“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 08 Maret 2019

Penetapan Shifat Alloh Tanpa Tahrif, Ta'thil, Takyif dan Tamtsil - bag 3

Perkataan Penulis -rahimahulloh-:
ومن غير تكييف
"Tanpa takyif". Istilah Takyif tidak terdapat dalam Al Qur'an dan As-Sunnah, akan tetapi terdapat dalil yang menunjukkan akan larangan hal itu.
Takyif yaitu: engkau menyebutkan kaifiyah (tata cara) suatu sifat. Oleh karenanya kita katakan: كيَّفَ يُكَيِّفُ تَكْييِْفًا, yaitu menunjukkan tata cara shifat.
Takyif yaitu bertanya dengan "bagaimana". Jika aku -misalnya- bertanya: Bagaimana Zaid datang? Engkau jawab: Berkendara. Dengan demikian engkau menjelaskan bagaimana (kaifiyah) datangnya Zaid. Bagaimana warna mobil? Putih. Artinya engkau menyebutkan warna.

Ahlus sunnah wal jamaah tidak mentakyif (menanyakan bagaimana) sifat Alloh, mereka bersandar dalam masalah ini kepada dalil sam'i (naqli) dan dalil aqli.
Adapun dalil sam'i misalnya firman Alloh ta'ala:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah (wahai Rasululloh), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zhalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al A'raf: 33).
Pointnya adalah pada kalimat: "kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui".

Jika datang seseorang dan berkata: Sesungguhnya Alloh bersemayam di atas 'Arsy dengan cara seperti ini ... dengan menyebutkan tata cara tertentu. Kita katakan: Orang ini telah berkata tentang Alloh dengan sesuatu yang tidak ia ketahui! Apakah Alloh mengkhabarkan kepadamu bahwa Allah beristiwa' dengan cara seperti itu? Tidak ! Alloh hanya mengkhabarkan kepada kita bahwa Dia beristiwa' dan tidak mengkhabarkan kepada kita tata cara istiwa'Nya. Kita katakan: inilah takyif dan berbicara tentang Alloh tanpa ilmu.

Oleh karenanya sebagian Salaf berkata: Jika seorang Jahmiyyah berkata kepadamu: Sesungguhnya Alloh turun ke langit (dunia), bagaimana turunNya? Maka jawablah: Sesungguhnya Alloh mengkhabarkan kepada kita bahwa Dia turun dan tidak mengkhabarkan kepada kita bagaimana turunNya. Ini adalah kaidah yang agung.

Dalil sam'i lainnya: Alloh ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya".(QS Al Isra': 36)
janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak punya ilmunya, "Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya" (QS Al Isra': 36)

Adapun dalil secara akal, bahwa keadaan sesuatu tidaklah diketahui kecuali dengan salah satu dari tiga hal: (1) Menyaksikannya, (2) Melihat yang sepadan dengannya, (3) kabar dari orang terpercaya tentangnya. Yakni: bisa dengan engkau melihatnya dan engkau mengetahui kaifiyahnya. Atau engkau melihat yang sebanding dengan itu, sebagaimana seseorang yang berkata: Sesungguhnya Fulan membeli mobil Datsun model 88 no 2000. Maka engkau mengetahui kondisi (yang dimaksud) karena engkau memiliki yang semisalnya, Atau informasi dari orang yang terpercaya kejujurannya tentangnya. Seseorang yang terpercaya datang kepadamu dan berkata: Sesungguhnya mobil si Fulan demikian dan demikian...dan dia mendiskripsikan dengan detail. Maka engkau pun sekarang tahu tentang mobil tersebut.

Dan karenanya juga sebagian ulama memberikan jawaban yang sangat bagus: Sesungguhnya perkataan kami: "Tanpa takyif" bukanlah maksudnya kami tidak meyakini bahwa sifat itu tidak ada kaifiyahnya, bahkan kami meyakini kaifiyahnya, akan tetapi pengetahuan kami terhalang tentang kaifiyahnya, karena istiwa'nya Alloh di atas Arsy tidak diragukan ada kaifiyahnya, akan tetapi tidak diketahui. TurunNya ke langit dunia memiliki kaifiyah namun tidak diketahui kaifiyahnya, karena tiada sesuatu yang maujud kecuali memiliki kaifiyah, namun terkadang diketahui dan kadang tidak diketahui.

Imam Malik -rahimahulloh- pernah ditanya tentang firman Alloh -ta'ala-:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy". (QS Thaha: 5)
Bagaimana istiwa'nya Alloh?

Maka beliau menundukkan kepalanya sampai mengalir keringatnya, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata: الإستواء غيرمجهول "Istiwa' itu bukan sesuatu yang asing" artinya sudah diketahu maknanya, karena bahasa Arab adalah bahasa kita. Setiap pembahasan yang mengandung kata 'istiwa dengan ditambah على maknanya adalah tinggi. Beliau berkata:  الإستواء غيرمجهول والكيف غير معقول "Istiwa' itu bukanlah sesuatu yang asing (maknanya) dan bagaimana kaifiyahnya tidak diketahui", sebab akal tidak dapat menjangkau kaifiyahnya. Jika tidak ada dalil sam'i (nash) dan akal tentang kaifiyah maka wajib untuk tidak membahasnya. والإيمان به واجب "Dan mengimaninya adalah wajib" karena Alloh mengkhabarkan hal ini tentang diriNya, maka wajib untuk menerimanya. والسؤال عنه بدعة "Dan menanyakan tentang hal itu adalah bid'ah". Bertanya tentang kaifiyah adalah bid'ah karena orang yang lebih bersemangat dari pada kita tentang ilmu tidaklah menanyakan hal ini, yaitu para shahabat. Tatkala Alloh berfirman "استوى على العرش"  "Bersemayam di atas 'Arsy"(QS Al A'raf: 54) mereka mengetahui keagungan Alloh 'azza wa jalla dan makna istiwa (bersemayam) di atas Arsy. Dan tidak mungkin engkau bertanya: Bagaimana istiwa'Nya? karena engkau tidak akan mempu menjangkau hal itu. Maka jika kami ditanya, maka kami jawab: Pertanyaan ini bid'ah.

Dan ucapan Imam Malik -rahimahulloh- ini adalah timbangan bagi seluruh shifat. Jika ditanyakan kepadamu misalnya: Sesungguhnya Alloh turun ke langit dunia, bagaimana turunnya? (Jawablah) kata 'turun' itu bukanlah sesuatu yang tidak diketahui maknanya, bagaimana turunnya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (cara turunnya) adalah bid'ah.
Dan orang-orang yang bertanya: Bagaimana mungkin Alloh turun sedangkan sepertiga malam selalu berpindah-pindah?
Maka kita jawab: Ini adalah pertanyaan bid'ah. Bagaimana bisa engkau menanyakan sesuatu yang tidak ditanyakan para sahabat padahal mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam kebaikan dan dalam ilmu yang diwajibkan Alloh -azza wa jalla-. Dan kita bukanlah bukanlah orang yang lebih tahu dari pada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan beliau tidak memberitahukannya kepada para sahabat. Maka pertanyaanmu ini bid'ah. Seandainya kami tidak berbaik sangka kepadamu maka kami akan katakan yang pantas buatmu bahwa engkau seorang mubtadi' (ahlul bid'ah).

Dan Imam Malik -rahimahulloh- berkata: ما أراك الا مبتدعا  (menurutku kamu ini ahlul bid'ah) kemudian beliau memerintahkan agar dia dikeluarkan, karana para salaf membenci ahlul bid'ah demikian pula pembicaraannya, argumen-argumennya, asumsi-asumsinya dan perdebatannya.

Maka engkau -wahai saudaraku- dalam permasalahan ini hendaklah taslim (-menerima dengan ketundukan-). Termasuk kesempurnaan ketundukan kepada Alloh -azza wa jalla- engkau tidak membahas masalah-masalah semcam ini. Oleh karenanya aku selalu memperingatkan kalian dari membahas permasalahan terkait nama-nama Alloh dan sifat-sifatnya secara berlebih-lebihan dan menanyakan sesuatu yang tidak pernah ditanyakan para shahabat, sebab jika kita membuka untuk diri kita dalam permasalahan ini, maka akan terbuka permasalahan-permasalahan ini dan hancurlah pagar pembatas dan kita tidak akan mampu untuk mengendalikan jiwa-jiwa kita. Oleh karenanya katakanlah: Kami mendengar, kami taat, kami beriman dan kami membenarkannya. Kami beriman dan membenarkan pemberitahuan (tentang sifat-sifat Alloh), taat terhadap yang dikehendaki (Alloh), dan kami mendengarkan perkataan sehingga kami berserah diri.

Dan siapa saja yang bertanya suatu perkara terkait sifat-sifat Alloh yang tidak pernah ditanyakan para shahabat maka katakanlah sebagaimana yang dikatakan Imam Malik, sesungguhnya engkau memiliki pendahulu: Pertanyaan terkait masalah ini adalah bid'ah. Bertanyalah tentang hukum-hukum yang dibebankan kepadamu. Adapun engkau bertanya tentang sesuatu terkait tentang Rabb -azza wa jalla- dengan nama-nama dan sifat-sifatNya yang tidak pernah ditanyakan  para shahabat maka kami tidak akan menerimamu selamanya.

Dan di sana ada ucapan Salaf yang menunjukkan bahwasannya mereka paham makna-makna nash yang diturunkan Alloh kepada RasulNya dalam permasalahan sifat-sifat sebagaimana yang dinukil dari Al Auza'i dan selainnya. Dinukil dari mereka bahwasannya mereka menyatakan dalam permasalahan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat: أمروها كما جاءت بلا كيف "Perlakukanlah (maknanya) sebagaimana adanya tanpa menanyakan bagaimananya"¹. Hal ini menunjukkan bahwasannya mereka menetapkan makna-makna sifat daru dua sisi:

PERTAMA: Mereka berkata: "Perlakukanlah (maknanya) sebagaimana datangnya". Sebagaimana diketahui bahwa lafadz-lafadz datang dengan makna-maknanya, bukan tanpa makna. Apabila kita memperlakukan lafadz sebagaimana datangnya mengharuskan kita menetapkan maknanya.
KEDUA: Perkataan mereka: "Tanpa menanyakan bagaimananya", karena meniadakan kaifiyah menunjukkan adanya makna asal, sebab meniadakan kaifiyah dari sesuatu menunjukkan tidak adanya unsur main-main dan kosong makna (dari lafadz tersebut).

Note:
1. Dikeluarkan oleh Al-Lalikai dalam Syarhus Sunnah hal. 875.

Terjemah Syarah Aqidah Al Wasithiyyah -Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)