi, Alloh memberikan anugerah kepada kita -alhamdulillah- untuk beramal, kemudian Alloh memberikan anugerah selanjutnya dengan pahala. Alloh berfirman:
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَـٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَـٰنُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)".(QS Ar-Rahman: 60)
Seakan-akan kita adalah orang-orang yang berbuat kebaikan secara mandiri. Apabila kita berbuat baik maka balasan akan baik untuk kita padahal Alloh -subhanahu wa ta'ala- yang membaguskan pahala itu untuk kita dari awal hingga akhir. Alloh -jalla wa 'ala- berfirman:
إِنَّ هَـٰذَا كَانَ لَكُمْ جَزَآءًۭ وَكَانَ سَعْيُكُم مَّشْكُورًا
"Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)".(QS Al-Insan: 22)
Subhanalloh!!! Alloh yang telah mengkaruniai kita beramal, memberi taufiq kepada kita, menolong kita untuk mengerjakan amalan tersebu kemudian Alloh memberi pahala kepada kita karenanya. Inilah, demi Alloh, Dia adalah Maha Pemberi Karunia dan Kebaikan, bagiNya segala pujian dan rasa syukur dipanjatkan.
FirmanNya: وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ "Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal" yaitu orang-orang yang beramal untuk mendapatkan pahala yang agung ini.
FirmanNya: وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ "Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal" kita katakan menurut i'rabnya: أَجْرُ adalah fa'il (pelaku). Dan yang dikhususkan dihilangkan taqdirnya: وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ هو atau Al-Jannah (surga).
Faidah Ayat ini antara lain:
1. Penjelasan balasan bagi orang-orang yang bertaqwa bahwasannya balasan itu tidaklah bisa bayangkan manusia, sebab balasan itu lebih agung dari pada apa yang dibayangkan.
2. Bahwasannya balasan itu mencakup diperolehnya apa yang diharapkan dan dijauhkan dari hal yang dibenci. Ini disimpulkan dari firmanNya: الْمَغْفِرَةٌ (ampunan) dan الجنة (surga). Dengan ampunan dijauhkan dari perkara yang dibenci, dan dengan jannah (surga) diperoleh hal yang diharapkan.
3. Bahwasannya ampunan Alloh kepada seseorang adlah sebesar-besar pahala. Janganlah lalai untuk memperbanyak minta ampunan. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala turun surat An-Nashr beliau memperbanyak dalam ruku' dan sujudnya dengan bacaan:
سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي
"Maha Suci Engkau ya Alloh, Tuhan kami. Dan dengan memujiMu ya Alloh ampunilah aku" (HR Bukhari dan Muslim)
4. Penjelasan keadaan surga-surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa dan yang digambarkan dengan firmanNya: تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ "mengalir di bawahnya sungai-sungai" berupa nikmat yang agung.
5. Bahwasannya penduduk surga kekal di dalamnya, berdasarkan firmanNya: خَالِدِينَ فِيهَا "mereka kekal di dalamnya". Dan dalil-dalil menunjukkan bahwa kekekalan ini abadi.
6. Besarnya pahala ini; sebab Alloh yang Maha Agung apabila memuji sesuatu menunjukkan agungnya sesuatu tersebut. Alloh -subhanahu wa ta'ala- adalah Maha Agung dan Dia telah memuji nikmat ini.
7. Penjelasan karunia Alloh -'azza wa jalla- kepada para hamba-hambaNya yang telah menjadikan balasan ini sebagai pahala yang diharuskan yang pasti akan didapatkan hamba.
Apabila ada yang berkata: Bagaimana kita mengkompromikan ayat-ayat ini dengan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam:
لن يدخل أحدا عمله الجنة،قالوا: وﻻ أنت يارسول الله؟ قال: ﻻ وﻻ أناإﻻ أن يتغمدني الله بفضل و رحمة
"Amalan seseorang sekali-kali tidak akan bisa memasukkannya ke surga". Para shahabat bertanya "Tidak juga engkau wa hai Rasululloh?" Beliau menjawab: "Tidak. Bahkan tidak pula aku, kecuali karena Alloh melimpahkan karunia dan rahmatNya kepadaku" (HR Bukhari dan Muslim)
Sedangkan dzahir ayat yang kita bahas ini bahwa surga ini yang disediakan untuk mereka adalah sebagai balasan dan pengganti terhadap apa yang telah mereka kerjakan?
Jawaban dari pertanyaan ini kita katakan: bahwasannya perkataan Rasulullah -shollallohu 'alaihi wa sallam-: "Amalan seseorang sekali-kali tidak akan bisa memasukkannya ke surga" yakni sebagai bentuk imbalan yang setara; yakni bahwa pahalanya adalah sebagai pengganti amalannya. Adapun amal itu hanyalah di antara sebab-sebab (mendapatkan pahala); akan tetapi Alloh dengan karuniaNya menjadikan pahala tersebut sebagai penggantinya. Ini yang tepat. Maka amalan-amalan kita adalah sebab (mendapat pahala) meski seandainya dbandingkan dengan nikmat Alloh tidak ada apa-apanya. Seandainya engkau kumpulkan semua nikmat Alloh yang ada pada dirimu dan engkau sandingkan dengan amalanmu niscaya amalanmu sangatlah kecil sekali dan sama sekali tidak bisa menyamainya. Sebagian penyair berkata:
إذا كان شكري نعمة الله نعمة عليَّ له في مثلها يجب الشكر
فكيف بلوغ الشكر إﻻ بفضله وإن طالت الأيام واتصل العمر
"Apabila syukurku adalah nikmat Alloh yang menjadi nikmat bagiku,
maka syukurku ini adalah nikmat serupa yang mengharuskan syukur,
Bagaimana bisa syukur ini terealisasi kecuali dengan karuniaNya,
meskipun hari-hari telah berlalu dan telah habis usia"
Seandainya seseorang tertimpa sesak nafasnya niscaya dia akan mengorbankan apa pun yang dimiliki supaya hilang musibah itu. Demikian pula dengan kencing, buang air besar, pendengaran, penglihatan, dan lain sebagainya. Nikmat yang besar yang tidak sebanding dengan amalan.
Apabila engkau diberi taufiq untuk bersyukur maka syukurmu kepada Alloh adalah nikmat; karena Alloh -ta'ala- berfirman:
وَقَلِيلٌۭ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih" (QS Saba': 13)
Betapa banyak orang yang kufur atas nikmat Alloh. Kemudian jika engkau bisa bersyukur kepada Alloh, maka itu adalah nikmat yang butuh kepada syukur juga. Jika engkau diberi taufik untuk mensykuri syukurmu maka itu adalah nikmat ketiga yang membutuhkan syukur lagi dan demikian seterusnya, oleh karenanya penyair berkata:
"Bagaimana bisa syukur ini terealisasi kecuali dengan karuniaNya,
meskipun hari-hari telah berlalu dan telah habis usia"
Al Mushirru (orang yang terus menerus berbuat maksiat) yaitu orang yang tetap melakukan dosa dan seolah-olah dia tidak berdosa. Adapun manusia yang bertaubat kemudian dia dikalah oleh nafsunya di kemudian hari dan melakukan maksiat maka ini tidak (dikatakan) terus menerus berbuat dosa. Hal ini telah datang (hadits) dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أن رجلا أذنب فاستغفر، ثم أذنب فاستغفر،ثم أذنب فاستغفر،ثم أذنب فاستغفر،فقال الله تعلى: علم عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به، قد غفرت لعبدي فليعمل ما شاء
"Sesungguhnya seseorang berbuat dosa lalu minta ampun kepada Alloh, kemudian berbuat dosa lagi lalu meminta ampun kepada Alloh, kemudian berbuat dosa lagi lalu meminta ampun kepada Alloh, kemudian berbuat dosa lagi lalu meminta ampun kepada Alloh; kemudian Alloh -ta'ala- berfirman: "Hambaku ini mengetahui bahwa dia memiliki Rabb (Tuhan) yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosanya. Sungguh aku telah mengampuni hambaku ini; silahkan dia melakukan sekehendaknya" (HR Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang tatkala berbuat dosa lalu beristighfar (memohon ampunan), dan tatkala beristigfar dia mengulangi berbuat dosa maka tidaklah membatalkan taubatnya yang sebelumnya.
Seseorang yang bertaubat dari suatu dosa namun dia masih melakukan dosa yang lain apakah taubatnya ini diterima ataukah tidak?
Telah kami sebutkan bahwa pada permasalahan ini terdapat khilaf di antara para ulama -rahimahumulloh-. Di antara mereka ada yang berkata: Tidak diterima. Di antara mereka ada yang berpendapat: Ditrima secara mutlak. Dan ada yang berpenapat: Jika dosa yang masih dia lakukan dari jenis dosa yang dia bertaubat darinya, maka tobatnya tidak diterima. Namun jika bukan dari dosa yang sejenis maka diterima. Misal: Jika bertaubat dari menipu manusia saat jual beli namun dia masih menipu manusia saat sewa-menyewa maka tidak diterima taubatnya, sebab dua dosa ini dari satu jenis dosa meskipun berbeda tempat menipunya. Namun yang benar adalah bahwa taubatnya diterima jika dia bertaubat dari dosa meskipun dia masih melakukan dosa yang sama atau sama jenisnya. Namun dia tidaklah mendapatkan kesempurnaan sifat secara mutlak dalam pujian terhadap orang-orang yang bertaubat; yakni dia tidaklah termasuk pada firmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (QS Al-Baqarah: 222)
Hanya saja dikatakan: Ini adalah taubat yang muqayyad (terkait pada kondisi tertentu).
Sumber Rujukan dari Tafsir Syaikh Utsaimin dengan mengambil point-point yang kami anggap penting.
Abu Unais Pati
_Selesai_



0 komentar:
Posting Komentar