“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 25 Oktober 2020

Mushtalahul Hadits(1): Definisi dan Manfaat Mempelajari Ilmu Mustholah Hadits


Diterjemahkan dari kitab Mushtalahul Hadits karya Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-

Bagian Pertama dari kitab Musthalahul Hadits
Musthalah Hadits:
1. Definisinya
2. Manfaatnya

A. Definisi Mushtalah hadits
علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القَبول والرد.
"Ilmu untuk mengetahui keadaan rawi(periwayat hadits) dan yang diriwayatkan dari sisi diterima atau pun ditolaknya.

B. Manfaatnya:
معرفة ما يقبل ويرد من الراوي والمروي
Mengetahui rawi dan riwayat mana yang bisa diterima dan ditolak.

Hadits, Khabar, Atsar dan Hadits Qudsi
Hadits: segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berupa ucapan, perbuatan, ketetapan maupun sifat.
Khabar: semakna dengan hadits; didefinisikan sebagaimana definisi hadits.
Dan ada yang mengatakan bahwa khabar adalah apa yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan juga disandarkan kepada selain beliau sehingga lebih umum dan lebih luas dari pada hadits.

Atsar: segala sesuatu yang disandarkan kepada para shahabat atau tabi'in. Dan terkadang juga dimaksudkan untuk hal-hal yang disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dengan taqyid (catatan bahwa itu berasal dari beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam) dengan dikatakan: "Dan dalam atsar yang diriwayatkan dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-..."
Hadits Qudsi: sesuatu yang diriwayatkan oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dari Alloh -ta'ala-. Disebut juga dengan hadits Rabbany dan hadits ilahiy.
Misalnya sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-yang diriwayatkan dari Rabb-nya -ta'ala- bahwa Dia berfirman:
أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم
"Sesungguhnya Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika dia menyebutKu dalam diriNya maka Aku menyebutnya dalam diriKu. Jika dia menyebutKu dalam kumpulan orang banyak maka aku menyebutnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka" (HR Bukhari dan Muslim)

Kedudukan hadits Qudsi berada di antara Al-Qut'an dan Hadits Nabawi. Al-Qur'anul Karim dinisbatkan kepada Alloh -ta'ala- baik secara lafadz dan makna. Hadits Nabawi disandarkan kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- secara lafadz dan makna. Sedangkan hadits Qudsi dinisbatkan kepada Alloh -ta'ala- secara makna namun tidak secara lafadz. Oleh karenanya tidak terhitung ibadah dengan membaca lafadz-lafadznya, tidak dibaca dalam sholat dan tidak ada tantangan kepada orang kafir (untuk membuat yang sepadan dengannya sebagaimana tantangan pada ayat-ayat Qur'an -pent.), tidaklah dinukil secara mutawatir sebagaimana Al-Qur'an bahkan dalam hadits Qudsi ada yang shohih, dhaif (lemah) dan maudhu'(palsu).

القسم الأول من كتاب (مصطلح الحديث)
مصطلح الحديث:
أ - تعريفه ب - فائدته:
أ - مصطلح الحديث:
علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القَبول والرد.
ب - وفائدته:
معرفة ما يقبل ويرد من الراوي والمروي.
الحديث - الخبر - الأثر - الحديث القدسي:
الحديث: ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم من قول، أو فعل، أو تقرير، أو وصف.
الخبر: بمعنى الحديث؛ فَيُعَرَّف بما سبق في تعريف الحديث.
وقيل: الخبر ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وإلى غيره؛ فيكون أعم من الحديث وأشمل.
الأثر: ما أضيف إلى الصحابي أو التابعي، وقد يراد به ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم مقيداً فيقال: وفي الأثر عن النبي صلّى الله عليه وسلّم.
الحديث القدسي: ما رواه النبي صلّى الله عليه وسلّم عن ربه - تعالى -، ويسمى أيضاً (الحديث الرباني) و (الحديث الإلهي)
مثاله: قوله صلّى الله عليه وسلّم فيما يرويه عن ربه - تعالى - أنه قال: "أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم" (١)
ومرتبة الحديث القدسي بين القرآن والحديث النبوي، فالقرآن الكريم ينسب إلى الله تعالى لفظاً ومعنىً، والحديث النبوي ينسب إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم لفظاً ومعنىً (٢) ، والحديث القدسي ينسب إلى الله تعالى معنىً لا لفظاً، ولذلك لا يتعبد بتلاوة لفظه، ولا يقرأ في الصلاة، ولم يحصل به التحدي، ولم ينقل بالتواتر كما نقل القرآن، بل منه ما هو صحيح وضعيف وموضوع.

(١) رواه البخاري (٧٤٠٥) كتاب التوحيد، ١٥- باب قول الله تعالى: (ويحذركم الله نفسه) (آل عمران: ٢٨) . ومسلم (٢٦٧٥) كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار، ١- باب الحث على ذكر الله تعالى.
(٢) يستثنى من ذلك ما علم أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله بالوحي كالإخبار عن المغيبات في المستقبل، وكما في حديث يعلى بن أمية في الذي سأل النبي صلى الله عليه وسلم عمن أحرم بالعمرة وهو متضمخ بطيب، فسكت النبي صلى الله عليه وسلم حتى جاءه الوحي بذلك، فمثل هذا ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم لفظاً لا معنى (المؤلف) .
  

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)