“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 12 Juni 2022

MAKNA FIRMAN ALLAH SURAT HUD AYAT 7

Pertanyaan: Allah -ta'ala- berfirman:

ليبلوكم أيُّكم أحسنُ عملاً
"Untuk menguji kalian siapakah yang paling baik amalannya" (QS Huud: 7). Apakah ayat ini dipahami bahwa yang terpenting adalah bagusnya amalan tanpa dilihat dari banyak dan konsistennya?

Jawab:
Ini menunjukkan bahwa bagusnya amalan itu lebih penting. Bagusnya amalan itu lebih penting dari pada banyaknya. Meskipun banyaknya amalan itu yang diharapkan namun yang lebih penting dari banyak (amalan) adalah bagusnya amalan.
Olleh karenanya ada yang berkata kepada Abu 'Ali bin Al Fudhail bin 'Iyadh: "Wahai Abu 'Ali, apa maksudnya amalan yang paling bagus?" Dia menjawab: "Yang paling ikhlas dan paling benar". "APa amalan yang paling ikhlash dan yang paling benar?".
Dia menjawab: "Sesungguhnya suatu amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima dan jika benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima hingga amalan itu ikhlas dan benar".
"Wahai Abu Ali, apa maksudnya ikhlas dan benar?"
Dia menjawab: "Ikhlas yaitu hendaknya amalan itu untuk Allah semata. Benar yaitu hendaknya amalan itu sesuai sunnah".

Oleh karenanya, memperhatikan bagusnya amalan lebih utama dan lebih penting daripada banyaknya. Hendaknya seorang mukmin memperhatikan ikhlasnya amalan dan bersihnya dari riya dan macam-macam syirik lainnya serta memperhatikan kesesuaiannya dengan syariat agar tidak tercampur dengan bid'ah.
Ini lebih penting dari pada banyaknya. Jika ini sudah benar baru dia memperbanyak amalannya yang sudah benar tersebut -yang sudah benar ikhlasnya dan sudah benar mengikuti sunnah-. Adapun hanya memperbanyak amalan tanpa memperhatikan keikhlasan dan mutaba'ah (mengikuti sunnah) ini tidaklah benar. Hendakah perhatian kepada keikhlasan dan mengikuti sunnah lebih diutamakan dari pada banyaknya".

Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/2746/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D9%82%D9%88%D9%84%D9%87-%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89-%D9%84%D9%8A%D8%A8%D9%84%D9%88%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%8A%D9%83%D9%85-%D8%A7%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%B9%D9%85%D9%84%D8%A7

معنى قوله تعالى: {ليبلوكم أيُّكم أحسنُ عملاً}
السؤال:
يقول تعالى: لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [هود:7]، فهل يُفهم من هذه الآية: أنَّ المهم هو حُسن العمل دون النظر إلى كثرته ودوامه؟

الجواب:
هذا يدل على أنَّ الحُسن أهم، إحسان العمل أهم من كثرته، وإن كانت الكثرةُ مطلوبةً، لكن الأهم من الكثرة إحسان العمل.
ولهذا قيل لأبي علي ابن الفُضيل بن عياض: يا أبا علي، ما معنى أحسن العمل؟ قال: "أخلصه وأصوبه"، قيل: ما أخلصه؟ وما أصوبه؟ قال: «إنَّ العمل إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإن كان صوابًا ولم يكن خالصًا فلم يُقبل، حتى يكون خالصًا صوابًا"، قيل: يا أبا علي، ما هو الخالص الصواب؟ قال: "الخالص: أن يكون لله، والصواب: أن يكون على السنة".
فالاهتمام بإحسان العمل أعظم وأوْلى من الكثرة، فكون المؤمن يهتم بإخلاص العمل وتنقيته من الرياء وغيره من أنواع الشرك، ويهتم بمُطابقته للشريعة، وألا يكون فيه ابتداعٌ؛ هذا أهم من الكثرة، وإذا صحَّ له هذا فليُكثر من العمل الذي صحَّ له فيه هذا -صحَّ له فيه الإخلاص، وصحَّ له فيه الصدق- أما أن يهتم بالكثرة من غير عنايةٍ بالإخلاص وعنايةٍ بالصدق -يعني: المُتابعة- فهذا لا، يجب أن يكون الاهتمام بالإخلاص والمُتابعة أعظم من الكثرة.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)