“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 12 Mei 2026

Fathul Majid 354-355: Bertawakkal Kepada Allah (bag 3)

Penulis Kitab Tauhid berkata:
Dan firman Allah ta'ala: 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu"(QS Al Anfal: 64)

Ibnul Qayyim rahimahulloh berkata:
أي الله وحده كافيك وكافي أتباعك، فلا تحتاجون معه إلى أحد". وهذا اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله.
"Yaitu, Allah saja yang akan mencukupimu dan mencukupi orang-orang yang mengikutimu. Maka tidaklah kalian mengharapkan kepada seorang pun selain Allah".
Pendapat ini menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-. 
Allah ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya" (At Thalaq: 3)
Ada yang mengatakan bahwa maknanya cukuplah Allah (yang menjadi penolong) bagimu dan juga cukuplah orang-orang yang mengikutimu (yang akan menjadi penolongmu).
Ibnul Qayyim rahimahulloh berkata:
"Ini kesalahan yang jelas. Tidak boleh membawa penafsiran ayat kepada makna ini. Karena sesungguhnya pencukupan dan pemenuhan kebutuhan itu hanyalah  untuk Allah saja seperti halnya Tawakal, taqwa, dan ibadah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya): 'Dan jika mereka hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin' (QS Al Anfal: 62)
 
Beda antara hasb (pencukupan)  dan ta'yīd (penguatan); bahwasannya hasb hanya Allah nisbatkan untuk diriNya saja, sedangkan ta'yīd Allah nisbatkan pada diriNya dengan pertolonganNya dan juga pada hamba-hambaNya. Dan Allah memuji kepada Ahli Tauhid dari para hambaNya karena telah mengesakan Allah dalam masalah hasb (pencukupan kebutuhan).
Allah ta'ala berfirman yang artinya: 

"(Yaitu) orang orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS Ali Imran:  173)
Mereka tidak berkata: Cukuplah Allah dan rasulNya. Dan yang serupa dengan ini adalah firman Allah ta'ala:
"... dan mereka berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS Taubah: 59)
Maka perhatikanlah bagaimana Allah menjadikan 'pemberian' itu oleh Allah dan RasulNya sedangkan hasb (pencukupan) hanya untuk Allah saja. Allah tidak mengatakan: "Dan mereka berkata: Cukuplah bagi kami, Allah dan rasulNya, namun Allah jadikan hasb itu hanya untukNya saja.  Sebagaimana firman Allah ta'ala: Dan berharaplah hanya kepada Tuhanmu (QS Al Insyirah:8)
Sehingga Raghbah (berharap), tawakal, inabah, dan hasb hanya untuk Allah saja sebagaimana Ibadah, taqwa, sujud, nadzar, dan sumpah tidak boleh kecuali hanya untuk Allah -Subhanahu wa ta'ala- " -selesai perkataan beliau-.

Dengan demikian menjadi jelas korelasi antara ayat dengan judul bab ini. Jika Dialah yang mencukupi kebutuhan hambaNya maka wajib bertawakkal hanya kepadaNya. Kapan seseorang berpaling hatinya kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada yang ditawakalinya. Sebagaimana dalam hadits:
من تعلق شيئا وكل إليه
"Barang siapa yang bergantung kepada sesuatu, Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu tersebut"

https://shamela.ws/book/2386/372#p1

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)