“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 30 Juni 2020

Perkara Yang Dimakruhkan Bagi Orang Yang Buang Hajat


Pembahasan ke-5: Perkara yang dimakruhkan bagi orang yang buang hajat.
Makruh saat buang hajat menghadap arah angin berhembus tanpa penutup agar air kencingnya tidak kembali mengenai dirinya. Dimakruhkan bercakap-cakap. 

فقد مرّ رجل والنبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يبول، فسلَّم عليه، فلم يردّ عليه

"Sungguh seorang lewat sedangkan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sedang kencing. Dia mengucapkan salam kepada beliau namun beliau tidak membalas" (HR Muslim)

Dan dimakruhkan juga kencing di lubang dan yang semisalnya berdasarkan hadits Qatadah dari Abdullah bin Sarjas:
Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang kencing di lubang. Dikatakan kepada Qatadah: Kenapa dengan lubang? Dia berkata: dikatakan bahwa lubang tempat tinggal jin" (HR Abu Dawud dan An-Nasa'i).
Dan karena dikhawatirkan di dalamnya ada binatang sehingga mengganggunya atau menjadi tempat bagi jin sehingga menyakiti mereka.

Dan makruh masuk WC dengan membawa sesuatu yang di dalamnya ada lafadz dzikir kecuali karena suatu kepentingan. Sebab, nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
كان إذا دخل الخلاء وضع خاتمه
"Apabila beliau hendak masuk WC beliau meletakkan cincinnya"(Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Ada pun ketika ada kepentingan dan darurat maka tidak mengapa seperti kepentingan masuk dengan membawa uang kertas yang di dalamnya ada nama Alloh sebab jika dia meninggalkannya di luar mudah diambil pencuri atau pun lupa.

Adapun mushaf maka haram membawanya (ke WC) sama saja apakah kelihatan atau pun tidak kelihatan sebab ia adalah firman Alloh semulia-mulia perkataan. Dan masuk WC dengan membawanya adalah termasuk pelecehan.

Diterjemahkan dari Al-fiqh Al-Muyassar

المسألة الخامسة: ما يكره فعله للمُتَخَلِّي:
يكره حال قضاء الحاجة استقبال مهب الريح بلا حائل؛ لئلا يرتد البول إليه، ويكره الكلام؛ فقد مرّ رجل والنبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يبول، فسلَّم عليه، فلم يردّ عليه (١).
ويكره أن يبول في شَق ونحوه؛ لحديث قتادة عن عبد الله بن سرجس: (أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نهى أن يبال في الجُحْر، قيل لقتادة: فما بال الجحر؟ قال: يقال: إنها مساكن الجن) (٢). ولأنه لا يأمن أن يكون فيه حيوان فيؤذيه، أو يكون مسكناً للجن فيؤذيهم.
ويكره أن يدخل الخلاء بشيء فيه ذكْرُ الله إلا لحاجة؛ لأن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - (كان إذا دخل الخلاء وضع خاتمه) (٣).
أما عند الحاجة والضرورة فلا بأس، كالحاجة إلى الدخول بالأوراق النقدية التي فيها اسم الله؛ فإنه إن تركها خارجاً كانت عرضة للسرقة أو النسيان.
أما المصحف فإنه يحرم الدخول به سواء كان ظاهراً أو خفياً؛ لأنه كلام الله وهو أشرف الكلام، ودخول الخلاء به فيه نوع من الإهانة.


(١) رواه مسلم برقم (٣٧٠).
(٢) رواه أبو داود برقم (٢٩)، والنسائي برقم (٣٤). ونقل الحافظ ابن حجر في التلخيص (١/ ١٠٦) تصحيحه عن ابن خزيمة وابن السكن. وقال الشيخ ابن عثيمين: أقل أحواله أن يكون حسناً (الشرح الممتع ١/ ٩٥ - ٩٦).
(٣) رواه أبو داود برقم (١٩)، والترمذي برقم (١٧٤٦)، والنسائي برقم (٥٢٢٨)، وابن ماجه برقم (٣٠٣)، وقال أبو داود بعد إخراجه: هذا حديث منكر. وقال الترمذي: هذا حديث حسن غريب.
وضعفه الألباني؛ وعلى القول بضعف هذا الحديث وعدم صلاحيته للاحتجاج في هذه المسألة، فإن الأولى والأفضل ألا يدخل الخلاء بشيء فيه اسم الله بلا ضرورة؛ إكراماً لاسمه تعالى وإجلالاً.
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)