“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 12 Mei 2026

Fathul Majid 353-354: Bertawakkal Kepada Allah (bag 2)


Allah ta'ala berfirman:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal" (QS Al Anfal: 2)

Penjelasan:
Ibnu 'Abbas berkata tentang ayat ini: Orang-orang munafik tidak terdapat dalam hati mereka sedikit pun dari dzikir (ingat) kepada Allah ketika mengerjakan amalan-amalan fardhu. Mereka tidak beriman sedikit pun terhadap ayat-ayat Allah. Mereka tidak bertawakkal kepada Allah. Mereka tidak mengerjakan jika tidak ada yang melihat. Tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka. Allah ta'ala mengkhabarkan bahwa mereka bukanlah orang yang beriman. Lalu Allah menyebutkan kriteria Orang-orang beriman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya"
Mereka mengerjakan kewajiban-kewajibannya.
Diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.
Takutnya hati kepada Allah berkonsekwensi mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.
As Sudiy berkata:
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ}
"Yaitu Orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya"
Seorang laki-laki yang ingin berbuat dzalim; atau berkeinginan untuk melakukan maksiat. Lalu dikatakan kepadanya: "Bertaqwalah kepada Allah!" Lalu hatinya pun menjadi gemetar (takut). Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir.
Firman Allah ta'ala:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً
"dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya"
Para shahabat radhiyallohu 'anhum, para Tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan Ahlus Sunnah berdalil berdasarkan ayat ini dan ayat semacamnya tentang bertambah dan berkurangnya iman.
Umair bin Hubaib As Shahaby berkata:
إن الإيمان يزيد وينقص، فقيل له: وما زيادته ونقصانه؟ قال: إذا ذكرنا الله وخشيناه فذلك زيادته، وإذا غفلنا ونسينا وضيعنا فذلك نقصانه
"Sesungguhnya iman bertambah dan berkurang. Ditanyakan kepadanya: Bagaimana bertambah dan berkurangnya? Dia menjawab: Jika kita mengingat Allah kita takut kepadanya maka itulah bertambahnya. Jika kita lalai dan lupa serta mengabaikan maka itulah berkurangnya iman" (Diriwayatkan Ibnu Sa'id).
Al Mujahid berkata:
الإيمان يزيد وينقص وهو قول وعمل
"Iman itu bertambah dan berkurang dan iman adalah ucapan dan perbuatan"(Riwayat Ibnu Abi Hatim).
Dan Syafi'i,  Ahmad, Abu Ubaid dan yang selainnya -rahimahumullah- mengatakan adanya ijma' akan hal ini.
Firman Allah ta'ala:
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal"
Yakni hati mereka bersandar kepada Allah dan mereka menyerahkan urusan-urusan mereka kepadaNya.  Mereka tidak berharap kepada selainNya dan mereka tidaklah menuju kecuali kepadaNya, dan mereka tidaklah menginginkan kecuali kepadaNya. Dia mengetahui bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Dia kehendaki tidak mungkin terjadi. Dialah saja yang mengatur kerajaanNya. Hanya Dia saja sesembahan yang berhak diibadahi yang tiada sekutu bagi-Nya.
Dalam ayat ini terdapat karakter mukmin sejati dengan tiga tingkatan di antara tingkatan-tingkatan ihsan, yaitu: Khouf (rasa takut kepada Allah), bertambahnya iman, dan bertawakkal kepada Allah saja. Tingkatan-tingkatan ini menuntut kesempurnaan iman dan terwujudnya amalan-amalan iman, yang batin maupun yang dzahir. Misalnya shalat, siapa yang menegakkan shalat dan menjaganya dan dia menunaikan zakat sebagaimana yang Allah perintahkan maka hal itu mengharuskan pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang mampu dia kerjakan dan meninggalkan seluruh larangan. Sebagaimana firman Allah ta'ala:
إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
"Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuautan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain)" (QS Al Ankabut: 45).

https://shamela.ws/book/2386/371#p1

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)