“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Kamis, 15 Oktober 2020

Taisir (75): Gerakan Makmum dalam Sholat setelah Gerakan Imam.


Hadits 75:
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ الأنْصارِيّ رضي الله عَنْهُ قَالَ: حَدَثَني الْبَراءُ بْنُ عَازِبٍ، وَهُوَ غيْرُ كَذُوبٍ (١) قَالَ: " كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا قَالَ: " سمِعَ الله لمَنْ حَمِدَهُ "، لَمْ يَحْنِ أحَدٌ مِنّا ظَهْرَهُ حَتَى يَقَعَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم سَاجِداً، ثُمَّ نَقَعُ سُجُوداً بَعْدَهُ".
"Dari Abdullah bin Yazid Al-Khothmy Al-Anshory -radhiyallohu 'anhu- berkata: telah mengkhabarkan kepadaku Al-Bara' bin Azib dan dia bukanlah pendusta, dia berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- apabila mengucapkan 'sami'allohu liman hamidah' tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sampai Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- sujud kemudian kami sujud setelahnya" 

Penjelasan lafadz:
Makna ثم نقع dengan rafa' sebagai  permulaan kalimat dan bukan sebagai athaf dari يقع . Yang pertama manshub dengan حتى karena tidaklah maknanya sama.

Makna global:
Perawi yang dapat dipercaya ini meriwayatkan bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengimami para shahabatnya dalam sholat, sehingga gerakan makmum dilakukan setelah sempurna gerakan beliau. Jika Nabi -shollallahu 'alaihi wa sallam- mengangkat kepalanya dari ruku' dan mengucapkan 'samiallohu liman hamidah' lalu para shahabat ruku' setelahnya, lalu beliau turun sujud dan para shahabat pun turun untuk sujud.

Kesimpulan hadits:
1. Tata cara para shahabat dalam mengikuti Rasululloh dalam sholat dan bahwa mereka tidaklah berpindah dari berdiri ke sujud sampai beliau sujud.
2. Bahwa semestinya mengikuti imam adalah demikian. Tidak mendahului imam yang hal itu terlarang dan membatalkan sholat, dan tidak membarenginya yang hal itu makruh dan mengurangi (kesempurnaan) sholat, dan tidak pula ketinggalan banyak darinya. Namun mengikuti setelahnya secara langsung.
3. Dalam hadits ini ada dalil lamanya tuma'ninah setelah ruku'. Ini ditinjau dari sisi makmum. Ada pun tumakninahnya imam ada dalil yang lain.

Peringatan: 
Membarengi imam dalam gerakan  dan bacaan sholat adalah makruh kecuali takbiratul ihram sebab (membarengi takbiratul ihram Imam) tidaklah terhitung sholat (batal sholatnya).

Diterjemahkan dari Taisiril Alam Syarah Umdatul Ahkam.

الحديث الرابع
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ الأنْصارِيّ رضي الله عَنْهُ قَالَ: حَدَثَني الْبَراءُ بْنُ عَازِبٍ، وَهُوَ غيْرُ كَذُوبٍ (١) قَالَ: " كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا قَالَ: " سمِعَ الله لمَنْ حَمِدَهُ "، لَمْ يَحْنِ أحَدٌ مِنّا ظَهْرَهُ حَتَى يَقَعَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم سَاجِداً، ثُمَّ نَقَعُ سُجُوداً بَعْدَهُ".
غريب الحديث:
" ثم نقع ": بالرفع على الاستئناف، وليس معطوفاَ على " يقع " الأولى المنصوب بـ "حتى" إذْ ليس المعنى عليه.
المعنى الإجمالي:
يذكر هذا الراوي الصدوق أن النبي صلى الله عليه وسلم يؤم أصحابه في الصلاة فكانت أفعال المأمومين تأتي بعد أن يتم فعله، بحيث كان صلى الله عليه وسلم إذا رفع رأسه من الركوع وقال: "سمع الله لمن حمده" ثم رفع أصحابه بعده هبط ساجدا، وحينئذ يقعون ساجدين.
ما يؤخذ من الحديث:
١- صفة متابعة الصحابة للرسول في الصلاة، وأنهم لا ينتقلون من القيام إلى السجود حتى يسجد.
٢- أنه ينبغي أن تكون المتابعة هكذا، فلا تتقدم الإمام، فإنه محرم يبطل الصلاة، ولا توافقه، فإنه مكروه ينقص الصلاة، ولا تتأخر عنه كثيراً، بل تليه مباشرة.
٣- في الحديث دليل على طول الطمأنينة بعد الركوع، هذا بالنسبة إلى المأموم، أما الإمام فلطمأنينته أدلة أخرى.
[تنبيه] الموافقة في أفعال الصلاة وأقوالها للإمام مكروهة، إلا تكبيرة الإحرام، فإنها لا تنعقد معها الصلاة.



(١) اختلف العلماء في الذي نفى عنه الكذب، فبعضهم يرى أنه " البراِء"، قاله فيه عبد الله بن يزيد، تقوية للحديث لا تزكية، فهو صحابي.
وبعضهم يرى أنه " عبد الله " قاله فيه أبو إسحاق تقوية وتزكية، وهو محتمل. وقد اختلف في صحبة عبد الله بن يزيد.
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)