“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 25 Maret 2019

Ahlus Sunnah Tidak Melakukan Ilhad dalam AsmaNya dan Ayat-AyatNya - 2

Adapun ilhad (penyimpangan) pada ayat-ayat Alloh -ta'ala-; Al-Aayaat jamak dari ayat yaitu tanda yang membedakan sesuatu dengan lainnya. Dan Alloh 'azza wa jalla- mengutus para Rasul dengan ayat bukan dengan mukjizat. Oleh karena ungkapan dengan ayat lebih tepat dari pada ungkapan dengan mukjizat, karena:
Pertama: Karena kata ayat digunakan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Kedua: karena mukjizat terkadang terdapat pada diri tukang sihir dan pesulap dan yang sejenisnya untuk mengalahkan yang lainnya.
Ketiga: karena kata 'ayat' lebih bisa menunjukkan kepada makna yang dimaksud dari pada kata mukjizat. Maka, ayat Alloh -azza wa jala- adalah tanda-tanda yang menunjukkan kepada Alloh -azza wa jalla-. Oleh karenanya lebih khusus. Kalaulah tidak khusus, maka bukan ayat bagiNya.
Dan ayat-ayat Alloh ta'ala terbagi menjadi dua: ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat syar'iyyah.
Adapun ayat-ayat kauniyah yaitu apa yang terkait dengan penciptaan dan takwin(pembuatan). Misalnya adalah firmanNya:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan".(QS Fushilat: 37)
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (QS Ar-Ruum: 20)
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ # وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ # وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ # وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ #
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur)".(QS Ar-Ruum: 22-25)
Ini adalah ayat-ayat kauniyah, atau jika mau engkau bisa menyebutnya 'kauniyah qodariyah. Hal tersebut menjadi ayat bagi Alloh karena tidak seorang makhluk pun yang mampu melakukannya. Misalnya: tidak mungkin ada orang yang mampu menciptakan semisal matahari dan bulan; dan tidak pula mampu mendatangkan malam apabila datang siang, dan tidak pula mendatangkan siang ketika datang malam. ini adalah ayat-ayat kauniyah.
Dan ilhad pada ayat kauniyah yaitu menisbatkan hal tersebut kepada selain Alloh ta'ala secara mandiri atau berserikat dengan Alloh (dalam melakukan hal tersebut -pent) atau membantu Alloh dalam melakukannya. Seseorang berkata (misalnya): 'Ini adalah dari wali Fulan, atau Nabi Fulan, atau berserikat padanya Nabi Fulan atau wali Fulan (dalam penciptaan alam dan semisalnya -pent). Atau ia telah membantu Alloh dalam penciptaannya. Aloh ta'ala berfirman:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ
"Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya."(QS Saba': 22).
Maka Alloh mengingkari setiap sesuatu yang dijadikan bergantung kaum musyrik terkait sesembahan mereka yang tidak memiliki saham sedikit pun di langit dan di bumi baik secara mandiri, musyarikah maupun mu'inah (bantuan) kepada Alloh -azza wa jalla-. Kemudian yang keempat:
وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ
"Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu". (QS Saba': 23)
tatkala orang-orang musyrik berkata: Betul; Berhala-berhala ini tidak memiliki sesuatu pun, tidak punya andil apa pun dan tidak memiliki bantuan apa pun; akan tetapi mereka ini para pemberi syafaat. Alloh ta'ala berfirman: وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ "Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu". (QS Saba': 23). Maka terputuslah setiap sebab yang orang-orang musyrik bergantung dengannya.
Pembagian kedua dari ayat-ayat Alloh adalah ayat-ayat syar'iyyah, yaitu wahyu yang dibawa oleh para rasul, seperti Al-Qur'an yang agung; ini adalah ayat. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
"Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus". (QS Al-Baqarah: 252)
وَقَالُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِّن رَّبِّهِ ۖ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ # أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ
"Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka?" (QS Al-Ankabut: 50-51)
Alloh menjadikannya sebagai ayat.
Ilhad padanya bisa dengan mendustakannya, atau merubah-rubahnya atau pun menyelisihinya.
Mendustakannya; dengan mengatakan: Ini bukanlah dari sisi Alloh; dengan demikian telah mendustakan dari pokoknya. Atau mendustakan suatu berita yang datang dari ayat-ayat tersebut dengan membenarkan pokok berita; misalnya dengan berkata: Kisah Ashabul Kahfi tidaklah benar dan kisah tentara bergajah tidaklah benar dan Alloh tidak mengutus burung Ababil kepada mereka.
Adapun tahrif yaitu merubah lafadznya atau memalingkan maknanya dari makna yang dikendaki Alloh dan RasulNya. isalnya dengan mengatakan: "Istawa (bersemayam) di atas Arsy maknanya adalah istaula (berkuasa). Atau : Rabb kita turun ke langit dunia; yaitu urusannya turun.
Adapun menyelisihinya dengan meninggalkan perintah-perintahnya dan mengerjakan larangan-larangannya.
Alloh ta'ala berfirman tentang Masjidil Haram:
وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih".(Al Hajj: 25)
Setiap kemaksiatan adalah penyimpangan dari ayat-ayat syar'iyyah; sebab keluar dari perkara yang diwajibkan darinya; karena kewajiban atas kita untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Jika kita tidak mengerjakan hal itu maka inilah ilhad (penyimpangn).
*************

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)