**********
Perkataan Penulis -hafidzahulloh-:
أقسام التوحيد أربعة
Pembagian Tauhid ada Empat
Penulis berkata:
Ketahuilah wahai saudaraku wahai saudaraku muslim -semoga Alloh meneguhkan aku dan engkau di atas kebenaran- bahwa tauhid terbagi atas 4 macam:
Pertama: Tauhid Rububiyah
Kedua: Tauhid Uluhiyah
Ketiga: Tauhid Asma' wa Shifat
Keempat: Tauhid mutaba'ah
***********
Penjelasan:
Pembagian ini adalah pembagian berdasarkan penelitian terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah dan tidaklah dianggap perkara baru dalam agama. Bahkan dalam pembagian ini ada penjelasan tauhid yang didakwahkan para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab karenanya. Dan di dalamnya juga ada pengetahuan tingkatan-tingkatan penyimpangan manusia terkait masalah tauhid.
Sebagian ulama membaginya menjadi dua sebagaimana yang dilakukan Ibnul Qoyyim, yang pertama yaitu tauhid Ma'rifah dan Itsbat dan yang kedua tauhid Al-Qoshdu wat Tholab. Yang pertama mengandung tauhid Rububiyah dan aswa wa sifat, dan yang kedua mengandung tauhid uluhiyah dan mutabaah. Dan di antara para ulama ada yang meringkasnya dengan dua yang terakhir, seperti Ibn Abil 'Izz. Keduanya yaitu tauhid Ar-Rasul dan tauhid Al-Mursil yang terdiri atas tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa Shifat. Sedangkan tauhid Ar-Rasul yaitu tauhid Mutaba'ah.
*******
Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Empat macam pembagian ini semuanya terdapat di dalam surat Al-Fatihah. Alloh ta'ala berfirman:
بسم الله الرحمن الرحيم
"Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
Di dalamnya ada tauhid asma wa shifat, karena di dalamnya ada nama Alloh Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Pada firmanNya:
الحمد لله رب العالمين
"Segala puji bagi Alloh Rabb seluruh alam"
Di dalamnya ada tauhid Rububiyah. Dan firmanNya:
مالك يوم الدين
"Yang menguasai hari pembalasan"
Di dalamnya juga ada tauhid asma wa shifat. Dan firmanNya:
إياك نعبد و إياك نستعين
"Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan"
Di dalam ayat ini ada tauhid Uluhiyah. Dan sisanya di dalamnya ada tauhid Mutaba'ah.
Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Pertama: Tauhid Rububiyah
*******
Penjelasan:
Yaitu mentauhidkan Alloh dalam perbuatan-perbuatanNya, yakni mengesakan Alloh dalam perbuatan-perbuatanNya. Dan terkandung tiga hal:
Pertama: Mengesakan Alloh dalam penciptaan (Al-Kholq). Kedua: Mengesakan Alloh dalam kepemilikan (Al-Mulk). Ketiga: Mengesakan Alloh dalam pengaturan (At-Tadbir). Tidak ada sekutu bagiNya dan tiada yang sepadan denganNya dalam hal tersebut. Alloh ta'ala berfirman:
ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
" Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam". (QS Al-A'raf: 54)
*******
Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Kedua: Tauhid Uluhiyyah
Yaitu pengesaan Alloh di dalam perbuatan-perbuatan hamba. Maknanya: mengarahkan seluruh macam ibadah kepada Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya. Alloh ta'ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun" (QS An-Nisa': 36)
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia" (QS Al-Isra': 23)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" (QS Adz-Dzariyat: 56)
Dan inilah makna لا إله إلا الله (tiada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh).
******
Penjelasan:
Dan tauhid uluhiyyah yang juga disebut tauhid ibadah, yang istilah pertama berdasarkan penyandarannya kepada Alloh dan istilah kedua berdasarkan penyandarannya kepada hamba.
*******
Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Ketiga: Tauhid Asma wa Shifat
Yaitu bahwasannya kita tidak menyebut Alloh kecuali dengan nama yang Dia menamai diriNya dengannya, atau yang RasulNya -shollallohu 'alaihi wa sallam- mensifati dengannya, tanpa takyif dan tamtsil, dan tanpa tahrif dan ta'thil, sebaaimana firman Alloh ta'ala:
ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat" (Ash-Shura: 11)
Dan tidak lain kita hanya menetapkan bagiNya setiap nama dan sifat yang datang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih dalam bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Rabb kita. Maka kita beriman bahwasannya Dia mendengar dan melihat dan berbicara kapan saja dan apa saja yang Dia kehendaki. Dan Dia beristiwa' di atas 'Arsy-Nya dengan istiwa' yang layak bagiNya. Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy".(QS Taha: 5)
Penjelasan:
Tauhid Rububiyah telah Alloh fitrahkan kepada manusia. Dan keumuman manusia menetapkannya sampai pun orang-orang musyrik Arab menetapkannya. Hanya saja mereka mengingkari tauhid ini pada masalah Ad-Dahr (masa), mereka berkata:
وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ
"Dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” (QS Al-Jatsiyah: 24)
Dan orang-orang komunis (atheis) yang mengatakan: Tiada Tuhan dan kehidupan ini adalah materi.
Dan lawan dari tauhid ini adalah mengikarinya secara mutlak sebagaimana yang dilakukan kaum Dahriyah (penyembah masa), Komunis (Atheis), sebagian ahli filsafat, atau yang menihilkanNya sebagaimana yang dilakukan Fir'aun ketika berkata:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
"(Fir'aun)berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”(QS An-Nazi'at: 24)
Atau pun yang mensekutukanNya sebagaimana yang dilakukan oleh:
1). Al-Qadariyah karena menjadikan hamba sebagai pencipta bagi amalan-amalannya.
2). Majusi atau Manuwiyah yang mereka mengatakan adanya wujud dua tuhan, tuhan kegelapan: menciptakan keburukan; dan tuhan cahaya: menciptakan kebaikan. Mereka ini telah kafir dan musyrik.
3). Sekte Sufi yang ekstrim yang berkata adanya pengaturan oleh wali-wali Qutub di alam ini bersama Alloh. Atau orang-orang yang mengangkat Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- melebihi kedudukannya dan menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Alloh dalam RububiyahNya dalam permasalahan pemberian manfaat dan mudharat.
Adapun tauhid uluhiyah adalah yang dengannya Alloh utus para Rasul dan Alloh turunkan kitab-kitabNya agar Alloh diesakan.
Dan para rasul telah menetapkan bagi kaum-kaum mereka dengan tauhid Rububiyah yang mengharuskan mereka meyakini tauhid Uluhiyah. Kebalikan dari tauhid ini adalah memalingkan sesuatu dari ibadah seperti nadzar, penyembelihan, do'a, tawakal, khouf (takut), dan raja'(berharap) kepada selain Alloh. Dan telah berlalu -pada bab pengertian tauhid- dalil-dalil pada macam-macam tauhid ini.
Ketiga: Tauhid Asma' wa Shifat. Inilah yang menjadi tersesat kebanyakan firqah karenanya, karena mereka tidak merealisasikan yang dikehendaki Alloh dan RasulNya -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Kebalikan dari tauhid ini:
1. Takyif(menanyakan bagaimana) terhadap sifat-sifat Alloh dengan menjadikan sifat-sifat tersebut memiliki kaifiyah tertentu.
2. Tamtsil (menyerupakan) dengan sifat makhluk.
3. Tahrif(melakukan perubahan) baik secara lafadz maupun makna.
4. Ta'thil (meniadakan) terhadap sifat yang ada.
Dan pada bab ini wajib untuk mengetahui bahwa shifat-shifat Alloh adalah tauqifiyah (berdasarkan dalil) demikian pula nama-namaNya. Tidak boleh ada tambahan padanya dan tidak pula menguranginya terhadap yang datang dari kesahihan Al-Qur'an atau dari Sunnah yang shahih. Dan untuk diketahui bahwa:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat" (Ash-Shura: 11)
Dan wajib menjalankannya sebagaimana datangnya tanpa tahrif (merubahnya).
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal 47-54.



0 komentar:
Posting Komentar