“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 20 Oktober 2019

Hadits (47): Waktu-Waktu Sholat Fardhu - 2

Hadits 47:

عَنْ أبي الْمِنْهَالِ سَيَّارِ بْنِ سَلامَةَ قالَ: " دَخَلْتُ أنَا وَأبي عَلَى أبي بَرْزَةَ الأسْلَمِيِّ فَقَالَ لَهُ أبي: كَيْفَ كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يُصَلي الْمَكْتُوبَةَ؟
فَقَالَ: كَانَ يُصَلِّى الهاجرة الَّتي تَدْعُونَهَا الأوَلى، حِينَ تَدْحَضُ الشًمْسُ، وَيُصَلى الْعَصْرَ، ثُمّ يَرْجِعُ أحَدُنَا إِلى رَحْلِهِ في أقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشًمْسُ حَيّة. وَنَسِيت مَا قَال في الْمَغْرِبِ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أنْ يُؤَخرَ مِنَ العشَاءِ التي تَدعُونَهَا الْعَتَمَةَ. وَكَانَ يَكْرَهُ النَوْمَ قبلَهَا وَاْلحدِيث بَعْدَهَا. وَكَان يَنْفَتِلُ مِنْ صَلاةِ اْلَغدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَجُلُ جَلِيسَهُ. وَكَانَ يَقْرأ بالستينَ إِلى الْمائَةِ ".

"Dari Abu Minhal Sayyar bin Salamah ia berkata: "Aku dan bapakku menemui Abu Barzah Al-Aslamy. Bapakku bertanya kepadanya: "Bagaimana Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melakukan sholat maktubah (sholat fardhu)?"
Dia menjawab: Adalah beliau melakukan sholat Hajirah (Dzuhur) yang kalian menyebutnya dengan sholat awal tatkala matahari mulai condong(ke barat). Beliau sholat ashar kemudian seseorang di antara kami kembali ke hewan tunggangannya di ujung Madinah sedangkan matahari masih bersinar". Dan saya lupa apa yang dia katakan tentang sholat maghrib. Adalah beliau menyukai mengakhirkan waktu sholat Isya' yang kalian menyebutnya sholat 'Atamah. Beliau tidak suka tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang setelahnya. Adalah beliau selesai mengerjakan sholat Shubuh ketika seseorang mengetahui teman duduknya. Beliau membaca antara 60 sampai 100 ayat". (HR Bukari 547 dan Muslim 647)

Penjelasan Lafadz:
1. Arti الْمَكْتُوبَةَ yaitu sholat lima waktu, maksudnya sholat wajib.
2. Arti الأوَلى yaitu sholat dzuhur karena itu adalah sholat yang pertama kali Jibril mengerjakannya bagi Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-.
3. Arti  تَدْحَضُ الشًمْسُ yaitu tergelincir dari tengah langit ke arah barat. Dikatakan دحض برجله apabila dia memeriksa kakinya.
4. Arti وَالشًمْسُ حَيّة adalah kiasan untuk mengungkapkan terang sinarnya. Maksud dari "hayaatiha" adalah kuatnya pengaruh panas dan cahayanya.
5. Arti الْعَتَمَةَ yaitu gelapnya malam ketika syafaq (awan senja) telah sirna dan berlalu sepertiga malam. Maksudnya di sini adalah sholat Isya'.
6. Arti  يَنْفَتِلُ مِنْ صَلاةِ اْلَغدَاةِ yaitu selesai dari sholat subuh

Makna Global:
Abu Barzah menyebutkan waktu-waktu sholat maktubah. Dia memulai bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sholat Al-Hajirah -yaitu sholat Dzuhur- tatkala matahari tergelincir ke arah barat; dan ini adalah awal waktunya. Dan beliau sholat 'Ashar kemudian salah seorang yang ikut sholat kembali kepada hewan tunggangannya di ujung Madinah sedangkan matahari masih terang sinarnya; ini adalah awal waktunya. Adapun waktu sholat Maghrib perawi lupa tentang waktunya. Telh berlalu penjelasannya bahwa waktu maghrib adalah dengan terbenamnya matahari.
Adalah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menyukai mengakhirkan waktu isya; sebab waktunya yang utama adalah mengerjakannya di akhir waktunya. Beliau tidak menyukai tidur sebelumnya karena khawatir terlambat mengerjakannya di waktunya yang pilihan dan luput dari menghadiri jamaah; dan juga khawatir terlelap tidur dan meninggalkan sholat malam. Dan beliau membenci bercakap-cakap setelah Isya' karena khawatir terlambat sholat shubuh diwaktunya atau terlambat dari mengerjakannya secara jamaah.
Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- selesai dari sholat subuh ketika seseorang sudah bisa melihat teman di dekatnya; bersamaan dengan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- membaca dalam sholatnya 60 sampai 100 ayat; hal ini menunjukkan bahwa beliau mengerjakannya keika ghalas (malam masih gelap bercampur dengan fajar).

Kesimpulan hadits:
1. Penjelasan waktu-waktu sholat lima waktu. Dan bahwa bagian akhir dari waktu sholat (fardhu) adalah bagian awal dari waktu sholat(fardhu) setelahnya.
2. Penjelasan bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengerjakannya di awal waktunya kecuali sholat Isya'.
3. Sesungguhnya keutamaan mengerjakan sholat Isya adalah diakhirkan sampai waktunya yang terakhir, yaitu pertengahan malam. Namun keutamaan pengakhiran sholat Isya' ini dikaitkan dengan ketiadaan masyaqqah(keberatan) jamaah sholat sebagaimana terdahulu.
4. Makruhnya tidur sebelum sholat Isya' agar tidak terluput sholat jamaah atau mengerjakannya setelah waktunya yang terbaik.
5. Kemakruhan bercakap-cakap setelahnya agar tidak tertidur dari sholat malam, atau sholat subuh berjamaah. Namun kemakruhan bercakap-cakap setelah shalat Isya' tidak menghalangi berdiskusi tentang ilmu yang bermanfaat atau mengerjakan kemaslahatan kaum muslimin.
6. Ucapan beliau "yang kalian menyebutnya al-'Atamah" adalah dalil kemakruhan menyebut sholat Isya dengan sholat 'Atamah. Dan terdapat dalam shahih Muslim secara marfu' :
ﻻ يغلبنكم الاعراب على اسم صلاتكم، فإنها في كتاب الله العشاء
"Jangan sampai orang-orang non Arab mengalahkan kalian tentang nama sholat kalian. Sesungguhnya dalam Kitab Alloh namanya adalah (sholat) 'Isya" (HR Muslim 244/299 dri Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma).
Bahwasannya Ibnu Umar marah dengan penamaan ini.

Namun telah datang riwayat yang menunjukkan kebolehannya, dan bahwasannya kemarahan beliau dengan penamaan ini hanyalah makruh saja. Dalam As-Shahihain dari Abu Hurairah secara marfu':
لو يعلمون ما في العتمة و الفجر...
"Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada dalam sholat 'Atamah (Isya') dan sholat Shubuh" (HR Bukhari 657 dan Muslim 651)
7. Bahwa beliau mengerjakan sholat subuh di waktu ghalas (fajar masih gelap) dimana ketika beliau selesai darinya seseorang tidak mengetahui kecuali orang yang ada di dekatnya. Bersamaan dengan itu beliau membaca dalam sholat Shubuh ini antara 60 sampai 100 ayat.
8. Keutamaan memanjangkan bacaan sholat Shubuh.
9. Dalam hadits ini; bahwa selayaknya bagi orang yang ditanya tentang suatu ilmu sedangkan dia tidak mengetahui untuk tidak sungkan mengucapkan "saya tidak tahu". Sebab berfatwa dari ketidaktahuan adalah berbicara tentang Alloh tanpa ilmu.  Bahkan tawaqufnya (diamnya) seorang yang berilmu tentang permasalahan yang dia tidak mengetahuinya bukanlah kekurangan pada haknya, bahkan merupakan kemuliaan yang agung dimana dia berhati-hati dari sikap serampangan tanpa ilmu; dan tawadhu' dimana dia diam pada batas keilmuannya.

Faidah:
Apabila berbincang-bincang setelah Isya' makruh padahal dalam perkara yang mubah dan tidak mengandung keharaman; lalu bagaimana halnya dengan orang menghidupkan malam dengan mendengarkan lagu-lagu yang vulgar, membaca tulisan-tulisan dan cerita-cerita seronok yang tak bermutu; dan orang yang terfitnah dengan gambar-gambar porno dan film-film maksiat serta pesrmainan-permainan yang melalaikan yang memalingkan dari dzikir kepada Alloh dan dari sholat? Sehingga ketika telah dekat waktu shubuh dan tiba waktu turunnya rahmat mereka tidur pulas. Maka tidak ada yang membangunkan dari tempat tidur mereka kecuali sengatan sinar matahari, hiruk pikuknya jual beli dan aktivitas kehidupan. Mereka telah meninggalkan sholat shubuh secara berjamaah, bahkan terkadang melalaikannya dari waktunya.

Petaka dan musibah besar atas orang yang hidup di atas jalan yang buruk ini sedangkan setan mempermainkannya sehingga menghalanginya dari perkara yang bermanfaat kepada hal-hal yang membahayakannya. Mereka inilah yang dikhawatirkan menjadi orang-orang yang lupa kepada Alloh sehingga mereka pun lupa akan diri mereka sendiri. Maka dibentangkanlah penutup kelalaian, maka tidaklah mereka sadar kecuali ketika kesadaran itu tidak bermanfaat baginya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)