Hadits ke-73:
عَنْ أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ عَنِ النبي صلى الله عليه وسلم قَال: "إِنَّمَا جُعِل الإمام لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَلا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ، فإذا كَبَّرَ فَكَبروا. وإذَا رَكَعَ فَاركعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولوا: رَبَنا لَكَ الحَمْد، وإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَإَذَا صَلَّى جَالِساً فَصَلُّوا جُلُوساً أجْمَعُونَ
Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda: "Dijadikannya imam itu tiada lain supaya diikuti oleh karenanya janganlah kalian menyelisihinya. Apabila dia bertakbir maka bertakbirlah. Apabila dia ruku maka ikutilah ruku'. Apabila dia berkata: samiallohu liman hamidah (Alloh mendengar orang yang memujiNya) maka ucapkanlah "rabbana lakalhamdu" (Wahai Rabb kami, untukmulah seluruh pujian). Apabila Dia bersujud maka ikutlah bersujud. Jika dia sholat dengan duduk maka kalian sholat dengan duduk semuanya"
Hadits ke-74:
عَنْ عَائِشَةَ رَضيَ الله عَنهَا قالَتْ: "صَلى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم في بَيْتِهِ وَهُوَ شَاك فصَلًى جَالِساً، وَصلَّى وَرَاءهُ قَوم قياماً فَأشَار إلَيْهِمْ: أنِ اجْلِسُوا، فلَمَا انصرف قَال: إنَّمَا جُعِلَ الإمَام لِيؤتَمَّ بِهِ، فإذا رَكع فَاركعُوا، وَإِذَا رَفع فَارْفَعُوا، وَإِذَا قال: سمع الله لمن حَمِدَهُ، فقُولُوا: ربَنّاَ وَلَكَ الحمد، وإِذَا صَلى جَالِساً فصَلوا جُلُوساً أجْمَعُونَ
Dari Aisyah -radhiyallohu 'anha- berkata: Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- di rumahnya sedangkan beliau sakit maka beliau sholat dengan duduk dan sholat di belakangnya suatu kaum dengan berdiri. Beliau memberi isyarat agar mereka duduk. Tatkala beliau telah selesai sholat beliau bersabda: "Dijadikan imam itu tiada lain supaya diikuti. Bila dia ruku maka rukuklah kalian. Jika dia bangkit maka bangkitlah kalian. Jika dia mengucapkan samiallohu liman hamidah maka ucapkanlah rabbana lakal hamdu. Apabila dia sholat dengan duduk maka sholatlah kalian dengan duduk seluruhnya".
Penjelasan lafadz:
1. Huruf ف pada lafadz فكبروا (bertakbirlah kalian) dan lafadz فاركعوا (rukuklah kalian) ...hingga akhir; adalah untuk tartib dan ta'qib. Makna tartib hendaklah engkau melakukannya setelahnya. Dan ta'qiib engkau mengikuti setelahnya secara langsung. Tidak membarenginya juga tidak tertinggal darinya.
2. Lafadz جعل termasuk fi'il tahwiil yang memiliki 2 maf'ul biih (obyek): yang pertama naibul fa'il dan yang kedua dihilangkan yang taqdir (perkiraannya) adalah إماما
3. Lafadz أجمعون sebagai ta'kiid (penguat) bagi dhamir jama'.
4. Lafadz شاك adalah fa'il dari شكاية yaitu sakit.
Makna Global:
Dari kedua hadits ini terdapat penjelasan cara makmum mengikuti imam. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- telah membimbing makmum kepada hikmah dijadikannya imam yaitu supaya dicontoh dan diikuti. Maka janganlah dia diselisihi apa pun dalam amalan sholat. Gerakan-gerakannya di perhatikan dengan teliti. Apabila dia bertakbiratul ihram maka kalian pun bertakbir juga. Apabila dia ruku' maka kalian pun ruku' juga setelahnya. Apabila dia mengingatkan kalian bahwa Alloh memperkenankan orang yang memujinya dengan mengucapkan: "samiallohu liman hamidah" maka engkau memuji Alloh -ta'ala- dengan mengucapkan: rabbana lakalhamdu. Apabila dia bersujud maka kalian pun mengikutinya dan bersujud.
Apabila dia sholat dengan duduk karena tidak mampu berdiri -maka untuk merealisasikan mengikutinya- maka kalian sholat sambil duduk meski kalian mampu sholat sambil berdiri.
Aisyah -radhiyallohu 'anha- menyebutkan bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sedang sakit maka beliau sholat sambil duduk sedangkam para shahabat menyangka bahwa mereka harus sholat berdiri karena mereka mampu berdiri. Maka mereka sholat dibelakang beliau dengan berdiri maka beliau memberi isyarat kepada mereka untuk duduk.
Tatkala selesai sholat beliau menjelaskan bahwa imam janganlah diselisihi namun di diikuti untuk merealisasikan keikutsertaan yang sempurna sehingga makmum sholat dengan duduk meski pun mereka mampu untuk berdiri karena imamnya sholat dengan duduk.
Khilaf Para Ulama
Ulama beda pendapat tentang sahnya orang yang mengerjakan sholat fardhu bermakmum kepada orang yang sholat sunnah.
Madzhab Malikiyah dan Hanafiyah serta yang masyhur dari madzhab hanabilah berpendapat tidak sah shalatnya. Mereka berdalil dengan hadits yang kita bahas ini:
إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا
"Dijadikannya imam itu tiada lain untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya"
Dan jika makmum mengerjakan sholat fardhu sedangkan imamnya sholat nafilah berarti keduanya berbeda dalam niat. Padahal poros amal adalah niat.
Asy-Syafi'i, Al-Auza'i dan Ath-Thobari berpendapat akan sahnya orang yang mengerjakan sholat fardhu kepada orang yang sholat sunnah. Dan ini juga riwayat lain dari Imam Ahmad. Sebagian pengikut beliau memilih pendapat ini: Ibnu Qudamah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim mereka berdalil dengan hadits Mu'adz riwayat Bukhari dan Muslim:
كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يرجع فيصلى بقومه تلك الصلاة
"Ia sholat bersama Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- kemudian kembali lalu sholat mengimami kaumnya dengan sholat tersebut"
Mereka juga berdalil:
أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بطائفة من أصحابه في صلاة الخوف ركعتين، ثم سلًم، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، ثم سلم
"Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat mengimami sekelompok dari para shahabatnya pada sholat khouf dua rekaat kemudian salam. Kemudian sholat dengan kelompok yang lain dua rekaat lalu salam" (HR Abu Dawud)
Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- di sholat yang keduanya adalah sholat nafilah(sunnah).
Dan makna "maka janganlah kalian menyelisihinya" yakni dalam gerakan-gerakan sholat. Dan mereka yang berpendapat sahnya sholat membantah orang yang mengatakan tidak sahnya sholat (fardhu' bermakmum kepada yang sholat nafilah) dengan mengatakan:
Kalian juga mengatakan sahnya orang sholat fardhu bermakmum kepada orang yang sholat nafilah padahal keduanya berbeda dalam niat seperti yang kalian larang. Sehingga menjadikan pendalilan kalian kontradiktif.
Mereka juga berselisih pendapat tentang sholatnya makmum dengan duduk padahal mampu berdiri yang berada di belakang imam yang tidak mampu berdiri.
Dzohiriyah, Al-Auza'i dan Ishaq berpendapat bahwa makmum sholat di belakang imam yang tidak kuat berdiri dengan duduk meskipun mereka mampu berdiri. Mereka berdalil dengan dua hadits ini dalam permasalahan tersebut dan juga hadits yang serupa maknanya.
Dua Imam yakni Abu Hanifah dan Asy-Syafi'i dan juga juga selain keduanya berpendapat bahwa tidak boleh bagi orang yang mampu berdiri -sholat dibelakang imam yang duduk- kecuali dengan berdiri.
Mereka berdalil dengan riwayat bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat tatkala sedang sakit yang mengantar kepada wafatnya dengan duduk, sedangkan Abu Bakar dan para shahabat di belakang beliau dengan berdiri"(Muttafaqun 'alaih)
Mereka membantah hadits bab ini dan yang semisalnya dengan bantahan yang lemah. Dan yang paling bagusnya adalah dua jawaban berikut:
Pertama: bahwasannya hadits-hadits dalam bab ini dan yang serupa dengan keduanya yang menetapkan sahnya sholat makmum yang duduk karena diimami oleh imam yang tidak mampu berdiri telah terhapus dengan hadits sholatnya beliau sambol duduk ketika sakit yang mengantarkan beliau wafat sedangkan para shahabat sholat di belakang beliau dengan berdiri. Dan beliau tidak menyuruh mereka dengan duduk.
Ini adalah jawaban Imam Syafi'i dan yang selain beliau.
Imam Ahmad mengingkari penghapusan hukum ini. Secara asal tidak ada nasikh (penghapusan hukum) di antara nash-nash syar'iyyah. Dan meski memungkinkan jama' (kompromi) antar nash-nash ini wajib merujuk kepadanya karena bisa diamalkan seluruhnya.
Jawaban Kedua, bantahan bagi mereka yang menyelisihi hadits-hadits pada bab ini: klaim pengkhususan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau mengimami sambil duduk dan tidak boleh bagi seorang pun setelah beliau. Ini adalah jawaban Imam Malik dan yang mengikuti beliau.
Dan yang mengkhususkan ini menurut mereka adalah hadits As-Sya'bi dari Jabir secara marfu':
"Janganlah sekali-kali ada orang setelahku yang mengimami dengan duduk"
Dan aku katakan tentang hadits ini bahwa hadits ini tidak shahih dari sisi manapun.
Ibnu Daqiqil Id berkata: "Telah dimaklumi bahwa secara asal adalah tidak adanya pengkhususan sampai ada dalil yang menunjukkannya.
Hadits dhaif ini yang dijadikan dalil akan adanya pengkhususan bertentangan dengan hadits yang lebih shahih darinya yaitu yang dikeluarkan oleh Abu Dawud:
أن أسَيْدَ بْنَ حُضَيْر كان يؤم قومه، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم يعوده، فقيل: يا رسول الله، إن إمامنا مريض. فقال: " إذا صلى قاعداً، فصلوا قعوداً
"Sesungguhnya Usaid bin Hudhair mengimami suatu kaum. Lalu datang Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- datang mengunjunginya. Ada yang berkata: "Wahai Rasululloh, sesungguhnya imam kami sakit". Beliau lalu bersabda: "Jika imam sholat dengan duduk maka sholatlah kalian dengan duduk".
Imam Ahmad berpendapat pertengahan dari dua pendapat ini, yaitu jika imam rawatib (tetap) memulai mengimami sholat dengan berdiri lalu dia sakit di tengah-tengah sholat lalu imam duduk maka makmum wajib menyempurnakan sholat dengan berdiri sebagai pengamalan hadits sholatnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengimami Abu Bakar dan para shahabat tatkala beliau sakit yang mengantarkan beliau wafat. Jika imam mulai mengimami dengan duduk maka makmum sholat di belakangnya dengan duduk sebagai istihbab(sunnah) sebagai bentuk pengamalan hadits-hadits dalam bab ini dan yang semisalnya. Ini adalah pengkompromian yang bagus sehingga hadits-hadits shahih yang nampak bertentangan bisa dikompromikan.
Tidak diragukan lagi, bahwa penggabungan di antara dalil-dalil -jika hal itu memungkinkan- itu lebih baik dari pada menasakh(menghapus hukum pada dalil -pent) dan tahrif (mentakwil nash). Pengkompromian ini dikuatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany -rahimahullohu ta'ala-.
Kesimpulan hadits:
1. Wajib bagi makmum untuk mengikuti imam dalam sholat dan larangan mendahuluinya.
2. Larangan menyelisihi imam dan batalnya sholat karenanya.
3. Bahwa yang paling utama dalam mutaba'ah adalah amalan makmum dilakukan setelah amalan imam secara langsung. Para ahli fikih berkata: dimakruhkan menyamai dan membarengi imam dalam amalan-amalan sholat ini.
4. Bahwasannya imam apabila sholat dengan duduk -karena tidak mampu berdiri- maka makmum sholat di belakangnya dengan duduk meski mereka mampu berdiri sebagai perealisasian mengikuti imam.
5. Bahwa makmum mengucapkan "ربنا لك الحمد "Wahai Rabb kami bagiMu segala pujian" tatkala imam mengatakan سمع الله لمن حمده ."Alloh mendengar orang yang memujinya". Ibnu Abdil Barr berkata:
لا أعلم خلافاً في أن المنفرد يقول: "-سمع الله لمن حمده ". " ربنا ولك الحمد "
"Saya tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat bahwa orang yang sholat sendirian mengucapkan 'samiallohu liman hamidah' 'rabbana walakal hamdu'.
Ibnu Hajar berkata: Adapun imam maka dia mengucapkan 'sami'alloh liman hamidah' dan memujinya (rabbana wa lakalhamdu), ia menggabungkan keduanya. Telah shahih dalam riwayat Bukhari bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menggabungkan keduanya.
6. Bahwa di antara hikmah dijadikannya imam dalam sholat adalah untuk diikuti.
7. Bolehnya berisyarat dalam sholat untuk suatu kebutuhan.
8. Dalam hadits ini ada penekanan untuk mengikuti imam. Dan hal itu di dahulukan dari amalan-amalan sholat selainnya. Sesungguhnya berdiri (dalam sholat) telah gugur dari makmum yang mampu berdiri padahal hal itu adalah salah satu rukun sholat. Semua itu untuk kesempurnaan mengikuti imam.
9. Dari hadits ini diambil faidah kewajiban taat kepada pemimpin dan waliyul amri dan menjaga persatuan, serta menghindari perselisihan dan perpecahan dengan pemimpin.
Maka syariat ilahiyah ini tiada lain kecuali untuk melatih kita untuk mendengar dan taat serta membaguskan ketaatan dan persatuan di samping beribadah kepada Alloh -subhanahu wa ta'ala-. Betapa agung Islam ini, betapa tinggi syariat-syariatnya dan betapa mulia tujuan-tujuannya.
Semoga Alloh memberikan taufik kaum muslimin agar mereka mau merenungkan agamanya dan mengikutinya sehingga persatuan mereka terjaga, barisan mereka kokoh , menjadi tinggi kalimat-kalimat mereka. Maka tidak ada kebaikan kecuali dalam persatuan dan saling memahami. Dan tiada keburukan kecuali dengan perpecahan dan perselisihan serta perdebatan yang batil.
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar".(QS Al-Anfal: 46)
************
Diterjemah dari Taisir Alam Syarah Umdatul Ahkam.
الحديث الثاني
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه، فإذا كبر فكبروا. وإذا ركع فاركعوا، وإذا قال: سمع الله لمن حمده. فقولوا: ربنا لك الحمد، وإذا سجد فاسجدوا، وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعون ".
الحديث الثالث
عن عائشة رضي الله عنها قالت: "صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيته وهو شاك فصلى جالسا، وصلى وراءه قوم قياما فأشار إليهم: أن اجلسوا، فلما انصرف قال: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فإذا ركع فاركعوا، وإذا رفع فارفعوا، وإذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربنا ولك الحمد، وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعون ".
الغريب:
١- "الفاء الواقعة في (فكبروا) و (فاركعوا) ... إلخ ": للترتيب والتعقيب، ومعنى الترتيب، أن تقع بعده، والتعقيب بأن تليه مباشرة، فلا تساوه ولا تتأخر عنه.
٢- "جعل": من أفعال التحويل تأخذ مفعولين: أحدهما نائب الفاعل، والثاني محذوف تقديره. "إماما".
٣- "أجمعون": تأكيد لضمير الجمع.
٤- "شاك": اسم فاعل من الشكاية وهي المرض.
المعنى الإجمالي:
في هذين الحديثين بيان صفة اقتداء المأموم بالإمام، ومتابعته له.
فقد أرشد النبي صلى الله عليه وسلم المأمومين إلى الحكمة من جعل الإمام وهي أن يقتدي به ويتابع، فلا يختلف عليه بعمل من أعمال الصلاة، وإنما تراعى تنقلاته بنظام فإذا كبر للإحرام، فكبروا أنتم كذلك، وإذا ركع فاركعوا بعده، وإذا ذكركم أن الله مجيب لمن حمده بقوله: " سمع الله لمن حمده " فاحمدوه تعالى بقولكم:
"ربنا لك الحمد". وإذا سجد فتابعوه. واسجدوا. وإذا صلى جالسا لعجزه، عن القيام -فتحقيقا للمتابعة- صلوا جلوسا، ولو كنتم على القيام قادرين.
فقد ذكرت عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم اشتكى من المرض فصلى جالسا وكان الصحابة يظنون أن عليهم القيام لقدرتهم عليه، فصلوا وراءه قياما فأشار إليهم، أن اجلسوا.
فلما انصرف من الصلاة أرشدهم إلى أن الإمام لا يخالف، وإنما يوافق لتحقق المتابعة التامة والاقتداء الكامل، بحيث يصلى المأموم جالسا مع قدرته على القيام لجلوس إمامه العاجز.
اختلاف العلماء:
اختلف العلماء في صحة ائتمام المفترض بالمتنفل.
فذهب المالكية والحنفية، والمشهور من مذهب الحنابلة: إلى عدم الصحة، مستدلين بهذا الحديث الذي معنا "إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه ".
وكون المأموم مفترضا والإمام متنفلا مخالفة بينهما في النية. وهو من أشد أنواع الاختلاف ولأن مدار العمل على النية.
وذهب الشافعي، والأوزاعى، والطبري إلى صحة ائتمام المفترض بالمتنفل، وهى رواية أخرى عن الإمام أحمد، اختارها من أصحابه: ابن قدامة، وشيخ الإسلام ابن تيمية وابن القيم مستدلين بحديث معاذ المتفق عليه: " كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يرجع فيصلى بقومه تلك الصلاة".
ويستدلون أيضا: "أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بطائفة من أصحابه في صلاة الخوف ركعتين، ثم سلم، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، ثم سلم " رواه أبو داود.
والنبي عليه الصلاة والسلام -في الصلاة- الثانية متنفل.
ومعنى " فلا تختلفوا عليه " أي في أفعال الصلاة.
والقائلون بصحة الصلاة، يلزمون غير المصححين لها بأن يقولوا: أنتم أيضا تصححون صلاة المفترض بالمتنفل مع اختلافهما في النية، كالتي تمنعونها، فيلزمكم التناقض في الاستدلال.
واختلفوا أيضا في صلاة المأمومين جلوسا مع القدرة على القيام خلف الإمام العاجز عن القيام.
فذهبت الظاهرية، والأوزاعي، وإسحاق، إلى أن المأمومين يصلون خلف الإمام العاجز عن القيام جلوسا، ولو كانوا قادرين على القيام.
واستدلوا على ذلك بهذين الحديثين، وما ورد في
معناهما.
وذهب الإمامان أبو حنيفة، والشافعي، وغيرهما، إلى أنه لا يجوز للقادر على القيام أن يصلي خلفه القاعد إلا قائما.
واحتجوا "بأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في مرض موته قاعدا، وصلى أبو بكر، والناس خلفه قياما " متفق عليه.
وأجاب هؤلاء عن حديثي الباب ونحوهما بأجوبة ضعيفة، وأحسنها جوابان: الأول: أن حديثي الباب وما شابههما مما يثبت صحة صلاة القاعد العاجز بالقاعد القادر منسوخة بحديث صلاته في مرض موته بالناس قاعدا وهم قائمون خلفه، ولم يأمرهم بالقعود.
وهذا الجواب للإمام الشافعي وغيره.
وأنكر الإمام " أحمد " النسخ، والأصل عدم النسخ بين النصوص الشرعية وأنه مهما أمكن الجمع بينها، وجب المصير إليه، لأنه إعمال لها جميعا. الجواب الثاني من أجوبة المخالفين لحديثي الباب: دعوى التخصيص بالنبي صلى الله عليه وسلم، بأن يؤم جالسا، ولا يصح لأحد بعده.
هذا جواب الإمام " مالك " وجماعة من أتباعه.
والمخصص -عندهم- حديث للشعبي عن جابر مرفوعا: " لا يؤمن أحد بعدى جالسا ".
وأجيب عن هذا الحديث بأنه لا يصح بوجه من الوجوه.
وقال ابن دقيق العيد، قد عرف أن الأصل عدم التخصيص حتى يدل عليه دليل.
وقد عارض هذا الحديث الضعيف المستدل به على التخصيص حديث أصح منه، وهو ما أخرجه أبو داود " أن أسيد بن حضير كان يؤم قومه، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم يعوده، فقيل: يا رسول الله، إن إمامنا مريض. فقال: " إذا صلى قاعدا، فصلوا قعودا ".
وذهب الإمام " أحمد " إلى التوسط بين هذين القولين.
وهو إن ابتدأ بهم الإمام الراتب الصلاة قائما، ثم اعتل في أثنائها فجلس أتموا خلفه قياما وجوبا، عملا بحديث صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بأبي بكر والناس، حين مرض مرض الموت.
وإن ابتدأ بهم الصلاة جالسا صلوا خلفه جلوسا، استحبابا. عملا بحديثي الباب ونحوهما وهو جمع حسن، تتلاقى فيه الأحاديث الصحيحة المتعارضة.
ولاشك أن الجمع بين النصوص -إذا أمكن- أولى من النسخ والتحريف.
وقد قوي هذا الجمع الحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى.
ما يؤخذ من الحديثين:
١- وجوب متابعة المأموم للإمام في الصلاة وتحريم المسابقة.
٢- تحريم مخالفته وبطلان الصلاة بها.
٣- أن الأفضل في المتابعة، أن تقع أعمال المأموم بعد أعمال الإمام مباشرة. قال الفقهاء: وتكره المساواة والموافقة في هذه الأعمال.
٤- أن الإمام إذا صلى جالسا -لعجزه عن القيام- صلى خلفه المأمون جلوسا ولو كانوا قادرين على القيام، تحقيقا للمتابعة والاقتداء.
٥- أن المأموم يقول: " ربنا لك الحمد " حينما يقول الإمام: " سمع الله لمن حمده ". وقال ابن عبد البر: لا أعلم خلافا في أن المنفرد يقول: "-سمع الله لمن حمده ". " ربنا ولك الحمد " وقال ابن حجر: وأما الإمام فيستمع ويحمد، جمع بينهما فقد ثبت في البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجمع بينهما.
٦- أن من الحكمة في جعل الإمام في الصلاة، الاقتداء والمتابعة.
٧- جواز الإشارة في الصلاة للحاجة.
٨- في الحديث دليل على تأكيد متابعة الإمام، وأنها مقدمة على غيرها من أعمال الصلاة، فقد أسقط القيام عن المأمومين القادرين عليه، مع أنه أحد أركان الصلاة، كل ذلك لأجل كمال الاقتداء.
٩- ومنه يؤخذ تحتم طاعة القادة وولاة الأمر ومراعاة النظام، وعدم المخالفة والانشقاق على الرؤساء.
فما هذه الشرائع الإلهية إلا لتعويدنا على السمع والطاعة، وحسن الاتباع والائتلاف، بجانب التعبد بها لله سبحانه وتعالى.
وما أعظم الإسلام وأسمى تشريعاته، وأجل أهدافه!!
وفق الله المسلمين إلى التبصر بدينهم واتباعه، فيجتمع شملهم، وتتوحد صفوفهم، وتعلو كلمتهم فما الخير إلا في الاجتماع والتفاهم، وما الشر إلا بالتفرق والاختلاف، والمراء الباطل. {وأطيعوا الله ورسوله، ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين} .



0 komentar:
Posting Komentar