"Keberkahan Bersama Sesepuh/senior Kalian"
Keberkahan bersama sesepuh/senior kalian oleh Syaikh Doktor Sulaiman ar-Ruhaily -hafidzahulloh- dari pelajaran "Syarah Shahih At-Targhib wa At-Tarhib" pada hari Selasa 21-05-1432H.
Dari Ibnu Abbas - radhiyallohu 'anhuma- bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
البركة مع أكابركم .
"Keberkahan itu bersama sesepuh kalian" (HR Thabrani dalam Al-Ausath dan Al-Hakim berkata hadits ini shahih berdasarkan syarat imam Muslim)
Berkata syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily -hafidahulloh-: hadits ini diriwayatkan Ibnu Hiban juga. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Keberkahan bersama para sesepuh kalian". Yakni bahwa kebaikan dan faidah itu hanya bersama para sesepuh kita. Dan sesepuh kita ada dua macam:
1. Sesepuh kita dari segi usia. Orang yang paling tua di antara kita maka keberkahan ada bersamanya, manfaat ada bersamanya dan kebaikan ada bersamanya sebab dunia telah memberikan pelajaran baginya, dan telah teruji sikap bijak mereka sehingga mereka tidak tergesa-gesa dan engkau akan banyak mengambil faidah dari pengalaman-pengalaman tersebut.
2. Sesepuh/senior dari segi ilmu dan mereka ini yang keberkahannya lebih banyak. Dan yang terkumpul padanya dua hal ini maka dia lebih berkah lagi. Barang siapa yang ada padanya senior dari segi usia dan ilmu maka keberkahan yang ada padanya lebih besar.
Ulama-ulama kita yang senior dari segi usia dan ilmu seperti: Samahatus Syaikh Abdul 'Aziz alu syaikh mufti negara, yang mulia Syaikh Shalih Al-Luhaidan, yang mulia Shalih Al-Fauzan, Syaikh Rabii', Syaikh Ubaid al-Jabiri, dan para masyayikh kibar yang telah beruban jenggotnya dengan agungnya ilmu mereka. Mereka inilah keberkahan yang besar bersamanya.
Dan terkadang ada seseorang yang masih muda usianya akan tetapi tua dari segi ilmu. Oleh karenanya, para ulama dalam masalah tafsir hadits ini berkata: Dia tetap senior (kibar) dengan ilmunya meski muda usianya"
Dan seandainya di dapati para ulama senior dalam segi ilmu dan usia maka mereka lebih utama. Dan karenanya telah datang dalam hadits bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-bersabda:
إنَّ من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عن الأصاغر
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat, ilmu diambil dari orang-orang kecil" (HR Ibnu Mubarak dan Thabrani dan dishahihkan syaikh Al-Albani)
Dan ashoghir (orang-orang kecil) disini tercakup di dalamnya orang kecil dari segi ilmu mereka; meski mereka mengenakan jubah. Oleh kareanya banyak dari ulama salaf menafsirkan al-Ashoghir dengan ahlul bid'ah.
Maka dari tanda-tanda hari kiamat ditinggalkannya Ahlus Sunnah dan ilmu diambil dari Ahlul bid'ah; dan termasuk juga seseorang yang sedikit ilmunya meskipun tidak ada bid'ah padanya; termasuk juga seorang yang muda umurnya bersamaan dengan adanya orang yang tua umurnya dan ditinggalkan yang lebih tua dan diambil ilmu dari yang lebih muda; yakni kita dapati para ulama memiliki tingkatan-tingkatan:
1. Ulama Ahlus Sunnah yang Kibar/senior dari segi usia.
2. Ulama atau masyayikh yang muda usianya dan dia Ahlus Sunnah;
maka meninggalkan yang senior dan belajar kepada yang yunior (ini tanda-tanda hari kiamat -pent). Adapun apabila kita gabungkan, kita bermajelis kepada para ulama kibar(senior) dan apabila ada seseorang yang lebih yunior dari segi ilmu mengadakan durus(majelis ilmu) yang tidak menyelisihi durus (majeis ilmu) yang lebih senior maka kita ikut belajar bersamanya. Ini adalah cahaya di atas cahaya, dan seseorang tidak dicela karena hal ini.
Namun apabila kita meninggalkan para ulama kibar(senior) dan kita mengikuti yang shighor(yunior); kita mengambil ilmu darinya dan meminta fatwa kepada mereka dalam masalah-masalah kontemporer ummat ini; lalu kita meninggalkan para ulama senior maka ini termasuk tanda-tanda kiamat dan inilah yang dicela. Maka, keberkahan bersama para ulama kibar.



0 komentar:
Posting Komentar