“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 07 Juni 2022

Kapan melakukan takbir intiqal ketika sholat?

Pertanyaan 82627
Tatkala Imam sholat, kapankah dia bertakbir semisal untuk ruku.? Apakah dia bertakbir sebelum ruku',  atau ketika (bergerak hendak) ruku' ataukah ketika telah di posisi ruku'? 

Jawab:
Alhamdulillah
Setiap orang yang sholat (baik imam, makmum, maupun orang yang sholat sendirian) diperintahkan hendaknya takbirnya untuk ruku' bersamaan dengan gerakan (menuju ruku')  
Hendaklah ia memulai takbir ketika bergerak membungkuk dan berakhir ketika telah di posisi ruku'. Takbirnya berada di antara dua rukun, antara berdiri dan ruku'. 
Sunnah menunjukkan bahwa takbir berbarengan dengan gerakan yang dituju ke ruku', ke sujud dan bangkit darinya. Sebagaimana yang yang diriwayatkan dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu, dia berkata: 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ، ثُمَّ يَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا ، وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوسِ
"Dahulu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam apabila bangkit hendak sholat beliau bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika ruku' lalu mengucapkan "Sami'allohu liman hamidah" ketika menegakkan punggungnya dari posisi ruku. Kemudian tatkala sudah tegak berdiri beliau mengucapkan "Rabbana lakal hamdu". Lalu beliau bertakbir ketika turun (untuk sujud) lalu beliau bertakbir ketika beliau bangkit (dari sujudnya) lalu beliau melakukannya di seluruh sholatnya sampai selesai. Dan beliau bertakbir ketika bangkit dari dari duduk tasyahud awal"
(HR Bukhari 789 dan Muslim 392)

Hadits ini jelas (menunjukkan) bahwa takbir untuk ruku' ketika bergerak hendak ruku'. Takbir sujud adalah ketika turun ke sujud. Takbir bangkit dari sujud ketika bergerak bangkit ....dst. Imam Nawawi menyebutkannya dalam Syarah Muslim dan menyatakan bahwa ini adalah madzhabnya jumhur ulama.

Di antara para ahli fikih ada yang ekstrim dalam masalah ini. Mereka berpendapat bahwa kalau orang yang sholat memulai takbir sedangkan dia masih di posisi berdiri belum bergerak membungkuk atau menyempurnakan takbir setelah sampai ruku' hal itu tidaklah sah. Dia tidaklah (dianggap)bertakbir sebab dia bertakbir bukan pada tempatnya. Menurut ulama yang berpendapat wajibnya takbir maka batal sholatnya jika dilakukan dengan sengaja tapi jika lupa maka haruslah sujud sahwi. Dan yang Shahih bahwa hal ini dimaafkan agar tidak memberatkan.

Al Mardawi dalam Al Inshaf 2/59 berkata: Al Majdi dan lainnya berkata: "Semestinya takbir untuk turun, bangkit dan berdiri mulainya adalah dari mulai perpindahan dan berakhir dengan berakhirnya gerak perpindahan. Jika ia menyempurnakan takbir di tengah gerakan maka sah (yakni jika dia bertakbir di antara dua rukun tanpa memanjangkan atau mengulurnya) karena hal ini tidaklah keluar dari tempat takbir, tanpa ada perselisihan. 

Jika dia memulai takbir sebelum (bergerak ke rukun berikut)nya atau menyempurnakannya setelah sempurna (rukun berikutnya) maka sebagian takbir terjadi di luar tempatnya maka ia seperti tidak bertakbir sebab tidak menyempurnakannya ditempat yang semestinya. Serupa dengan ini adalah orang yang menyempurnakan bacaannya (alfatihah atau surat) sambil ruku'. Atau seperti orang yang memulai baca tasyahud sebelum duduk.

Hal ini bisa jadi tidak mengapa karena untuk menjaga agar bisa demikian menyulitkan dan orang banyak lupanya. Sehingga (pendapat) menjadi batal karenanya atau mesti sujud sahwi adalah memberatkan" (Selesai dengan ringkas)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata: 
"Para Fuqaha rahimahullah berkata: Jika seseorang bertakbir sebelum bergerak merunduk atau menyempurnakannya setelah sampai posisi ruku' maka tidak sah. Sebab mereka berpendapat karena takbir ini ada di perpindahan gerakan sehingga tempat membacanya di antara dua rukun. Jika dia membacanya di rukun yang awal maka tidak sah. Jika Dia memasukkannya di rukun berikutnya maka tidak sah. Sebab, itu adalah posisi yang tidak disyariatkan membaca dzikir (takbir) ini. Berdiri tidak diperintahkan baca takbir. Ruku' juga tidak diperintahkan baca takbir. Takbir hanya ada di antara berdiri dan ruku'.

Memang pendapat ini memiliki sisi tinjauan.  Akan tetapi karena takbir adalah isyarat perpindahan (gerakan sholat)  semestinya ada di posisi perpindahan (gerakan).
Akan tetapi pendapat bahwa menyempurnakannya setelah sampai posisi ruku' atau memulainya sebelum bergerak turun bisa membatalkan sholat maka ini memberatkan manusia. Sebab, jika engkau mengamati kondisi orang-orang pada saat ini niscaya kau dapati kebanyakan orang tidak mengamalkan ini. Ada orang yang bertakbir sebelum bergerak turun dan ada  yang sampai ruku' belum selesai takbir.

Paling anehnya sebagian para imam yang bodoh berijtihad dengan ijtihad yang keliru. Dia berkata: "Aku bertakbir hanya kalau sudah posisi ruku', karena kalau aku bertakbir sebelum sampai posisi ruku' maka makmum akan mendahuluiku sehingga mereka sudah merunduk sebelum aku sampai ruku'. Terkadang mereka sudah ruku' padahal aku belum sampai ruku'".
Ini termasuk ijtihad yang nyeleneh. Engkau telah merusak ibadahmu berdasarkan pendapat sebagian ulama demi memperbaiki ibadah orang lain yang tidak disuruh mendahuluimu tapi diperintahkan untuk mengikutimu.

Oleh karenanya kita katakan: Ini adalah ijtihad yang bukan pada tempatnya dan kita juluki mujtahid yang berijtihad demikian dengan orang bodoh kuwadrat. Sebab dia tidak tahu kalau sebenarnya dirinya bodoh.
Oleh karenanya kita katakan: bertakbirlah dari ketika bergerak turun dan berusahalah untuk selesai sebelum engkau sampai posisi ruku'. Namun, jika engkau telah ruku'  duluan sebelum selesai bertakbir maka tidaklah mengapa.

Maka yang benar adalah jika ia memulai takbir sebelum turun ke ruku' dan menyempurnakan setelahnya maka tidak mengapa. Jika ia memulai takbir ketika bergerak merunduk dan menyelesaikan takbir ketika telah sampai posisi ruku' maka tidak masalah. Tapi yang utama adalah di antara dua rukun jika memungkinkan. Demikian juga "Sami'allohu liman hamidah" dan seluruh takbir intiqaal (perpindahan). Ada pun jika tidak memulai (takbir) kecuali setelah sampai ke rukun berikutnya maka tidak dianggap bertakbir"
Selesai dari Syarhul Mumti' oleh Syaikh Utsaimin rahimahulloh. 


متى تكون تكبيرات الانتقال في الصلاة ؟
 السؤال 82627
عندما يصلي الإمام , فمتى يكبر مثلا للركوع هل يكبر قبل أن يركع أم أثناء الركوع أم بعد الركوع ؟.
الجواب
الحمد لله.

المشروع لكل مصلٍّ ( الإمام والمأموم والمنفرد ) أن يكون تكبيره للركوع مقارنا لحركته ، فيبدأ التكبير حال انحنائه ، ويختمه قبل أن يصل إلى حد الركوع ؛ فيقع تكبيره بين الركنين ، القيام والركوع .

وقد دلت السنة على أن التكبير يقارن الحركة المقصودة من ركوع ، وسجود ، وقيام منه ، كما في الصحيحين عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ، ثُمَّ يَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا ، وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوسِ ) رواه البخاري (789) ومسلم (392) .


فهذا الحديث ظاهرٌ في أن التكبير للركوع يكون أثناء انحنائه إلى الركوع ، وتكبير السجود أثناء نزوله إلى السجود ، وتكبير الرفع من السجود أثناء رفعه ...... وهكذا ، ذكره النووي في "شرح مسلم" ، وذكر أنه مذهب جمهور العلماء .


ومن الفقهاء من شدد في ذلك ، ورأى أنه لو بدأ المصلي التكبير وهو قائم قبل أن ينحني ، أو أكمله بعد وصوله إلى الركوع أن ذلك لا يجزئه ، ويكون تاركا للتكبير ؛ لأنه أتى به في غير موضعه ، وعلى القول بوجوب التكبير : تبطل صلاته إن تعمد ذلك ، وإن فعله سهوا لزمه السجود للسهو ، والصحيح أنه يعفى عن ذلك دفعاً للمشقة .

قال المرداوي في "الإنصاف" (2/59) : " قال المجد وغيره : ينبغي أن يكون تكبير الخفض والرفع والنهوض ابتداؤه مع ابتداء الانتقال , وانتهاؤه مع انتهائه . فإن كمّله في جزء منه أجزأه [ أي إذا أوقعه بين الركنين دون أن يبسطه ويمده ] ; لأنه لا يخرج به عن محله بلا نزاع .

وإن شرع فيه قبله , أو كمّله بعده , فوقع بعضه خارجا عنه , فهو كتركه ; لأنه لم يكمله في محله ، فأشبه من تمم قراءته راكعا , أو أخذ في التشهد قبل قعوده .

ويحتمل أن يعفى عن ذلك ; لأن التحرز منه يعسر , والسهو به يكثر , ففي الإبطال به أو السجود له مشقة . " انتهى باختصار .

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : " قال الفقهاء رحمهم الله : لو بدأ بالتكبير قبل أن يهوي ، أو أتمه بعد أن يصل إلى الركوع ؛ فإنه لا يجزئه . لأنهم يقولون : إن هذا تكبير في الانتقال فمحله ما بين الركنين ، فإن أدخله في الركن الأول لم يصح ، وإن أدخله في الركن الثاني لم يصح ؛ لأنه مكان لا يشرع فيه هذا الذكر ، فالقيام لا يشرع فيه التكبير ، والركوع لا يشرع فيه التكبير ، إنما التكبير بين القيام والركوع .

ولا شك أن هذا القول له وجهة من النظر ؛ لأن التكبير علامة على الانتقال ؛ فينبغي أن يكون في حال الانتقال .
ولكن القول بأنه إن كمله بعد وصول الركوع ، أو بدأ به قبل الانحناء يبطل الصلاة فيه مشقة على الناس ، لأنك لو تأملت أحوال الناس اليوم لوجدت كثيرا من الناس لا يعملون بهذا ، فمنهم من يكبر قبل أن يتحرك بالهوي ، ومنهم من يصل إلى الركوع قبل أن يكمل .

والغريب أن بعض الأئمة الجهال اجتهد اجتهادا خاطئا وقال : لا أكبر حتى أصل إلى الركوع ، قال : لأنني لو كبرت قبل أن أصل إلى الركوع لسابقني المأمومون ، فيهوون قبل أن أصل إلى الركوع ، وربما وصلوا إلى الركوع قبل أن أصل إليه ، وهذا من غرائب الاجتهاد ؛ أن تفسد عبادتك على قول بعض العلماء ؛ لتصحيح عبادة غيرك ؛ الذي ليس مأمورا بأن يسابقك ، بل أمر بمتابعتك .

ولهذا نقول : هذا اجتهاد في غير محله ، ونسمي المجتهد هذا الاجتهاد : "جاهلا جهلا مركبا" ؛ لأنه جهل ، وجهل أنه جاهل .
إذا ؛ نقول : كبر من حين أن تهوي ، واحرص على أن ينتهي قبل أن تصل إلى الركوع ، ولكن لو وصلت إلى الركوع قبل أن تنتهي فلا حرج عليك .


فالصواب : أنه إذا ابتدأ التكبير قبل الهوي إلى الركوع ، وأتمه بعده فلا حرج ، ولو ابتدأه حين الهوي ، وأتمه بعد وصوله إلى الركوع فلا حرج ، لكن الأفضل أن يكون فيما بين الركنين بحسب الإمكان . وهكذا يقال في : "سمع الله لمن حمده " وجميع تكبيرات الانتقال . أما لو لم يبتدئ إلا بعد الوصول إلى الركن الذي يليه ، فإنه لا يعتد به " انتهى من "الشرح الممتع".

والله أعلم .

https://islamqa.info/ar/answers/82627/%D9%85%D8%AA%D9%89-%D8%AA%D9%83%D9%88%D9%86-%D8%AA%D9%83%D8%A8%D9%8A%D8%B1%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%AA%D9%82%D8%A7%D9%84-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)