“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 21 Agustus 2020

Wajibnya Bertawakal Hanya Kepada Alloh

Penulis berkata:

وجوب التوكل على الله وحده
"Wajibnya bertawakal hanya kepada Allah"
Penjelasan:
At-Tawakul (tawakal) secara bahasa maknanya adalah at-tafwiidh (penyerahan). Sebagaimana engkau katakan:
وكلت الأمر إليك
Yakni aku menyerahkan urusan kepadamu.
Secara istilah: Bersandar kepada Alloh dengan sebenar-benarnya dalam menarik manfaat dan menolak mudharat dengan menempuh sebab-sebab yang diizinkan syariat.
Tawakal adalah ibadah hati. Barang siapa memalingkannya kepada selain Alloh maka hal itu merusak tauhid dan keimanannya. Tawakal bertambah seiring bertambahnya iman, dan melemah seiring melemahnya iman. Dan tidak masuk pada pembahasan bab ini seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk menyelesaikan urusannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata:
ترك الأسباب قدح في الشريعة والإعتماد على الأسباب شرك
"Meninggalkan sebab adalah tercela menurut syariat dan bersandar pada sebab adalah kesyirikan".

Ibnul Qayyim berkata dalam Syifa'ul Alil:
من أعظم الجنايات على الشرع ترك الأسباب بزعم أن ذلك ينافي التوكل
"Termasuk sebesar-besar kejahatan pada syariat ini adalah meninggalkan sebab (ikhtiyar) karena menganggap hal itu menafikkan tauhid".

Mengambil sebab-sebab yang disyariatkan menunjukkan kesempurnaan tawakal dan kecerdasannya. Dan meninggalkan sebab menunjukkan kebodohan seseorang terhadap syariat Tuhannya. Barang siapa membaca kisah para nabi terlebih lagi Nabi kita -Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan kisah para shahabat beliau maka dia melihat bahwa mereka termasuk para manusia yang paling besar tawakalnya jika tidak kita katakan yang paling besar bertawakal. Meski demikian sungguh mereka menempuh ikhtiar dan meyakini bahwa hal itu termasuk kesempurnaan tawakal. Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi serta Ibnu Majah dari Umar:
لو أنكم توكلتم عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ،  لَرَزَقَكُمْ  كَمَا  يَرْزُقُ الطَّيْرَ،  تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
"Seandainya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benar tawakal kepadaNya, niscaya Alloh pasti akan memberi rezeki pada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki pada burung, pagi-pagi berangkat dengan perut lapar dan kembali dengan perut kenyang"

Penulis -hafidzahulloh- telah menyebutkan sebagian ayat-ayat tentang tawakal. Semuanya menyebutkan di dalamnya perintah untuk bertawakal kepada Alloh -azza wa jalla-. Dalam ayat yang pertama yaitu firman Alloh -azza wa jalla-

فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal".(QS Ali 'Imran: 159)

Mengambil sebab kemudian bertawakal kepada Alloh. Kemudian Alloh menyebutkan di akhir ayat bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal.

Pada ayat yang kedua Alloh memerintahkan untuk bertawakal kepadaNya dan berpaling dari orang-orang yang bodoh serta tidak adanya ketakutan dari mereka. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

"maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung". (QS An-Nisa': 81)

Pada ayat yang ketiga Alloh memerintahkan kaum muslimin untuk condong kepada perdamaian jika musuh-musuhnya cenderung pada perdamaian. Dan hal itu jika kaum muslimin pada kondisi lemah. Jika tidak demikian maka ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan dalam tafsir Ibnu Jarir; selama tidak dikhawatirkan berkhianat. Dan Alloh memerintahkan bertawakal kepadaNya. Alloh berfirman:

۞وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلۡمِ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
"Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui"(QS  Al-Anfal: 61)

Pada ayat yang keempat Alloh memerintahkan untuk bertawakal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan mati. Berbeda halnya dengan orang yang bertawakal kepada sesuatu yang tidak ada kehidupan padanya atau kepada makhluk yang lemah semisalnya. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ

"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya". (QS Al-Furqan: 58)

Pada ayat yang kelima Alloh memerintahkan untuk bertawakal kepada Alloh Al-Aziz ( Maha Perkasa) lagi Ar-Rahiim(Maha Penyayang). Sehingga hal tersebut menjadi rasa tentram bagi orang-orang yang bertawakal karena dia bertawakal kepada yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang, yang tidak mentelantarkannya dan senantiasa mengawasinya lahir dan batin. Alloh berfirman:
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ، ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ، وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ، إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
"Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang. Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat), dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui“ (QS Asy-Syu'ara: 217-220)

Pada ayat yang keenam Alloh -subhanahu wa ta'ala- memerintahkan untuk teguh di atas agamaNya dan bertawakal kepadaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ

"Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh engkau (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata." (QS An-Naml: 79)

Pada ayat yang ketujuh Alloh -subhanahu wa ta'ala- menyebutkan bahwa tawakal kepadaNya adalah tanda kebenaran iman kepada Alloh. Alloh berfirman:
(وَقَالَ مُوسَىٰ یَـٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ فَعَلَیۡهِ تَوَكَّلُوۤا۟ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِینَ * فَقَالُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةࣰ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ * وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ)
"Dan Musa berkata, “Wahai kaumku! Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang Muslim (berserah diri).” Lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir.” (QS Yunus: 84-86)

Dan firmanNya:
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (QS Al-Ma'idah: 23)

Pada ayat ke delapan Alloh -azza wa jalla- menjelaskan bahwa bertawakal kepadanya adalah termasuk sifat orang beriman. Dan bertawakal kepada Alloh sebab Dia lah yang layak  untuk itu ( dijadikan tempat bertawakal). Alloh -ta'ala- berfirman:
وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ
"Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.”(QS Ibrahim: 12)
Pada ayat-ayat tersebut Alloh -ta'ala- menjelaskan bahwa wajib bertawakal kepadaNya saja -yang tidak ada sekutu bagiNya- dan tidak bertawakal kepada selainNya. (Barang siapa bertawakal kepada selainNya) sungguh dia telah menggantungkan harapannya kepada sesuatu yang tidak bisa memudharatkannya dan tidak pula bisa memberi manfaat kepadanya.

Meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar) dengan anggapan  bahwa hal itu menafikkan tawakkal dan iman adalah kebodohan dan kedunguan, jauh dari pemahaman Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan benar serta bertentangan dengan akal sehat dan fitrah yang lurus.
أَوۡ كَظُلُمَٰتٖ فِي بَحۡرٖ لُّجِّيّٖ يَغۡشَىٰهُ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٞۚ ظُلُمَٰتُۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَىٰهَاۗ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورٗا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ
"Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun" (QS An-Nur: 40)

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 123-127

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)