“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Kamis, 15 Oktober 2020

Penjelasan Surat Al-Kahfi ayat 39


Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 212 - 134

Firman Alloh -ta'ala-:

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ 

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)"(QS Al-Kahfi: 39)

Dan firmanNya:
ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
"Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya"(QS Al-Baqarah: 253)

FirmanNya:
أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلْأَنْعَـٰمِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى ٱلصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ [٥:١]
"Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya" (QS AlMaidah: 1)

FirmanNya:
فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًۭا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit"(QS Al-An'am: 125)

Penjelasan:
Ayat-ayat ini menetapkan dua sifat Al-Masyi'ah (kehendak) dan Al-Iradah (kehendak).

* Ayat pertama adalah firman Alloh -ta'ala-:


وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ 

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)"(QS Al-Kahfi: 39)
* Lafadz وَلَوْلَآ bermakna: "kenapa tidak...?" sebagai bentuk At-Tahdhidh (maukah atau sudikah). Dan maksudnya di sini sebagai celaan. Maknanya adalah dia mencelanya karena tidak mengucapkan perkataan ini.
* Makna إِذْ دَخَلْتَ "ketika engkau masuk".
* Makna  جَنَّتَكَ; kata الجنة dengan memfathahkan jiim yaitu kebun yang penuh dengan pepohonan. Disebut demikian karena orang yang berada di dalamnya tertutup oleh pepohonan dan dahan-dahannya sehingga dia tertutup di dalamnya. Dan huruf ini (ج dan ن) menunjukkan kepada 'ketertutupan'. Di antaranya kata الجُنة (perisai) -dengan mendhommahkan jiim- yang orang memakainya untuk menutupi dirinya ketika perang.  Di antaranya juga الجِنة -dengan mengkasrahkan jim- yaitu jin; sebab dia tertutup (tidak tampak mata).
* FirmanNya:   جَنَّتَكَ ini lafadz tunggal dan yang dipahami dari ayat-ayat ini dia memiliki dua kebun. Bagaimana penjelasannya di sini disebutkan tunggal padahal dua kebun?
Jawabnya adalah: sesungguhnya lafadz mufrod(tunggal) apabila diidhofahkan (disandarkan) maka menjadi umum mencakup dua kebun. Atau orang yang berbicara ini ingin mengecilkan (meremehkan) nilai dua kebun ini, sebab konteksnya adalah memberikan nasehat dan tanpa ada rasa kagum dengan apa yang Alloh karuniakan kepadanya. Seakan-akan dia berkata: Dua kebun ini adalah satu kebun saja; sebagai bentuk meremehkan keadaannya. Namun bentuk yang pertama lebih dekat pada kaidah-kaidah bahasa Arab; قُلْتَ (engaku katakan) sebagai jawaban لَوْلَآ (mengapa tidak...).

* FirmanNya: مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Lafadz: مَا mengandung kemungkinan mausulah (kata sambung) dan mungkin juga syartiyah (syarat). Jika engkau menjadikannya isim maushul (kata sambung) maka dia menjadi khabar dari mubtada' yang dihilangkan yang perkiraannya: هذا ما شاء الله "ini adalah apa yang dikhendaki Alloh". Ini bukanlah dari kehendakku, kemampuanku dan kekuatanku akan tetapi ini adalah dengan kehendak Alloh. Jika engkau menjadikannya sebagai syartiyyah(syarat) maka fi'il syaratnya adalah:  شَآءَ dan jawab syaratnya dihilangkan yang perkiraannya menjadi مَا شَآءَ ٱللَّهُ كان "apa yang dikehendaki Alloh maka terjadi". Sebagaimana kita katakan: مَا شَآءَ ٱللَّهُ كان وما لم يشاء لم يكن "Apa yang dikehendaki Alloh pasti terjadi dan yang idak dikehendaki tidaklah terjadi". Maksudnya adalah: Sepantasnyalah engkau mengucapkan -maa sya Alloh- tatkala memasuki kebunmu agar engkau tidak menyandarkan itu dari kemampuan dan kekuatanmu serta engkau tidak kagum dengan kebunmu.

*FirmanNya: لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ "tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah". Lafadz لَا (tidak ada) adalah nafiyah lijinsi (meniadakan jenisnya). Dan قُوَّةَ " adalah nakirah pada konteks penafi'an sehingga memberi faidah umum. Dan 'kekuatan' adalah sifat yang memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan apa yang diinginkan tanpa ada kelemahan.

Jika ditanyakan: Bagaimana menggabungkan antara keumuman peniadaan sifat kuat kecuali hanya milik Alloh dengan firmanNya -ta'ala-:
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍۢ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍۢ قُوَّةًۭ
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat" (QS Ar-Ruum: 54)

Dan Alloh berfirman tentang kaum Aad:
وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةًۭ ۖ
"Dan mereka berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka?" (QS Ar-Ruum: 15)
Dan Alloh tidak berkata: Tidak ada kekuatan pada mereka (Aad). Dengan demikian Alloh menetapkan kekuatan bagi manusia.

Jawabnya: bahwa pengkompromiannya dengan salah satu dari dua kemungkinan:

PERTAMA: Bahwa kekuatan yang ada pada makhluk adalah dari Alloh -azza wa jalla-. Seandainya Alloh tidak memberikan kekuatan kepadanya maka tidaklah dia kuat. Maka kekuatan yang dimiliki manusia adalah makhluk Alloh. Tidak ada kekuatan yang hakiki kecuali (kekuatan) Alloh.

KEDUA: bahwa maksud firmanNya: لا قوة yakni bahwasannya tidak ada kekuatan yang sempurna kecuali (kekuatan) Alloh -azza wa jalla-.

Ringkasnya, laki-laki sholih ini menasehati temannya untuk tidak menyandarkan kemampuan dan kekuatan yang ada pada dirinya dan mengatakan: ini adalah dari kehendak dan kekuatan Alloh.

Dalam ayat ini terdepat penetapan nama Alloh yaitu الله (Alloh), dan penetapan tiga shifat Alloh yaitu: Al-Uluhiyyah, Al-Quwwah(kekuatan) dan Al-Masyiah(kehendak).
Masyiah Alloh adalah kehendak yang bersifat kauni yang merupakan pintu pada perkara-perkara yang Dia cintai maupun tidak. Dan merupakan pintu bagi seluruh hambaNya tanpa terkecuali. Dan pastilah terjadi hal yang Dia kehendaki bagaimana pun kondisinya. Apa pun yang Alloh kehendaki pasti terjadi, baik itu yang Dia cintai dan ridhai atau pun tidak.

######----######

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)