Perkataan penulis -rahimahulloh-:
Yaitu "tanpa tamtsil". Ahlus sunnah berlepas diri dari melakukan tamtsil (membuat permisalan) kepada Alloh -azza wa jalla- dengan makhluknya, baik dalam DzatNya maupun sifat-sifatNya.
Tamtsil yaitu memberikan permisalan terhadap sesuatu. Antara tamtsil dan takyif ada keumuman dan kekhususan yang mutlak, karena setiap orang melakukan tamtsil tentulah melakukan takyif, dan tidak semua orang yang melakukan takyif melakukan tamtsil, sebab takyif menyebutkan suatu keadaan tanpa diikuti dengan permisalan. Misalnya engkau berkata: saya memiliki pena begini dan begini. Jika engkau menggabungkannya dengan permisalan, maka menjadi tamtsil.
Misal saya berkata: pena ini seperti pena itu, sebab saya menyebutkan sesuatu sebagai permisalan bagi sesuatu lainnya. Maka engkau mengetahui pena ini dengan penyebutan yang semisalnya.
Ahlus Sunnah wal jamaah menetapkan sifat-sifat untuk Alloh -azza wa jalla- tanpa memisalkannya (dengan makhlukNya); mereka berkata: Sesungguhnya Alloh ta'ala hidup dan tidak seperti hidupnya kita. Dia memiliki ilmu tapi tidak seperti ilmu kita. Dia memiliki penglihatan namun tidak seperti penglihatan kita. Dia memiliki wajah namun tidak seperti wajah kita. Dia memiliki tangan namun tidak seperti tangan-tangan kita...demikian pula untuk seluruh sifat-sifat. Mereka (Ahlus Sunnah) berkata: Sesungguhnya Alloh -azza wa jalla- tidaklah menyerupai makhluknya dalam masalah shifat yang Dia sifatkan untuk diriNya selamanya, dan dalam permasalahan ini mereka memiliki dalil-dalil dari nash dan akal:
Dalil-dalil Nash
Terbagi atas 2: Khobar(informasi) dan tholab(tuntutan).
✔Diantara dalil khabar yaitu firman Alloh ta'ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير
"Tiada sesuatu pun yang serupa dengannya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat"(QS Asy-Syura': 11).
Ayat ini di dalamnya ada larangan yang jelas tentang tamtsil. Dan firmanNya:
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
"Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?"(QS Maryam: 65)
meskipun dalam bentuk insya' akan tetapi bermakna khabar karena bentuk kalimat tanya yang bermakna peniadaan.
Dan firmanNya:
(وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ)
"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”(QS Al Ikhlas: 4)
semua ini menunjukkan tentang larangan tamtsil, dan dalil yang ada ini adalah dalil khabariyah.
✔Adapun thalab: Alloh ta'ala berfirman:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui". (QS Al Baqarah: 22)
yakni tandingan yang semisal. Dan firmanNya:
فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ
"Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah". (QS An Nahl: 74)
Barang siapa yang menyerupakan Alloh dengan makhluknya, maka dia telah mendustkan khabar dan mendurhakai perintah Alloh. Oleh karenanya sebagian salaf menghukumi secara mutlak bagi orang yang melakukan menyerupakan Alloh dengan makhlukNya. Nuaim bin Hammad Al Khuzai gurunya Imam Bukhari -rahimahulloh- berkata: "Barang siapa yang menyerupakan Alloh dengan makhlukNya maka dia telah kafir" 1) sebab dia telah mengumpulkan antara pendustaan terhadap khabar dan memaksiati perintah.
Adapun dalil-dalil akal bahwa tidak adanya keserupaan antara Khalik dan makhluk adalah dari beberapa sisi:
PERTAMA: Kita katakan: Tidak mungkin adanya keserupaan antara Kholik dan Makhluk dari sisi manapun. Seandainya tidak ada perbedaan di antara keduanya kecuali asal wujudnya, maka ini pun sudah cukup. Demikian itu karena wujud (adanya) Kholik adalah suatu keharusan yang Dia azali dan abadi. Adapun keberadaan makhluk didahului ketidakadaan dan diikuti ketiadaan. Maka yang demikian ini keadaannya tidak mungkin dikatakan: Keduanya serupa.
KEDUA: Kita mendapati perbedaan yang besar antara khalik dan makhluk dalam sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya. Dalam sifatNya, Alloh 'azza wa jalla mendengar setiap suara bahkan yang samar dan yang jauh. Seandainya ada di dasar samudera niscaya Dia -azza wa jalla- mendengarnya.
Alloh ta'ala menurunkan firmanNya:
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
"Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Wahai Rasululloh) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS Al Mujadillah: 1).
Aisyah berkata: Segala puji bagi Alloh yang pendengaranNya meliputi seluruh suara, sesungguhnya aku berada dalam kamar dan aku tidaklah mendengar sebagian pembicaraannya sedangkan Alloh ta'ala mendengarnya dari atas Arsy-Nya.
Dan antara keduanya tidak ada yang mengetahui jaraknya kecuali Alloh -'azza wa jalla-, dan tidak mungkin orang berkata: "Sesungguhnya pendengaran Alloh seperti pendengaran kita"
KETIGA: Kita katakan: Kita mengetahui bahwasannya Alloh ta'ala berbeda dengan makhlukNya dalam DzatNya:
ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ
"Kursi-Nya meliputi langit dan bumi." (QS Al Baqarah: 255)
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan".(QS Az-Zumar: 67),
dan tidak mungkin bagi seorang pun dari makhluk yang seperti ini. Jika Alloh berbeda dengan makhlukNya dalam DzatNya, maka demikian pula berbeda dengan makhlukNya dalam sifat-sifatNya -azza wa jalla-, dan tidak mungkin membuat permisalan antara Kholik dengan makhlukNya.
KEEMPAT: Kita katakan: Kita saksikan pada makhluk-makhlukNya sesuatu yang sama dalam nama-namanya namun berbeda dalam wujudnya. Manusia berbeda-beda dalam sifat-sifatnya: Ini tajam penglihatannya dan yang itu lemah penglihatannya. Ini kuat pendengarannya namun yang itu lemah. Ini kuat badannya dan ini lemah. Ini laki-laki dan itu perempuan. Demikianlah perbedaan-perbedaan pada makhluk yang sejenis. Lalu bagaimana pula dengan makhluk-makhluk yang berbeda jenisnya? Tentu saja perbedaannya lebih jelas lagi. Oleh karenanya, tidak mungkin bagi seseorang untuk berkata: Tanganku seperti tangan unta, atau tanganku seperti tangan semut, atau tanganku seperti tangan kucing. Kita ketahui sekarang bahwa manusia, unta, semut dan kucing masing-masing memiliki tangan yang berbeda-beda dengan yang lainnya, padahal namanya sama. Maka kita katakan: Jika bisa terjadi keragaman bagian tubuh pada makhluk padahal namanya sama, maka terlebih lagi bisa terjadi antara Kholik dan makhluk. Bahkan kita katakan: Bahwa perbedaan antara Kholik dan makhluk bukan sekedar 'bisa terjadi' saja, bahkan suatu keharusan. Maka kita memiliki 4 argumen secara akal yang menunjukkan bahwa Kholik tidak mungkin serupa dengan makhluk dari sisi mana pun.
Bisa juga kita katakan: Di sana ada dalil fithrah, yang demikian itu karena manusia dengan fithrahnya tanpa diajari mengetahui perbedaan antara Kholik dengan makhluk. Seandainya tanpa ada fithrah ini tidaklah mereka menyembah Kholik.
Maka menjadi jelas sekarang bahwa tamtsil di tolak secara dalil naqli(nash), akal dan fithrah.
Note:
1. Dikeluarkan oleh Al_Lalikai dalam Syarhus Sunnah hal 936, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Mukhtashor 'Uluw hal. 184. Lihat dalam siyar Alamin Nubala' 10/610 oleh Imam Dzahabi.
===============
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Wasithiyyah oleh Syaikh Al Utsaimin -rahimahulloh-



0 komentar:
Posting Komentar