“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 06 Agustus 2019

Syarah Aqidah Wasithiyyah – Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- (hal 127 – 131)

Perkataan Penulis:

ولا يكيفون ولا يمثلون صفاته بصفات خلقه؛ لأنه سبحانهلا سمي له وكفو له ولا ند له, بخلقه سبحانه وتعالى”.

“Dan mereka tidak melakukan takyif dan tamtsil terhadap sifat-sifatNya dengan sifat-sifat makhluk; sebab Dia -yang Maha Suci- tidak ada yang setara denganNya, tidak ada yang sepadan denganNya dan tidak ada tandingan bagiNya. Dan Dia tidak bisa dianalogikan dengan makhlukNya -subhanahu wa ta’ala-.

Penjelasan:
* Perkataan penulis “mereka tidak melakukan takyif”; maksudnya adalah ahlus sunnah wal jamaah. Telah berlalu penjelasannya bahwa takyif adalah menyebutkan kaifiyah(tatacara atau keadaan) suatu sifat. Tidak ada bedanya engkau menyebutkannya dengan lisanmu ataukah dengan hatimu. Ahlus Sunnah wal jamaah tidak melakukan takyif selamanya. Yakni mereka tidak mengatakan: bentuk tangan Alloh seperti ini dan ini; dan tidak pula (mengatakan) bentuk wajah Alloh demikian dan demikian. Mereka tidak mendiskripsikan sifat-sifat ini dengan lisan maupun juga dengan hati. Yakni, dalam diri seseorang tidak tergambarkan bagaimana istiwa'(bersemayamnya) Alloh ‘azza wa jalla, atau bagaimana turunNya, atau bagaimana wajahNya, atau bagaimana tanganNya dan tidak pula diperbolehkan berusaha untuk membayangkannya juga; sebab hal ini bisa terjerumus kepada salah satu dari dua hal: bisa jadi tamtsil atau pun ta’thil.

Oleh karenanya tidak boleh bagi seseorang berusaha untuk mengetahui kaifiyah istiwa’nya Alloh di atas Arsy, atau mengucapkannya dengan lisannya. Bahkan tidak boleh ia bertanya tentang kaifiyahnya. Oleh karenanya Imam Malik -rahimahulloh- berkata: “Menanyakannya adalah bid’ah”. Jangan kau bertanya: Bagaimana istiwa’Nya? Bagaimana Ia turun? Bagaimana wajahNya? Jika engkau menanyakan demikian maka kita katakan: Sesungguhnya engkau adalah mubtadi’…Dan telah disebutkan dalil sebelumnya akan tidak bolehnya takyif. Dan kami telah menyebutkan dalil mengenai hal ini berdasarkan nash dan akal.

Ucapan beliau: “Dan mereka tidak melakukan tamtsil(menyerupakan)”; maksudnya adalah Ahlus Sunnah wal jamaah: “(Mereka tidak menyerupakan) sifat-sifatNya dengan sifat-sifat makhlukNya”. Dan ini maksud perkataan beliau terdahulu: “Tanpa tamtsil”. Dan telah berlalu penjelasan tentang terlarangnya tamtsil secara nash dan akal. Sesungguhnya nash datang dengan khabar dan larangan tamtsil. Maka mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak melakukan takyif dan tamtsil.
Ucapan beliau: “Karena Dia yang Maha Suci”. Subhana adalah isim masdar sabbaha dan masdarnya adalah tasbiih. Dalam lafadz ‘subhana’ bermakna tasbiih akan tetapi tidak tersusun dari lafadz(huruf)nya. Dan setiap yang menunjukkan makna masdar namun tidak tersusun dari lafadznya maka disebut isim masdar. Seperti subhana dari sabbaha, dan kalam dari kallama, salaam dari sallama; dan i’robnya adalah maf’ul muthlaq manshub atas mafuliyah mutlaqah, dan amilnya selalu mahdzuf.


Sedangkan makna sabbaha; Para ulama berkata: Maknanya mensucikanNya. Dan asal katanya dari as-sabhu yang bermakna jauh. Seakan-akan engkau menjauhkan sifat kurang dari Alloh -azza wa jalla; bahwa Dia yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersih dari setiap kekurangan.

Perkataan muallif: ‘ﻻ سمي له'(tidak ada yang sama denganNya) dalilnya adalah firman Alloh ta’ala:
رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”(QS Maryam: 65)

Kata هل adalah istifham (pertanyaan) akan tetapi bermakna nafy (peniadaan). Adanya nafy(peniadaan) dengan bentuk istifham (pertanyaan) karena adanya faidah yang agung yaitu tantangan. Karena, di sana ada perbedaan antara aku katakan: ﻻ سمي له (tidak ada yang sama denganNya) dengan ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia); karena هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا mengandung peniadaan dan tantangan juga; maka kalimat ini mengandung makna tantangan. Dan ini kaidah yang penting: tatkala istifham(pertanyaan) dengan makna nafy(peniadaan) maka masuk makna tantangan. Seolah-olah aku berkata: Jika kamu benar; maka bawakanlah yang sama seperti dia. Dengan demikian maka هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا lebih jelas dari pada ﻻ سمي له.
As-Samiyu adalah al-musami yakni serupa.

Ucapan penulis “Dan tidak ada yang sekufu (sebanding) denganNya”. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala:
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS Al-Ikhlas: 4)

Ucapan penulis: “Tiada tandingan bagiNya”, dalilnya ada firman Alloh ta’ala:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.(QS Al-Baqarah: 22)
Yakni kalian mengetahui bahwa tidak ada tandingan bagiNya. An-Nidd artinya tandingan.
Tiga hal ini -As-Samiya, Al-Kufu’u dan An-Nidd- maknanya sangat berdekatan. Karena makna Al-Kufu’: yang menyamainya; dan tidaklah sesuatu menyamai sesuatu yang lain kecuali apabila sepadan, jika tidak sepadan maka tidaklah menyamainya. Dengan demikian tidak ada yang sekufu (setara) denganNya artinya tidak ada yang sepadan denganNya -subhanahu wa ta’ala-.
Peniadaan ini yang dimaksudkan adalah penetapan kesempurnaan sifat-sifatNya; sebab dengan kesempurnaan sifatnya tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya.

Perkataan penulis; “Dan Alloh -subhanahu wa ta’ala- tidak bisa di qiyaskan (dianalogikan) dengan makhlukNya”. Qiyas terbagi atas tiga macam: Qiyas Syumul, Qiyas Tamtsil dan Qiyas Aulawiyah. Maka Dia -subhanahu wa ta’ala- tidaklah dianalogikan dengan makhlukNya pada qiyas tamtsil dan qiyas Syumul.
Qiyas Syumul yaitu mengetahui dengan keumuman yang menyeluruh terhadap seluruh bagian-bagiannya; di mana setiap bagian darinya masuk pada maksud yang dikandung lafadz dan maknanya. Misal: Apabila kita katakan hayat(hidup); maka tidak bisa dianalogikan antara hayatnya Alloh -ta’ala- dengan hayatnya makhluk karena seluruhnya tercakup pada kata hayat.
Qiyas Tamtsil: yaitu menganalogikan sesuatu dengan yang semisalnya. Menjadikan sesuatu yang ada pada kholik serupa dengan yang ada pada makhluk.

Qiyas Aulawiyah; yaitu bahwa permasalahan cabang lebih layak dengan suatu hukum dari pada permasalahan pokok. Dan ini dikatakan para ulama: Ini sesungguhnya diaplikasikan pada hak Alloh; berdasarkan firman Alloh ta’ala:

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [١٦:٦٠]

“dan Allah mempunyai permisalan sifat yang Maha Tinggi”(QS An-Nahl: 60);

Maknanya pada seluruh sifat yang sempurna maka milik Alloh-lah yang paling tinggi (kesempurnaan)nya. Sifat mendengar, melihat, mengetahui, kemampuan, hidup, hikmah dan yang semisalnya terdapat pada makhluk namun bagi Alloh-lah yang paling tinginya dan sempurnanya.

Oleh karenanya terkadang kita bersandar pada dalil-dalil akal dari sisi qiyas aula. Misal: Kita katakan: Ketinggian adalah sifat sempurna pada makhluk; apabila sifat tersebut adalah kesempurnaan bagi makhluk maka bagi Kholik lebih layak lagi. Dan ini senantiasa kita dapati pada perkataan para ulama.

Maka perkataan penulis -rahimahulloh-: “Dia tidak bisa dianalogikan dengan makhlukNya” setelah ucapan beliau:”tidak ada yang setara denganNya, tidak ada yang sepadan denganNya dan tidak ada tandingan bagiNya” yaitu analogi yang mengharuskan kesamaan; yaitu qiyas syumul dan qiyas tamtsil.
Dengan demikian, tidak bisa dianalogikan antara Alloh dengan makhlukNya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)