“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 06 Agustus 2019

Syarah Aqidah Wasithiyyah – Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- (hal 131 – 135)

Ucapan penulis -rahimahulloh-:
فإنه أعلم سبحنه بنفسه و بغيره،و أصدق قيلا، وأحسن حديثا من خلقه
“Sesungguhnya Alloh -subhanahu wa ta’ala- lebih mengetahui tentang diriNya dan yang selainNya, paling benar perkataanNya dan paling fasih pembicaraanNya dari pada makhlukNya”

Penjelasan:
Penulis menyampaikan pembukaan dan pengantar tentang wajibnya menerima sesuatu yang ditunjukkan oleh kalamulloh -ta’ala- berupa sifat-sifatNya dan yang selainnya. Oleh karena itu wajib menerima khabar apabila terkumpul padanya empat hal:
Pertama: Bersumber dari pengetahuan (ilmu); hal ini diisyaratkan dengan ucapan beliau: “Sesungguhnya Alloh -subhanahu wa ta’ala- lebih mengetahui tentang diriNya dan yang selainNya”.
Kedua: Kejujuan, yang diisyaratkan dengan perkataan beliau: “paling benar perkataanNya “.
Ketiga: Penjelasan dan kefasihan, yang diisyaratkan oleh beliau “dan paling fasih pembicaraanNya “.
Keempat: Benarnya niat dan keinginan; dimana orang yang memberi khabar menginginkan hidayah kepada orang yang ia khabari.

Dalil pertama -yaitu ilmu- firman Alloh -ta’ala-:
وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ
Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain). (QS Al-Isra: 55)
Dia lebih mengetahui tentang diriNya dan tentang selain diriNya dari ada yang lain. Dia lebih mengetahui tentang dirimu dari pada dirimu sendiri, sebab Dia mengetahui tentang apa yang akan engkau alami di masa depan; dan engkau tidak mengetahui apa yang akan engkau usahakan besok.

Kata ” أَعْلَمُ” (lebih mengetahui) di sini adalah isim tafdhil (perbandingan). Dan sebagian ulama menghindari penafisran ini dan menafsirkan ” أَعْلَمُ” dengan عالم (yang mengetahui). Mereka berkata (tentang firman Alloh ta’ala):
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al-Isra’: 125)
yaitu Dia mengetahui orang-orang yang sesat dari jalanNya dan Dia mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Mereka berpendapat karena ” أَعْلَمُ” (lebih mengetahui) adalah isim tafdhil (perbandingan) yang mengharuskan berserikatnya antara yang tingkatan atas dengan yang dibawahnya, dan ini tidak boleh dinisbatkan kepada Alloh. Adapun عالم (yang mengetahui) adalah isim fa’il (pelaku) dan tidak ada padanya komparasi dan tidak ada pula perbandingan.

Maka kita jawab: Ini salah. Alloh telah mengatakan tentang diriNya dengan mengatakan: ” أَعْلَمُ” (lebih mengetahui) sedangkan engkau mengatakan عالم (yang mengetahui) ! Jika kita tafsirkan ” أَعْلَمُ” dengan عالم maka kita telah merendahkan ilmu Alloh karena عالم (mengetahui) berserikat juga padanya selain Alloh dari sisi persamaan. Adapun ” أَعْلَمُ” (yang paling mengetahui) berkonsekwensi tidak ada satu pun yang menyamaiNya di alam ini. Dia lah yang paling mengetahui dari seluruh yang memiliki pengetahuan. Dan ini lebih sempurna dalam masalah sifat tanpa diragukan lagi.

Kita katakan kepadanya: Sesungguhnya dalam bahasa Arab, nisbah kepada isim fail memungkinkan adanya persamaan sifat. Akan tetapi isim tafdhil tidak memungkinkan adanya kesamaan sifat yang disebutkan.

Dan kita katakan juga: dalam perbandingan, tidak mengapa kita katakan: أَعْلَمُ(lebih mengetahui) bermakna isim tafdhil meski mengharuskan tidak adanya ‘mufadhal ‘alaih'(yang diperbandingkan) pada makna tersebut; sebagaimana firman Alloh ta’ala:
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا
“Penghuni-penghuni surga pada hari itu palig baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya”.(QS Al-Furqan: 24)
Dalam bentuk isim tafdhil meski ‘mufadhal ‘alaih’ tidak ada apa-apanya sama sekali.

Dalam rangka mendebat musuh dan membantahnya boleh kita menggunakan isim tafdhil, meski mufadhal ‘alaihnya tidak ada apa-apanya sama sekali. Alloh -ta’ala- berfirman:
آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ
“Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”(QS An-Naml: 59)
Sebagaimana yang diketahui bahwa berhala yang mereka jadikan sekutu (bagi Alloh) tidak ada kebaikannya sama sekali. Dan Yusuf -‘alaihis salam- berkata:
أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS Yusuf: 39)
tuhan-tuhan itu tidak ada kebaikan sama sekali padanya.
Kesimpulannya kita katakan; bahwa lafadz أَعْلَمُ yang ada di dalam kitab Alloh dimaksudkan pada makna yang sebenarnya, adapun yang menafsirkan dengan عالم (mengetahui) maka dia telah salah dari sisi makna dan dari sisi bahasa Arab.

Dan dalil dari sifat kedua -yaitu As-Sidiq(benar)-adalah firman Alloh ta’ala:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا


REPORT THIS AD

“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?”(QS An-Nisa’: 122)
Artinya, tidak ada seorang pun yang perkataannya lebih benar dariNya. As-Sidqu adalah kesesuaian antara perkataan dan kenyataan. Dan tidak ada ucapan yang lebih sesuai dengan kenyataan sebagaimana perkataan Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Apa pun yang dikhabarkan Alloh adalah benar bahkan lebih benar dari semua perkataan.

Dalil sifat yang ketiga -Al-Bayan (penjelas) dan Al-Fashohah (fasih)- yaitu firman Alloh -ta’ala-:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?”(QS An-Nisa’: 87)
Bagusnya perkataan mencakup bagus secara lafadz dan makna.

Dalil sifat yang keempat -tujuan dan kehendak yang benar- berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:
يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّوا
“Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat”. (QS An-Nisa’: 176)
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin)”. (QS An-Nisa’: 26)

Pada firman Alloh terkumpul empat sifat yang mengharuskan khabar dariNya diterima.
Jika demikian maka wajib untuk menerima perkataanNya sebagaimana adanya, dan tidak ada keraguan bagi kita terhadap yang dikhabarkan, sebab Alloh ta’ala tidaklah berbicara dengan perkataan ini untuk menyesatkan manusia, bahkan untuk memberikan penjelasan dan petunjuk kepada mereka. Kalam Alloh bersumber dari diriNya atau dari selain diriNya yang merupakan sepaham-paham yang berbica dan tidak mungkin bercampur dengan selain kebenaran,dan tidak mungkin perkataan gagap yang tidak fasih. Dan kalam (firman) Alloh seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat semisalnya niscaya mereka tidak akan mampu. Jika terkumpul empat hal ini dalam ucapan maka wajib bagi orang yang diajak berbicara menerima terhadap apa yang disampaikan.

Misalnya saja firman Alloh -ta’ala- kepada Iblis:
مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ
“(Hai iblis), apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku”. (QS Shaad: 75).
Ada yang berkata: “Pada ayat ini terdapat penetapan dua tangan bagi Alloh -‘azza wa jalla- Dia menciptakan siapa pun yang Dia kehendaki; maka kami menetapkan keduanya karena kalam Alloh bersumber dari ilmu dan kebenaran. PerkataanNya adalah sebaik-baik perkataan, paling fasih dan paling jelas. Tidak mungkin bahwa Dia tidak memiliki dua tangan akan tetapi menghendaki manusia untuk meyakini hal itu. Andai saja ini benar, niscaya konsekwensinya Al-Qur’an adalah sesat karena mengkhabarkan sifat Alloh dengan sesuatu yang tidak sebenarnya; dan ini tertolak. Dengan demikian, wajib bagimu untuk beriman bahwa Alloh -ta’ala- memiliki dua tangan yang Alloh ciptakan Adam dengannya.

Dan jika dikatakan kepadamu: Maksud kedua tangan adalah nikmat dan qudrah (kemampuan).
Kita katakan: Tidak mungkin ini yang dimaksudkan kecuali jika engkau berani nekat terhadap Robb-mu dengan mensifati kalamNya bertentangan empat point tadi yang kami sebutkan.
Kita katakan: Apakah Alloh -‘azza wa jalla- tatkala berfirman بِيَدَيَّ (dengan kedua tanganku): Dia mengetahui bahwa Dia memiliki dua tangan? Niscaya dia akan menjawab: Dia mengetahui. Kita katakan: Apakah Dia benar perkataanNya? Dia pasti menjawab: Dia benar (perkataanNya) tanpa diragukan. Dan dia tidak berani berkata: Dia tidak mengetahui, atau (ucapanNya) tidak benar. Dan tidak berani pula mengatakan: Dia katakan dua tangan tetapi yang Dia maksudkan bukan dua tangan karena gagap dan tidak bisa (mengatakannya). Dan dia tidak berani mengatakan: Dia menghendaki agar hambaNya mengimani sesuatu yang salah tentang sifat-sifatNya untuk menyesatkan mereka.
Kita katakan kepadaNya: Kalau demikian, lalu apa yang menghalangimu untuk menetapkan tangan bagi Alloh? Mintalah ampun kepada Alloh dan bertaubatlah kepadaNya dan katakanlah: Aku beriman dengan sifat yang Alloh khabarkan tentang diriNya; karena Dia yang paling mengetahui tentang diriNya dari pada yang lainnya, yang paling benar perkataannya, yang paling bagus penyampaianNya dari pada lainnya dan juga paling sempurna kehendakNya (untuk memberi petunjuk)dari pada lainnya.

Oleh karenanya penulis membawakan tiga sifat ini, dan kami tambahkan dengan sifat keempat yaitu: kehendak untuk memberikan penjelasan dan hidayah kepada manusia, berdasarkan firman Alloh ta’ala:
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin). (QS An-Nisa’: 26)

Ini adalah hukum yang dikhabarkan Alloh tentang diriNya melalui firmanNya yang mencakup empat kesempurnaan dalam ucapan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)