“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 06 Agustus 2019

Tuhfah: Bahaya Mensekutukan Alloh

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
خطر الشرك بالله
"Bahaya mensekutukan Alloh"

Penjelasan:
Tatkala penulis menjelaskan makna Lailaha illalloh dan yang terkait dengan pokok-pokok agama dan dalil-dalil tauhid serta pembagiannya, beliau melanjutkan dengan menyebutkan dalil-dalil tentang bahaya syirik agar manusia berhati-hati darinya karena tidak akan diampuni orang yang mati yang belum bertaubat darinya sedangkan dia mengetahui dirinya di atas kesyirikan. Dan kesyirikan menghapuskan seluruh amalan jika itu syirik besar dan hanya menghapuskan amalan yang dikerjakan jika syirik kecil.

Perbedaan antara syirik besar dan syirik kecil.
1. Syirik besar mengelurkan dari dari agama Islam, berbeda dengan syirik kecil yang merupakan bagian dari dosa-dosa besar.
2. Syirik besar menghapuskan seluruh amalan, adapun syirik kecil hanya menghapuskan amalan yang dia berbuat syirik padanya.
3. Syirik besar menjadikan pelakunya kekal di neraka, berbeda dengan syirik kecil.

Dan yang disampaikan penulis di atas akan disebutkan dalil-dalil terkait bahwa syirik menghapuskan amalan-amalan, menghalangi masuk surga dan tidak akan diampuni.
Persamaan syirik besar dan syirik kecil bahwa keduanya tidak diampuni. Syirik kecil, jika seseorang mati dalam keadaan terus menerus mengerjakannya dan mengetahui bahwa itu syirik serta enggan bertaubat darinya maka dia tidak diampuni. Alloh ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki". (QS An-Nisa': 48 dan 116)

Bahwa أَنْ dan fiil yang mengikutinya sebagai takwil mashdar, perkiraannya: إن الله لا يغفر شركا به "Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni kesyirikan"
Dan lafadz شركا adalah nakirah dengan bentuk penafian yang mencakup syirik besar dan kecil. Hal ini ditunjukkan dari riwayat Muslim dari hadits Jabir secara marfu':
مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

"Barang siapa mati tidak mensekutukan Alloh dengan sesuatu pun niscaya dia akan masuk surga. Dan barang siapa mati dalam keadaan mensekutukan Alloh dengan sesuatu maka dia masuk neraka"

Sesuatu yang nakirah dalam bentuk syarat maka mencakup keseluruhan (jenis syirik).

Apabila seseorang mengetahui hal tersebut dan memperhatikan pula firman Alloh -ta'ala- dalam hadits qudsi:
يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا غفرت لك ولا أبالي
"Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangiku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku (mati) dalam keadaan tidak mensekutukan Aku sedikit pun niscaya Aku akan mengampunimu dan aku tidak peduli. (HR Tirmidzi)

Pemahamannya bahwasannya siapa yang bertemu dengan Alloh dengan mensekutukanNya dengan sesuatu tidak termasuk dalam hadits.

Dan sungguh para Nabi takut kesyirikan menimpa dirinya. Mereka berdoa kepada Alloh agar dijauhkan darinya. Alloh menyebutkan tentang Ibrohim -alaihis salam- bahwa beliau berdoa:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

"Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala".(QS Ibrahim: 35)

Dan Alloh -ta'ala- mengkhabarkan setelah peringatanNya kepada para Nabi dalam surat Al-An'am bahwasannya seandainya mereka:

ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan." (QS Al-An'am: 88).
Maka orang yang selain para Nabi lebih layak lagi.
Dan sungguh Nabi kita -shollallohu 'alaihi wa sallam- telah menjaga dengan penjagaan tauhid, dan menutup setiap jalan yang mengantarkan kepada syirik meskipun setelah beberapa waktu berlalu, serta mengharuskan tauhid ini bersih dari hal-hal semacamnya karena masalah ini.

Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar". (QS An-Nisa': 48)
Dalam ayat yang lain:
فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Maka dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh" (QS An-Nisa' 116).
Dan Alloh -ta'ala- juga berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu" (QS Al-Ma'idah: 72).

Kemudian penulis menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur'an yang menunjukan bahwasannya syirik adalah kedzaliman yang besar yang menggugurkan amalan dan hal-hal yang Alloh -ta'ala- sebutkan berupa larangan bagi para hambaNya dari kesyirikan dengan berbagai macamnya baik keyakinan maupun perbuatan atau pun ucapan. Kemudian penulis -hafidzahulloh ta'ala- menyebutkan hadits Jabir yang diriwayatkan Imam Muslim.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُوجِبَتَانِ فَقَالَ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Dari Jabir -radhiyallohu 'anhu berkata-: Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan berkata: Wahai Rasululloh, apa itu du hal yang saling mewajibkan? Maka beliu menjawab: "Barang siapa mati tidak mensekutukan Alloh dengan sesuatu pun maka dia masuk surga. Dan barang siapa yang mati dalam keadaan mensekutukan Alloh dengam sesuatu maka dia masuk neraka". (HR Muslim).

Dan dalam satu riwayat Muslim dengan lafadz: من لقي (barang siapa yang bertemu ...) dan dari riwayat Jabir -radhiyallohu 'anhu- juga.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 70-74.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)