“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 26 Juli 2020

Penjelasan Surat An-Nisaa' ayat 58: Alloh Pemberi Bimbingan Paling Baik

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 209 - 212

Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ
"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" (QS An-Nisa': 58)

Ayat ini adalah lanjutan dari firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil" (QS An-Nisa': 58)

Alloh -azza wa jalla- memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan di antaranya juga persaksiaan atas seseorang baik atau buruknya. Dan agar ketika kita memutuskan perkara di antara manusia dengan adil. Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjelaskan bahwa Dia memerintahkan kepada kita untuk menegakkan kewajiban dalam alur hukum dan hukum itu sendiri. Alur hukum yaitu persaksian masuk dalam keumuman firmanNya: أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا "agar kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya" dan hukum yaitu:  وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن  تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ "dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil". Kemudian Alloh -ta'ala- berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" asalnya adalah: نِعْمَ ما namun mim dan mim diidghamkan dengan idgham kabiir sebab idgham tidak bisa dilakukan diantara dua huruf yang sejenis kecuali jika yang pertama sukun. Dan di sini menjadi idgham dengan huruf pertama fathah.

FirmanNya:  نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu". Alloh -subhanahu wa ta' ala- menjadikan perintah dengan dua hal ini -yakni menunaikan amanah dan memutuskan perkara dengan adil- sebagai pengajaran sebab hal ini bisa menjadikan baiknya hati. Dan setiap yang menjadikan baiknya hati maka itu adalah mauidzah (pengajaran/nasehat). Dan menegakkan perintah-perintah ini tidak diragukan lagi menjadikan baiknya hati.

Kemudian Alloh berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". FirmanNya : كَانَ ini adalah fi'il namun tak terkait dengan waktu 1). Maksudnya adalah penunjukkan pada sifat saja. Yakni, bahwasannya Alloh memiliki sifat maha mendengar dan maha melihat. Hanya saja kita katakan tak terkait dengan waktu sebab seandainya kita tetap membiarkannya dengan penunjukkan waktu (yang telah lampau) niscaya shifat ini telah berakhir2). Dulu di awalnya (Alloh) Maha Mendengar dan Maha Melihat adapun sekarang tidaklah demikian !!!? Jelas diketahui bahwa makna ini jelas rusak dan bathil. Maksudnya hanyalah bahwa Alloh bersifat dengan dua sifat ini yaitu As-Samii(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat) secara terus menerus. Dan كَانَ (kaana) pada konteks ini dimaksudkan untuk tahqiiq (penetapan kebenaran).

FirmanNya:  سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا (Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Kita katakan sebagaimana kita katakan pada ayat sebelumnya: di dalamnya ada penetapan AsSam'u (pendengaran) untuk Alloh dengan dua maknanya 3) dan penetapan Al-Bashr (penglihatan) Alloh dengan dua maknanya 4).

Abu Hurairah membaca ayat ini dan berkata:
إن الرسول الله - صلى الله عليه وسلم- وضع إبهامه سبابته على عينه وأذنه
"Sesungguhnya Rasululloh shoallohu 'alaihi wa sallam- meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya ke matanya dan telinganya"

Maksudnya dengan meletakkan ini adalah sebagai penetapan kebenaran pendengaran dan penglihatan (bagi Alloh) bukan menetapkan mata dan telinga; sebab penetapan tentang mata (bagi Alloh) ada di dalil-dalil yang lain. Adapun telinga (bagi Alloh) menurut ahlus sunnah wal jamaah tidaklah ditetapkan bagi Alloh dan tidak pula dinafi'kan dariNya karena tiada dalil tentang hal itu.
Jika ditanyakan kepadamu: Apakah kita juga mesti melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh -sholallahu 'alaihi wa sallam-?
Jawabnya: Sebagian ulama mengatakan: iya! Lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh. Engkau tidaklah lebih mendapat petunjuk dari pada Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- dan engkau juga tidaklah lebih berhati-hati dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam menyandarkan kepada Alloh apa yang tidak layak bagiNya.
Di antaranya ada yang mengataan: Tidak ada perlunya engkau melakukannya selama kita mengetahui bahwa maksudnya adalah penetapan kebenaran. Dengan demikian, isyarat ini bukanlah yang dimaksudkan namun dimaksudkan untuk hal yang lain (penetapan mendengar dan melihat bagi Alloh pent). Sehingga dengan demikian tidak perlu berisyarat (dengan cara seperti itu -pent) terlebih jika ditakutkan dengan isyarat seperti ini menjadikan manusia mengkhayalkan tamtsil (permisalan); sebagaimana jika di hadapanmu ada orang awam yang mereka tidak memahami sesuatu sebagaimana mestinya; dengan demikian selayaknya menahan diri dari hal ini. Dan setiap perkataan ada tempatnya tersendiri.
Demikian pula riwayat yang datang dari hadits Ibnu Umar bagaimana Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
يَأْخُذُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ بِيَدَيْهِ فَيَقُولُ أَنَا اللَّهُ وَيَقْبِضُ أَصَابِعَهُ وَيَبْسُطُهَا
"Alloh -'azza wa jalla- menggenggam langitlangit dan buinya dengan kedua tanganNya. Lalu berfirman: "Akulah Alloh". Rasululloh menggenggam jari-jarinya dan merenggangkannya" (HR Muslim dari hadits Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma-)

Dikatakan di sini apa yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah.
Dan faidah yang dapat dari iman kepada dua sifat -As-Sam'u dan Al-Bashor-: kita berhati-hati menyelisihi Alloh dalam perkataan-perkataan kita dan perbuatan-perbuatan kita.
Dalam ayat ini terdapat nama-nama Alloh -ditetapkan dua nama yaitu-: As-Samii' (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat). Dan terdapat shifat-shifat Alloh: ditetapkannya pendengaran, penglihatan, perintah dan nasehat (mau'idzoh).

Catatan Penterjemah:
1). Fi'il adalah kata yang menunjukkan suatu kejadian yang terkait dengan waktu, baik waktu lampau (fi'il madhi), sekarang maupun yang akan datang(fi'il mudhari) dan fi'il yang menuntut pekerjaan setelah waktu pembicaraan. Adapun كَانَ ini masuk pada fi'il madhi. Namun dalam konteks ini kata kaana ini penunjukkan waktunya dinafi'kan (ditiadakan). Jadi hanya menjelaskan tentang sifat Alloh saja.
2). Kaana (كَانَ )untuk waktu yang telah berlalu (fi'il madhi)namun sifat Alloh adalah azali dan abadi. Alloh akan senantiasa bersifat dengan sifat maha melihat dan maha mendengar.
3). As-Sam'u (pendengaran) Alloh maknanya: Mengabulkan do'a dan mendengar segala sesuatu.
4). Al-Bashar (penglihatan) Alloh maknanya: mengetahui segala sesuatu dan melihat segala sesuaatu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)