Penulis -rahimahulloh- berkata:
والإيمان بالقدر خيره وشره
"Keimanan kepada Qodar (taqdir) yang baik dan yang buruk".
Qodar (taqdir) yaitu ketetapan Alloh azza wa jalla terhadap segala sesuatu. Alloh telah menuliskan taqdir-taqdir segala sesuatu lima puluh ribu tahun¹ sebelum menciptakan langit dan bumi. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَن اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِي
"Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu su-dah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demiki-an itu sangat mudah bagi Allah". (QS Al Hajj: 70)
Perkataan penulis "(taqdir)yang baik dan yang buruk". Tentang pensifatan taqdir yang baik maka sudah jelas. Ada pun pensifatan takdir yang buruk, maka maksudnya adalah buruk dari sisi yang mendapatkan taqdir, bukan taqdirnya yang buruk yang itu merupakan perbuatan Alloh. Sesungguhnya perbuatan Alloh 'azza wa jalla tidak ada keburukan padanya. Semua perbuatan Alloh baik dan penuh hikmah, akan tetapi buruk itu dari sisi yang mendapatkan ketetapan dan taqdirNya. Jadi buruk di sini dari sisi maqdur(yang dikenai taqdir) dan maf'ul (objek yang diberi ketetapan), ada pun dari sisi perbuatan Alloh maka tidak ada yang buruk. Oleh karenanya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
والشر ليس إليك
"Dan keburukan tidak bisa disandarkan kepadaMu"²
Sebagai contoh, kita menjumpai diantara makhluk-makhluk Alloh yang ditaadirkan dengan keburukan, semisal: ular, kala jengking, hewan buas, penyakit, miskin, kelaparan, dan yang semisalnya. Semua ini buruk dinisbatkan kepada manusia karena tidak baik bagi mereka. Demikian pula maksiat-maksiat, perbuatan fajir, kekafiran, kefasikan, pembunuhan dan yang selainnya semuanya ini buruk. Akan tetapi dari sudut pandang penisbatannya kepada Alloh maka hal itu baik karena Alloh -azza wa jalla- tidaklah menetapkannya kecuali karena suatu hikmah yang terang dan agung. Orang yang mengerti akan paham dan orang yang dungu tetaplah dungu.
Dengan demikian, wajib bagimu mengetahui bahwa keburukan yang disifatkan kepada taqdir hanyalah buruk bagi yang mendapatkan taqdir, bukan dari sisi taqdirnya yang merupakan ketetapan Alloh dan perbuatanNya. Kemudian pahami juga bahwa yang dikenai taqdir yang buruk hanya buruk dari sisi dirinya sendiri saja, akan tetapi baik dari sisi yang lain. Alloh ta'ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". (QS Ar Ruum: 41)
Hasilnya adalah baik. Dengan demikian, keburukan untuk obyek taqdir adalah keburukan yang relatif, yakni bukan keburukan secara mutlak oleh karena hasil akhirnya adalah kebaikan.
Dan kita menetapkan hukum hadd bagi pelaku zina, misalnya. Jika bukan zina muhshon maka dipukul 100 kali dan disuruh pergi dari negerinya selama setahun. Hal ini tidak ragu lagi adalah buruk dari sisi pelakunya karena tidak mengenakkan baginya, akan tetapi baik dari sisi yang lain karena menjadi penebus kesalahannya. Dan ini baik. Sebab hukuman dunia lebih ringan dari pada hukuman akhirat, dan itu baik baginya. Dan sisi baiknya lagi hal itu bisa mencegah bagi yang lain dan menjadi pelajaran bagi yang lain. Jika ada yang punya keinginan berzina sedangkan dia mengetahui bahwa dia aka diperlakukan sebagaimana diperlakukannya orang tersebut, maka dia pun tidak jadi berbuat. Bahkan baik baginya juga dari sisi kapoknya dia untuk berbuat seperti itu yang menjadi sebab hukuman tersebut baginya.
Adapun dari sisi perkara-perkara kauniyah yang ditaqdirkan, maka di sana ada sesuatu yang buruk dari sisi orang yang dikenai taqdir, seperti penyakit misalnya. Manusia tatkala sakit tidak diragukan lagi bahwa penyakit buruk baginya, akan tetapi pada kenyataannya baik juga baginya. Baiknya adalah sebagai penghapus dosa-dosanya. Terkadang manusia memiliki dosa-dosa yang tidak bisa terampuni hanya dengan istighfar dan taubat karena adanya penghalang-penghalang semisal tidak adanya niat yang jujur kepada Alloh azza wa jalla maka dengan adanya penyakit dan hukuman ini menjadi kafarah bagi dosa-dosanya. Dan kebaikannya juga bahwa manusia tidak mengetahui kadar nikmat sehat dari Alloh yang diberikan kepadanya kecuali jika sudah mengalami sakit.
Kita sekarang sehat dan kita tidak tahu kadar nikmat sehat namun jika mengalami sakit maka tahulah kita kadar nikmat sehat. Kesehatan adalah mahkota yang ada di kepala orang yang sehat yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sakit. Ini juga baik, yaitu engkau mengetahui kadar nikmat (sehat).
Dan dari kebaikannya juga bahwa terkadang dalam penyakit terdapat sesuatu yang bisa membunuh bakteri di badan yang tidak bisa membunuhnya kecuali penyakit. Para dokter berkata: "Sebagian penyakit tertentu akan membunuh bakteri-bakteri yang ada di badan tanpa engkau sadari"
Kesimpulannya, kita katakan:
Pertama: Keburukan yang disifatkan pada taqdir adalah keburukan yang dinisbatkan pada obyek yang dikenai taqdir Alloh. Adapun taqdir Alloh semuanya baik. Dalilnya adalah perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam والشر ليس إليك (Dan keburukan tidak bisa disandarkan kepadaMu).
Kedua: Bahwasannya keburukan yang menimpa pada obyek taqdir tidaklah keburukan yang murni, akan tetapi keburukan itu terkadang menghasilkan perkara-perkara yang baik, sehingga keburukan yang dinisbatkan kepadanya adalah relatif.
Ini, dan penulis -rahimahulloh akan menguraikan permasalahan taqdir dengan penjelasan yang lebih luas, beliau akan menjelaskan derajad-derajadnya menurut ahlus sunnah.
Note:
1. Sebagaimana yang diriwayatkan Muslim (2653):
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "كتب الله المقادير الخلائق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة" قال: "وعرشه على الماء"
dari Abdulloh bin Amr -radhiyallohu 'anhu berkata: "Alloh menuliskan taqdir-taqdir makhluk sejauh 50.000 tahun sebelum Alloh menciptakan langit-langit dan bumi". Rasululloh bersabda: "Dan Arsy Alloh ada di atas air".
Kitabul qodar bab dzikru hijjaji Adam wa Musa 'alaihimas salam.
2. Muslim (771) dari hadits Ali bin Abu Tholib -radhiyallohu 'anhu dalam Kitabu Sholatil musafirin Bab Ad-Dua'u fi sholatil laili wa qiyamihi.
*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-



0 komentar:
Posting Komentar