Ada pun yang dikhabarkan para Rasul Alloh:
Penulis berkata:
ثم رسله صادقون مصدوقون؛ بخلاف الذين يقولون عليه ما ﻻ يعلمون
“Kemudian para RasulNya yang benar perkataannya lagi dibenarkan; berbeda dengan orang-orang yang berbicara tentang Alloh tanpa pengetahuan”
Penjelasan:
Perkataan beliau :”Kemudian para RasulNya yang benar perkataannya lagi dibenarkan”. Ash-Shodiq yaitu orang yang mengkhabarkan sesuatu yang sesuai kenyataan. Seluruh Rasul adalah orang yang benar terhadap apa yang mereka khabarkan.
Akan tetapi haruslah haruslah membuktikan sanad (sandaran) sampai kepada Rasul -‘alahimus salam- tersebut. Apabila orang Yahudi berkata: “Musa berkata demikian dan demikian”; maka kita tidak mempercayainya sampai kita mengetahui shahih sanadnya kepada Musa. Dan apabila orang-orang Nashrani berkata:”Isa berkata demikian dan demikian”, kita pun jangan mempercayainya sampai kita mengetahui shahih sanadnya kepada ‘Isa. Dan apabila ada orang yang berkata: Muhammad rasululloh telah berkata demikian dan demikian; maka kita pun jangan mempercayainya sampai kita mengetahui shahihnya sanad kepada beiau.
Para Rasul adalah benar terhadap apa yang mereka katakan. Apa pun yang mereka beritakan baik tentang Alloh maupun tentang selainNya dari para makhlukNya maka mereka benar dalam pengkhabarannya; mereka tidak berdusta selamanya. Oleh kerenanya para ulama berijma’ bahwa para Rasul ‘alaihis sholatu wa sallam- mereka ma’shum (terjaga) dari sifat dusta.
*Mashduquun (مصدُوْقون) ataupun mushoddaquun (مُصَدَّقُون) adalah dua naskah:
Adapun pada naskah “mushduquun”; maka maknanya bahwa apa pun yang diwahyukan kepada mereka adalah benar. Dan Al-Mashduq yaitu dikhabarkan bahwa dia benar. Ash-Shodiq: adalah yang membawa kebenaran. Dan diantaranya perkataan nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- kepada Abu Hurairah ketika syaitan berkata kepadanya: “Jika engkau membaca ayat Kursi; senantiasa dirimu dalam perlindungan Alloh. Dan setan tidak akan mendekatimu hingga subuh”. Rasululloh berkata kepadanya: “Dia (setan) telah berkata benar kepadamu sedangkan dia pendusta”. (HR Bukhari). Yakni, dia mengkhabarkan kepadamu dengan kebenaran. Maka, para rasul adalah orang-orang yang dibenarkan. Setiap yang diwahyukan kepada mereka maka itu adalah kebenaran. Tidaklah mendustakan mereka Alloh yang telah mengutus mereka. Dan tidak pula mendustkan mereka malaikat yang telah diutus kepada mereka, yaitu Jibril ‘alaihis sholatu wa sallam.
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ * ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ * مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
“sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”.(QS At-Takwir: 18-21)
Adapun pada lafadz “mushoddaquun” maka maknanya adalah wajib bagi umat-umat mereka untuk membenarkannya. Dengan demikian maka makna “mushoddaquun” (dibenarkan) yaitu secara syar’i. Yakni, wajib umat-umat mereka membenarkannya secara syar’i. Barang siapa mengingkari para rasul atau menuduh mereka berdusta maka dia kafir. Dan boleh jadi “mushoddaquun” memiliki makna yang yang lain, yaitu bahwa Alloh -ta’ala- membenarkan mereka. Dan sebagaimana diketahui bahwa Alloh -ta’ala- telah membenarkan para Rasul, dengan firmanNya dan dengan perbuatanNya:
Adapun dengan dengan firmanNya, maka sesungguhnya berkata kepada RasulNya Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- :
لَّٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنزَلَ إِلَيْكَ ۖ
“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu”. (QS An-Nisa’: 166)
وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ
“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya” (QS Al-Munaqun: 1)
Ini adalah pembenaran Alloh dengan ucapan (firmanNya).
Adapun pembenaran dengan perbuatan; maka dengan pengokohan beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam-; dengan diperlihatkan tanda-tandanya. Beiau kepada manusia menyeru mereka kepada Islam; jika mereka menolak maka diwajibkan membayar jizyah (upeti), jika menolak maka dihalalkan darah-darah mereka, wanita-wanita mereka dan harta-harta mereka. Alloh -ta’ala- mengokohkan beliau, dan dibukakan kemenangan kepada beliau negeri demi negeri sehingga sampailah risalahNya di penjuru timur dan barat bumi. Ini adalah pembenaran dari Alloh berupa perbuatan. Demikian pula sesuatu yang Alloh jalankan melalui kedua tangan beliau berupa ayat-ayatNya ini adalah bentuk pembenaran kepada beliau; baik ayat-ayat syar’iyyah maupun kauniyah. Ayat-ayat Syariyyah bahwa beliau selalu ditanya tentang sesuatu yang beliau tidak tahu lalu Alloh menurunkan jawabannya.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku”(QS Al-Isra’: 85)
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ ۚ
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah” (QS Al-Baqarah: 217)
Maka jawaban: “Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar” hingga akhir; maka ini adalah pembenaran dari Alloh ‘azza wa jalla.
Sedangkan ayat-ayat kauniyah nampak jelas sekali; betapa banyak ayat-ayat kauniyah yang Alloh jadikan penguat bagi rasulNya, baik yang datang dengan sebab maupun dengan tanpa sebab, dan ini sudah diketahui di sirah (sejarah kehidupan) beliau.
Dengan demikian kita paham bahwa kata: “Mushoddaqun” (dikhabarkan bahwa mereka adalah benar); mereka dibenarkan dari sisi Alloh dengan ayat-ayat kauniyah dan syar’iyyah. Dan dibenarkan dari sisi makhluk yakni wajib bagi mereka untuk membenarkannya. Kita hanya membawakannya kepada pembenaran secara syar’i karena sebagian manusia ada yang membenarkannya; namun wajib bagi mreka membenrkannya.
Perkataan beliau:
بخلاف الذين يقولون عليه ماﻻ يعلمون
“Berbeda dengan orang-orang yang berbicara tentang Alloh apa-apa yang tidak mereka ketahui”;
Mereka inilah orang-orang dusta dan sesat karena mereka berkata tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Seolah-olah penulis mengisyaratkan kepada ahlul tahrif; karena ahlut tahrif berkata tentang Alloh apa yang tidak mereka ketahui dari dua sisi:
Mereka berkata: Alloh tidak memaksudkan demikian dan maksudnya demikian. Maka mereka berkata tentang peniadaan dan penetapan dengan apa yang tidak mereka ketahui.
MIsalnya mereka berkata: Alloh tidak memaksudkan wajah dengan wajah yang hakiki (sebenarnya)! Maka disini mereka berkata tentang Alloh apa yang tidak mereka ketahui dengan peniadaan. Kemudian mereka berkata: Maksudnya wajah adalah pahala! Maka mereka berkata tentang Alloh apa yang tidak mereka ketahui dalam penetapan.
Mereka inilah yang berkata tentang Alloh apa yang tidak mereka ketahui. Tidaklah mereka ini orang-orang yang benar, tidak pula dibenarkan, tidak juga dikhabarkan sebagai orang yang benar; bahkan telah jelas bukti-bukti bahwa mereka ini adalah orang-orang yang dusta dan yang didustakan dengan apa yang telah setan wahyukan kepada mereka.




0 komentar:
Posting Komentar