Hadits - 76
عَنْ أبي هُريرةَ رضيَ الله عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إذَا أمّنَ الإمَامُ فَأمّنُوا، فَإنًهُ من وافَقَ تَأمِينُهُ تَأمين اْلملائِكَةِ، غفِرَ له مَا تَقدمَ مِنْ ذَنِبه ".
"Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apabila imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin. Barang siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat maka baginya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR Bukhari dan Muslim)
Makna Global:
Do'a Al-Fatihah adalah do'a yang paling baik dan paling bermanfaatnya. Oleh karena itu disyariatkan bagi orang yang sholat -baik imam maupun makmum atau pun yang sholat sendirian- untuk mengucapkan amin setelahnya, sebab ucapan amin adalah stampelnya (penutup) do'a. Oleh karenanya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kita mengucapkan amin ketika imam mengucapkan amin sebab waktu itu adalah waktu malaikat mengucapkan 'amin'. Barang siapa yang ucapan aminnya berbarengan dengan ucapan aminnya malaikat maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh Alloh.
Ini adalah keberuntungan yang nyata dan kesempatan yang berharga yaitu diampuninya dosa-dosa dengan sebab-sebab yang mudah. Maka tidak ada yang terluput darinya kecuali memang orang-orang yang terhalang (mendapatkannya).
Perbedaan pendapat para ulama:
Imam Malik dalam salah satu riwayatnya berpendapat bahwa mengucapkan amin tidak disyariatkan bagi imama. Beliau menakwilkan hadits kepada makna: Jika bacaan imam sampai pada pengucapan amin dia tidak perlu mengucapkan amin.
Asy-Syafi'i dan Ahmad berpendapat akan disunanhkannya mengucapkan amiin bagi setiap imam, makmum dan orang yang sholat sendirian berdasarkan dzahir dari hadits yang kita bahas ini dan hadits-hadits selainnya.
Adz-Dzohiriyah berpendapat wajib bagi setiap orang yang sholat. Ini yang nampak dari hadits bagi para makmum sebab perintah berkonsekwensi pewajiban.
Hukum-hukum yang dapat disimpulkan dari hadits:
1. Disyariatkannya mengucapkan 'amin' bagi imam, makmum dan orang yang sholat sendirian.
2. Sesungguhnya para malaikat mengaminkan do'anya orang-orang yang sholat. Dan yang jelas bahwa maksud mereka yang menghadiri sholat tersebut adalah malaikat di bumi dan di langit. Hal ini berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari bahwa Nabi-shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إذا قال أحدكم آمين، قالت الملائكة في السماء: آمين، فوافق أحدهما الآخر، غفر الله له ما تقدم من ذنبه
"Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan 'amin' maka para malaikat di langit mengucapkan 'amin' sehingga berbarengan satu dengan lainnya. Alloh mengampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu"
3. Keutamaan ucapan 'amiin' bahwa hal itu adalah sebab diampuninya dosa-dosa. Akan tetapi menurut para ulama peneliti bahwa ampunan dalam hadits ini dan yang semisalnya adalah khusus dosa-dosa kecil. Ada pun dosa-dosa besar maka tiada lain dengan cara taubat.
4. Hendaklah orang yang berdo'a dan orang yang mengaminkan do'a dengan menghadirkan hati (khusyu' dan sungguh-sungguh -pent).
5. Imam Bukhari berdalilkan dengan hadits ini akan disyariatkannya imam membaca dengan jahr (keras) bacaan amiin sebab dikaitkan antara aminnya makmum dengan aminnya, dan tidak ada makmun yang mengetahuinya (ucapan amin imam -pent) kecuali dengan mendengarnya. Ini adalah pendapat jumhur.
6. Termasuk hal utama bagi orang berdo'a adalah menyerupai malaikat dalam segala sifatnya yang menjadi sebab terkabulnya do'a, seperti tunduk, khusyu' dan suci, halal pakaian, minuman dan makanan, hadirnya hati, dan senantiasa menghadapkan jiwa kepada Alloh dalam segala keadaan.
Diterjemah dari Taisir Alam Syarah Umdatul Ahkam.
الحديث الخامس
عَنْ أبي هُريرةَ رضيَ الله عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إذَا أمّنَ الإمَامُ فَأمّنُوا، فَإنًهُ من وافَقَ تَأمِينُهُ تَأمين اْلملائِكَةِ، غفِرَ له مَا تَقدمَ مِنْ ذَنِبه ".
المعنى الإجمالي:
دعاء فاتحة الكتاب هو أحسن الدعاء وأنفعه، لذا شرع للمصلى- إماما كان أو مأموماً أو منفرداً- أن يُؤَمن بعده، لأن التأمين طابع الدعاء.
فأمرنا النبي صلى الله عليه وسلم أن نؤمن إذا أمن الإمام، لأن ذلك هو وقت تأمين الملائكة، ومن وافق تأمينه تأمين الملائكة، غفر له ما تقدم من ذنبه.
وهذه غنيمة جليلة وفرصة ثمينة، ألا وهى غفران الذنوب بأيسر الأسباب، فلا يُفَوِّتها إلا محروم.
اختلاف العلماء:
ذهب مالك في إحدى الروايتين عنه، إلى أن التأمين لا يشرع في حق الإمام، وتأوَّل الحديث على معنى: إذا بلغ الإمام موضع التأمين، ولم يقصد التامين نفسه.
وذهب الشافعي وأحمد، إلى استحباب التأمين لكل من الإِمام والمأموم والمنفرد، لظاهر الحديث الذي معنا، وغيره.
وذهبت الظاهرية، إلى الوجوب على كل مصل.
وهو ظاهر الحديث في حق المأمومين، لأن الأمر يقتضي الوجوب.
ما يؤخذ من الحديث من الأحكام:
١- مشروعية التأمين للإمام، والمأموم، والمنفرد.
٢- أن الملائكة تؤمن على دعاء المصلين. والأظهر أن المراد منهم الذين
يشهدون تلك الصلاة من الملائكة في الأرض والسماء، واستدل لذلك بما أخرجه البخاري من أنه صلى الله عليه وسلم قال: " إذا قال أحدكم آمين، قالت الملائكة في السماء: آمين، فوافق أحدهما الآخر، غفر الله له ما تقدم من ذنبه ".
٣- فضيلة التأمين، وأنه سبب في غفران الذنوب.
لكن عند محققي العلماء أن التكفير في هذا الحديث وأمثاله، خاصُّ بصغائر الذنوب، أما الكبائر، فلا بد لها من التوبة.
٤- أنه ينبغي للداعي والمؤمّن على الدعاء، أن يكون حاضر القلب.
٥- استدل البخاري بهذا الحديث على مشروعية جهر الإمام بالتأمين، لأنه علق تأمين المؤتمين بتأمينه ولا يعلمونه إلا بسماعه. وهذا قول الجمهور.
٦- من الأفضل للداعي أن يشابه الملائكة في كل الصفات التي تكون سبباً في الإجابة، كالتضرع والخشوع والطهارة، وحل الملبس والمشرب والمأكل، وحضور القلب، والإقبال على الله في كل حال.



0 komentar:
Posting Komentar