“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 08 Maret 2019

Penetapan Shifat Alloh Tanpa Tahrif, Ta'thil, Takyif dan Tamtsil - bag 2

Perkataan Penulis:
"Tanpa ta'thil". At-Ta'thil dengan makna at-takhliyah (pengosongan) dan at-tark (meninggalkan) sebagaimana firman Alloh -ta'ala- :

وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ
"Dan sumur yang ditinggalkan"(QS Al Hajj: 45)
yakni kosong dan ditinggalkan.

Dan maksud ta'thil yaitu: pengingkaran terhadap nama-nama dan shifat-shifat yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi diriNya, baik secara keseluruhan maupun sebagiannya. Baik dengan tahrif (merubah-rubah makna atau lafadz -pent.) maupun juhud (mengingkari setelah mengetahui ilmunya). Semua ini disebut ta'thil.

Maka Ahlus Sunnah wal jamaah mereka tidak melakukan ta'thil nama mana pun dari nama-nama Alloh, atau sifat mana pun dari sifat-sifat Alloh.Dan mereka tidak pula mengingkarinya, bahkan menetapkannya dengan penetapan yang sempurna.

Jika engkau bertanya: Apa beda ta'thil dan tahrif?
Kita jawab: Tahrif itu pada dalil, sedangkan ta'thil pada maknanya. Misal, jika ada yang berkata: makna firman Alloh ta'ala:
ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
"Bahkan kedua tanganNya terbuka" (Al Maidah: 64)
maksudnya adalah dua kekuatan.
Ini adalah orang yang mentahrif dalil dan melakukan ta'thil terhadap makna sebenarnya yang dikendaki, karena yang dimaksud adalah tangan yang sebenarnya, dia telah menghilangkan makna yang dimaksudkan dan menetapkan makna selain yang dikehendaki.

Apabila ia berkata: "Bahkan kedua tangannya terbuka; saya tidak tahu maksudnya" dia menyerahkan maknanya kepada Alloh, tidak menetapkan tangan yang sebenarnya dan bukan pula tangan yang telah ditahrif lafadznya, maka kita katakan dia adalah muathil (melakukan ta'thil), bukan pelaku tahrif, sebab dia tidak merubah makna lafadz dan tidak menafsirkan kepada makna yang dikehendaki akan tetapi menghilangkan makna yang dikehendaki, yaitu menetapkan tangan untuk Alloh 'azza wa jalla.

Ahlus sunnah wal jamaah berlepas diri dari dua thoriqah(metode), thoriqah pertama yaitu yang merubah lafadz dengan melakukan ta'thil makna hakiki yang dikehendaki kepada selain makna yang dikehendaki.
Thoriqoh kedua: yaitu thoriqah ahlu tafwidh (menetapkan lafadz tapi menyerahkan maknanya kepada Alloh). Mereka (ahlus sunnah) tidak menyerahkan maknanya sebagaimana yang dikatakan ahlu tafwidh, namun mengatakan: kami katakan بل يداه (bahkan kedua tanganNya) adalah tangan yang sebenarnya, مبسوطتان "keduanya terbuka" keduanya bukanlah kekuatan dan nikmat.

Akidah ahlus sunnah wal jamaah berlepas diri dari tahrif dan ta'thil. Dengan demikian kita mengetahui sesat dan dustanya orang yang mengatakan: "Sesungguhnya thoriqah salaf adalah tafwidh".
Mereka ini telah tersesat jika mengatakan demikian karena kebodohan terhadap jalannya salaf dan dusta jika mengatakan demikian secara sengaja. Atau kita katakan: mereka telah kadzab (dusta) dalam 2 pengertian menurut penduduk hijaz, karena dusta menurut penduduk hijaz maknanya salah ("kadzab" menurut penduduk hijaz bisa bermakna dusta dan bisa juga salah -pent).

Bagaimana pun juga, tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengatakan: sesungguhnya madzhab ahlus sunnah adalah tafwidh mereka telah salah, karena madzhabnya salaf adalah menetapkan makna dan menyerahkan kaifiyahnya.

Dan agar diketahui, bahwa tafwidh -sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- adalah seburuk-buruk perkataan ahlul bid'ah dan ilhad (orang yang ingkar -pent).
Tatkala seseorang mendengar tafwidh, dia akan berkata: "Ini bagus, selamat dari golongan yang ini dan golongan yang itu. Aku tidak berpendapat dengan pendapat salaf juga tidak berpendapat dengan pendapat ahlut ta'wil. Aku berjalan di pertengahan (moderat). Dan saya selamat dari semua itu. Dan aku berkata: Allohu a'lam (hanya Alloh yang Maha Tahu), dan kami tidak tahu apa maknanya". Akan tetapi Syaikhul Islam berkata: "Ini adalah seburuk-buruk perkataan ahlul bid'ah dan orang yang ingkar".

Dan benarlah beliau -rahimahulloh-. Jika engkau memperhatikannya, Engkau akan mendapatinya mendustakan Al Qur'an dan membodoh-bodohkan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salam-, sebab Alloh berfirman:
ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim)".
(QS An Nahl: 89)

Dan penjelasan macam mana dalam kalimat-kalimat yang tidak diketahui maknanya? Padahal ini yang paling banyak terdapat dalam Al Qur'an. Dan yang paling banyak dalam Al Qur'an adalah asma Alloh dan shifat-shifatnya. Jika kita tidak mengetahui apa maknanya, apakah Al Qur'an dikatakan sebagai penjelas segala sesuatu? Dimana penjelasnya?

Mereka ini mengatakan: "Sesungguhnya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak mengetahui tentang makna-makna Al Qur'an yang terkait dengan nama-nama Alloh dan shifat-shifatNya. Jika Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak mengetahui maka selain beliau lebih tidak mengetahui.

Dan aku heran dengan orang ini yang mengatakan: "Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berbicara dengan pembicaraan dalam masalah shifat-shifat Alloh sedangkan beliau tidak mengetahui makna-maknanya. Beliau berdo'a : "Ya Alloh Rabb kami yang ada di langit" dan jika beliau ditanya tentang ucapan itu? Beliau menjawab: "Saya tidak tahu!". Demikian pula ucapan beliau: "Rabb kami turun ke langit dunia". Dan jika ditanya: "Apa makna "Rabb kami turun". Maka beliau berkata: Saya tidak tahu. Dan demikian seterusnya analogikan sendiri.

Dan apakah disana ada celaan yang lebih besar dari pada celaan ini kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-? Bahkan ini adalah sebesar-besar celaan ! Utusan Alloh agar memberi penjelasan kepada manusia sedangkan dia tidak mengetahui apa makna ayat-ayat shifat dan hadits-haditsnya. Beliau berbicara dengan suatu pembicaraan yang tidak beliau ketahui maknanya sama sekali!
Maka disini ada dua hal: Mendustakan Al Qur'an dan membodoh-bodohkan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-.

Dan karenanya ini menjadi pembuka pintu bagi orang-orang zindiq yang mereka mendebat ahli tafwidh dengan berkata: "Kalian tidak mengetaui apa pun, akan tetapi kamilah yang tahu". lalu mulailah mereka menafsirkan Al-Qur'an dengan selain yang dikehendaki Alloh dan berkata:
"Kondisi kami yang menetapkan makna tertentu bagi nash adalah lebih baik daripada kondisi kami yang sama sekali buta tidak mengetahui apapun". Dan mereka berbicara dengan apa yang mereka kehendaki tentang makna firman-firman Alloh dan shifat-shifatNya. Dan ahlu Tafwidh tidak mampu untuk membantah mereka karena mereka berkata: "Kami tidak mengetahui apa yang dikehendaki Alloh. Boleh jadi yang dimaksudkan Alloh adalah perkataan kalian!" Maka mereka membuka pintu keburukan yang besar. Oleh karenanya muncul ungkapan dusta: Jalannya salaf lebih selamat, sedangkan jalannya kholaf lebih berilmu dan lebih bijaksana.

Syaikhul Islam -rahimahulloh- berkata: "Ini adalah perkataan orang-orang yang pandir". Dan benar yang beliau katakan, orang yang mengatakannya adalah bodoh.
Ini adalah kata-kata paling dusta yang pernah diucapkan dan dibawakan. " Jalannya salaf lebih selamat, sedangkan jalannya kholaf lebih berilmu dan lebih bijaksana". Bagaimana bisa dikatakan (jalannya kholaf) lebih lebih berilmu dan lebih bijaksana, sedangkan mereka (salaf) lebih selamat? Tidak akan didapati keselamatan tanpa ilmu dan hikmah selamanya! Orang yang tidak mengetahui tentang suatu jalan (kebenaran) dia tidak akan selamat karena dia tidak mengetahui ilmunya. Jika dia memiliki ilmu dan hikmah niscaya dia akan selamat. Tidak akan selamat kecuali dengan ilmu dan hikmah.
Jika engkau katakan: Sesungguhnya jalannya salaf lebih selamat mengharuskan engkau mengatakan: (jalannya salaf juga) lebih berilmu dan lebih hikmah. Jika tidak, maka perkataanmu kontradiksi (bertentangan).
Dengan demikian, ungkapan yang benar adalah: "Jalannya salaf lebih selamat, lebih berilmu dan lebih hikmah (bijaksana)". Ini yang benar.
Sedangkan jalannya kholaf sebagaimana yang dikatakan orang:

لعمري لقد طفت المعاهد كلها ... وسيرت طرفي بين تلك المعالم
فلم أرد إلا واضعا كف حائر ... على ذقن أو قارعاً سن نادم
"Sungguh, aku telah berkeliling kesekolah-sekolah (ilmu kalam)"
Dan aku telah mengarahkan pandanganku ke ilmu itu (ilmu kalam),
namun tidaklah aku dapati kecuali orang yang meletakkan tangan karena kebingungan di dagunya,
atau orang yang gemertak giginya karena penyesalan"

Ini adalah jalan yang dikatakan bahwa tidak di dapati kecuali orang yang meletakkan tangan karena kebingungan di dagunya. Atau yang lainnya: Orang yang gemertak giginya karena penyesalan, karena mereka tidak menempuh jalan keselamatan selamanya !
Ar Razy yang merupakan pembesar mereka berkata(1):

نهاية إقدام العقول عقال ... وأكثر سعي العالمين ضلال
وأرواحنا في وحشة من جسومنا ... وغاية دنيانا أذى ووبال
ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا ... سوى أن جمعنا فيه قيل وقالوا

"Akhir dari mendahulukan akal adalah penyesalan,
dan kebanyakan usaha ahli kalam adalah kesesatan,
dan ruh-ruh kami liar dalam jasad-jasad kami,
dan akhir dunia kami adalah bencana dan petaka,
tidak bermanfaat pencarian kami sepanjang umur kami,
kecuali hanya mengumpulkan pendapat orang"

Kemudian dia berkata: "Sungguh aku telah mempelajari jalan-jalannya ilmu kalam dan metodenya ahli filsafat, maka tidaklah aku dapatkan bisa menyembuhkan penyakit dan menghilangkan dahaga. Dan aku dapatkan yang paling dekat kepada kebenaran adalah metodenya Al Qur'an. Aku baca dalam penetapan:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy". (QS Thaha: 5),

ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ
"Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik". (QS Al Fathir: 10).
Dan aku baca dalam penafian:
ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat" (QS Asy-Syura: 11),

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

"sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya".(QS Thaha: 110).

Orang yang menempuh seperti aku tempuh niscaya dia akan mengetahui sebagaimana yang aku ketahui"

Apakah mereka ini yang kita katakan: "Sesungguhnya jalan mereka lebih berilmu dan lebih hikmah"?.
Ada yang berkata: "Aku berangan-angan mati di atas keyakinan orang-orang lemah (al-'ajaiz) dari Naisabur"
Al-'Ajaiz dari kalangan orang awam. Ia berangan-angan sekiranya dia bisa mati.
Apakah ini yang dikatakan: sesungguhnya dia lebih berilmu dan lebih bijaksana?
Di mana ilmu yang mereka miliki?
Jelaslah bahwa metode tafwidh adalah metode yang sesat karena mengandung tiga kerusakan: Mendustakan Al Qur'an, membodoh-bodohkan Rasululloh, dan pengekor filsafat. Dan orang-orang yang mengatakan:"Sesungguhnya metode salaf adalah tafwidh" sesungguhnya ia telah berdusta atas nama salaf, bahkan salaf menetapkan lafadz dan makna, mereka mentaqrirnya, dan menjelaskan dengan sebaik-baik penjelasan.

Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak melakukan tahrif tidak pula ta'thil dan mereka berpendapat dengan makna nash-nash sebagaimana yang dikehendaki Alloh:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
"Bersemayam di atas Arsy" (Al-A'raf: 54) dengan makna tinggi di atasnya, dan bukan bermakna استولى (menguasai). Makna "بيده" (dengan tangannya" tangan sebenarnya bukan bermakna kekuatan dan nikmat. Tidak ada tahrif dan ta'thil bagi mereka.

Note:
1. Ini adalah bait-bait dari Fakhrur Razy. Disebutkan dalam kitabnya "Aqsamul Ladzaat", lihat as-Showaiq oleh Ibnul Qoyyim (1/167)
2. Ini adalah perkataan Abul Ma'aly Al Juwainy. Lihat as-showaiq oleh Ibnul Qoyyim (1/167)

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)