“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 06 Juli 2020

Taisir (72): Larangan Mendahului Gerakan Imam Dalam Sholat


Bab Imamah
Bab ini membahas tentang adab-adab Imam dan makmum serta apa yang diwajibkan bagi keduanya dan yang disunnahkan. Dan di sini juga ada penjelasan yang berkaitan antar keduanya.

Imamah adalah aturan Ilahi. Alloh -subhanahu wa ta'ala- memberi petunjuk kepada kita dengan praktek nyata kepada tujuan-tujuan yang mulia dan tinggi berupa bagusnya ketaatan dan kepatuhan kepada pemimpin di medan jihad dan bagusnya kedisiplinan dan mobilisasi ketentaraan serta gerakan perang. Dan juga pembiasaan dalam kebersamaan dan kedudukan yang sederajad.

Orang kecil berdiri bersama orang besar, orang kaya bersama orang miskin, orang terpandang bersama orang jelata dan lain sebagainya dari rahasia-rahasia yang tidak terbatas. Inilah harapan paling utama yaitu beribadah kepada Alloh -ta'ala- dan tunduk di hadapanNya.

Hadits 72:

عَنْ أبي هُريرة رضيَ الله عنه أنَّ النَبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " أما يَخْشَى الَّذِي يَرفعُ رأسه قَبْلَ الإمام، أنْ يُحَوِّلَ الله رَأسَهُ رَأسَ حِمَارٍ. أوْ يَجْعَلَ الله صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ؟! ".

Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apakah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam itu tidak takut bahwa Alloh akan mengubah kepalanya menjadi kepala himar, atau menjadikan rupanya seperti rupa himar? (HR Bukhari 691 dan Muslim 427 dan ini lafadz Muslim)

Penjelasan Lafadz:
1. Makna أما ; As-Syaukani berkata: أما khafifah (dibaca tanpa tasydid) adalah huruf pembuka dan asalnya adalah ما nafiyah masuk padanya hamzah istifham (untuk pertanyaan). Dan di sini pertanyaan untuk memburukkan.
2. Kata يخشى artinya يخاف (takut). Dan maknanya adalah: "Hendaklah dia takut" sebab tujuan dari pertanyaan di sini adalah pemberitahuan larangan dari mengangkat kepala sebelum imam.

Makna Global:
Dijadikan imam dalam sholat tiada lain supaya diikuti yang mana gerakan makmum dilakukan setelah gerakan imam. Dengan demikian menjadi benarlah mutabaah (keikutsertaan makmum). Apabila makmum mendahuluinya maka menjadi hilanglah tujuan yang hendak dicapai dari sholat bersama imam. Oleh karenanya telah datang ancaman yang keras ini kepada orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam dengan Alloh jadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau menjadikan rupanya seperti rupa himar. Sehingga Alloh mengubah kepalanya dari bentuk yang paling bagus menjadi bentuk yang paling buruk sebagai balasan terhadap bagian tubuh ini yang diangkat (mendahului imam) dan karena adanya celah dalam sholat.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama:
Para ulama bersepakat akan haramnya makmum mendahului imam berdaaarkan ancaman yang keras ini namun mereka berselisih pendapat akan batalnya sholatnya.
Imam Ahmad berpendapat dalam risalahnya "Tidak ada sholat bagi orang yang mendahului imam". Sahabat-sahabat Imam Ahmad berkata: Barang siapa mendahului imamnya satu rukun seperti ruku' atau sujud maka hendaklah ia kembali agar ia melakukan gerakan setelah imamnya. Barang siapa yang tidak melakukan demikian dengan sengaja sampai imam menyusul gerakannya maka batal sholatnya. 

Dan yang shahih adalah apa yang dinyatakan imam Ahmad dalam risalahnya yaitu bahwa hanya mendahului imam secara sengaja membatalkan sholat. Pendapat inilah yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- sebab ancaman berkonsekwensi larangan dan larangan berkonsekwensi fasad (batal sholatnya)

Kesimpulan Hadits:
1. Pengharaman mengangkat kepala ketika sujud sebelum imam serta ancamannya menunjukkan akan larangannya sebab tidaklah ada ancaman kecuali kepada perkara yang diharamkan. Sungguh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengancam dengan perubahan wajah dan hal itu merupakan hukuman yang paling berat.
2. Disamakan juga (secara hukum) seluruh gerakan mendahului imam dan hal ini bukanlah sekedar qiyas semata. Tambahan qiyas yang shahih telah dikeluarkan oleh Al-Bazzar dari hadits Abu Hurairah secara marfu':
الذي يخفض ويرفع قبل الإمام إنما ناصيته بيد الشيطان
"Orang yang merundukkan dan mengangkat kepalanya sebelum imam ubun-ubunnya ada di tangan setan".

3. Wajibnya makmum mengikuti imam dalam sholat.
4. Bahwasannya balasan sesuai dengan amalannya. Tatkala mengangkat pada bagian kepala diganjar dengan ancaman akan dirubah (kepalanya). 
5. Orang yang mendahului imam terancam dengan dirubah kepalanya menjadi rupa himar karena antara dirinya dengan keledai terdapat keserupaan dalam kebodohan dan kepandiran sebab orang yang mendahului imam andainya mengetahui niscaya dia tidak akan melakukan gerakan sholat dengan mendahului imamnya. Tidak ada untungnya mendahului imam justru menunjukkan kebodohan dan lemahnya akal.
6. Mendahului imam menunjukkan keinginannya untuk buru-buru keluar dari sholat. Penyakit itu obatnya adalah memperingatkan pelakunya bahwa dia tidak akan salam sebelum imam.
7. Ancaman dengan perubahan rupa menjadi himar bagi orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam adalah hal yang mungkin. Akan tetapi belum ada realitanya. Dan bisa jadi maksud dari perubahan rupa adalah perubahan tabiat menjadi dungu seperti keledai.


Diterjemah dari Taisir Alam Syarah Umdatul Ahkam.
بَابُ الإمَامَة
هذا باب يذكر فيه آداب الإمام والمأموم، وما يجب على كُل منهما، ويستحب وفيه بيان علاقة بعضهما ببعض.
والإمامة نظام إلهيّ، يرشدنا الله سبحانه وتعالى فيه- عَملِيّاً- إلى مقاصد سنية، وأهداف سامية، من حسن الطاعة، والاقتداء بالقُوَاد في مواطن الجهاد ومن حسن النظام والتعبئة للأعمال العسكرية، والحركات الحربية، ومن تعود على المواساة والمساواة.

حيث يقف الصغير مع الكبير، والْغَنىُّ مع الفقير، والشريف مع الوضيع، إلى غير ذلك من أسرار تفوت الحصر.
هذا والمقصد الأسمى هو عبادة الله تعالى، والخضوع بين يديه.

الحديث الأول
عَنْ أبي هُريرة رضيَ الله عنه أنَّ النَبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " أما يَخْشَى الَّذِي يَرفعُ رأسه قَبْلَ الإمام، أنْ يُحَوِّلَ الله رَأسَهُ رَأسَ حِمَارٍ. أوْ يَجْعَلَ الله صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ؟! ".
غريب الحديث:
١- "أما": قال الشوكاني: " أما " مخففة- حرف استفتاح وأصلها " ما " النافية، دخلت عليها همزة الاستفهام، وهى- هنا- استفهام توبيخ.
٢- "يخشى": يخاف. والمعنى: فليخَفْ، لأن الغرض من الاستفهام هنا الإشعار بالنهي عن رفع الرأس قبل الإمام.
المعنى الإجمالي:
إنما جعل الإمام في الصلاة ليقتدى به ويؤتم به، بحيث تقع تنقلات المأموم بعد تنقلاته، وبهذا تحقق المتابعة.
فإذا سابقه المأموم، فاتت المقاصد المطلوبة من الإمامة، لذا جاء هذا الوعيد الشديد على من يرفع رأسه قبل إمامه، بأن يجعل الله رأسه رأس حمار، أو يجعل صورته صورة حمار، بحيث يمسخ رأسه من أحسن صورة إلى أقبح صورة، جزاءً لهذا العضو الذي حصل منه الرفع والإخلال بالصلاة.
اختلاف العلماء في السبق:
اتفق العلماء على تحريم مسابقة المأموم للإمام لهذا الوعيد الشديد.
ولكن اختلفوا في بطلان صلاته، فالجمهور أنها لا تبطل.
قال الإمام أحمد في رسالته " ليس في سبق الإمام صلاة ". وأصحاب الإمام يقولون: من سبق إمامه بركن كركوع أو سجود، فعليه أن يرجع ليأتي به بعد الإمام، فإن لم يفعل عمداً حتى لحقه الإمام فيه، بطلت صلاته.
والصحيح ما ذكره في الرسالة من أن مجرد السبق عمدا يبطل الصلاة وهو اختيار شيخ الإسلام "ابن تيمية" رحمه الله، لأن الوعيد يقتضي النهي، والنهي يقتضي الفساد.
الاستنباطات من الحديث:
١- تحريم رفع الرأس في السجود قبل الإمام والوعيد فيه دليل على منعه، إذ لا وعيد إلا على محرم وقد أوعد عليه بالمسخ وهو من أشد العقوبات.
٢- يلحق بذلك مسابقة الإمام في كل تنقلات الصلاة وليس ذا من باب القياس وحده فزيادة على القياس الصحيح أخرج البزار من حديث أبي هريرة مرفوعاً " الذي يخفض ويرفع قبل الإمام إنما ناصيته بيد الشيطان ".
٣- وجوب متابعة المأموم للإمام في الصلاة.
٤- أن الجزاء من جنس العمل، فحين كان الرفع في الرأس، جوزِيَ بالوعيد بالمسخ.
٥- توعد المسابق بالمسخ إلى صورة الحمار، لما بينه وبين الحمار من المناسبة والشبه في البلادة والغباء، لأن المسابق إذا كان يعلم أنه لن ينصرف من الصلاة قبل إمامه، فليس هناك نتيجة في المسابقة، فدل على غبائه وضعف عقله.
٦- تدل مسابقة الإمام على الرغبة في استعجال الخروج من الصلاة، وذلك مرض دواؤه أن يتذكر صاحبه أنه لن يسلم قبل الإمام.
٧- الوعيد بتغيير صورة من يرفع رأسه قبل الإمام إلى صورة حمار أمر ممكن، وهو من المسخ، ولكنه لم ينقل وقوعه. ويحتمل أن يرجع المعنى من تحويل الصورة إلى تحويل النحيزة وذلك بأن يصبح بليداً كالحمار.
 
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)