“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 20 Oktober 2019

Hadits (48): Penjelasan Tentang Sholat Wustha dan Mengakhirkan Sholat Karena Terhalang Keadaan

Hadits 48:

عَنْ عَلِىٍّ رَضي الله عَنْهُ أنَ النَبيَّ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ قالَ يَوْمَ الخَنْدَق: " مَلأ الله قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نارا، كَمَا شَغلُونَا عن الصلاةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ ".
وفي لفظ لمسلم: "شَغَلُونَا عَنِ الصلاةِ الوُسْطَى - صَلاةِ الْعصْرِ- ثم صلاها بين المغرب والعشاء

"Dari Ali -radhiyallohu 'anhu- sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam berkata di perang Khandaq: "Semoga Alloh memenuhi kubur-kubur mereka dan rumah-rumah mereka dengan api sebagaimana mereka menyibukkan kita dari sholat Wustha hingga terbenam matahari".
Dalam lafad Muslim: Mereka menyibukkan kita dari sholat Wustho' -yaitu sholat 'Ashar". Kemudian beliau mengerjakannya antara Maghrib dan Isya'. (HR Bukhari 2931 dan Muslim 627)

وله عن عبد الله بن مسعود قال: حَبَس اْلمُشركُون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صَلاةِ العصْرِ حتَى احْمَرَّتِ الشمس أو اصْفَرَّت فَقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " شَغَلُونَا عن الصَّلاةِ الوُسْطَى - صَلاةِ العصَر- مَلأ الله أجْوَافَهُمْ وقبُورَهُمْ نَارا" أو "حَشا الله أجْوَافَهُمْ وقُبُورهُمْ نَارا ".
Dan baginya hadits dari Ibnu Mas'ud; dia berkata: "Orang-orang Musyrik menghalangi Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dari sholat 'Ashar hingga matahari memerah atau menguning. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Mereka menghalangi kita dari sholat Wustha -shalat 'Ashar-. Semoga Alloh memenuhi perut-perut mereka dan kubur-kubur mereka dengan api- atau: semoga Alloh menjejali perut-perut mereka dan kubur-kubur mereka dengan api-" (HR Muslim: 628).

Penjelasan Lafadz:
1. Arti الخَنْدَق yaitu parit yang digali Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para sahabat yang mengelilingi bagian utara madinah Munawwarah dari timur ke barat, dimana para musuh beliau bersatu memblokade beliau pada tahun 5 H.
2. Arti الوُسْطَى muannats dari Ausath (pertengahan). Dan pertengahan sesuatu adalah pilihannya. Misalnya firman Alloh -ta'ala-: وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا  "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath" (QS Al-Baqarah: 143) yakni pilihan.

Makna Global:
Orang-orang Musyrik telah menyibukkan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para sahabat dari mengerjakan sholat Ashar sampai terbenam matahari karena harus melakukan ribath (siaga dari serangan musuh di perbatasan -pent) dan menjaga kota madinah serta diri-diri mereka. Maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidaklah mengerjakannya kecuali setelah matahari terbenam. Maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- mendoakan agar perut-perut mereka dan kubur-kubur mereka dipenuhi dengan api sebagai balasan terhadap gangguan yang ditimpakan kepada beliau dan sahabatnya; dan karena telah menyibukkan mereka dari sholat Ashar yang erupakan seutama-utama sholat.

Perbedaan Pendapat Para Ulama:
Ulama berbeda pendapat tentang maksud Sholat Wushtho yang Alloh perintahkan untuk menjaganya pada firmanNya:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ
"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa" (QS Al-Baqarah: 238);
dengan perbedaan pendapat yang banyak. Asy-Syaukani menyebutkan sampai tujuh belas pendapat dan beliau sebutkan dalil-dalilnya. Dan kita tidak ada hajat untuk menyebutkan sesuatu dari hal tersebut karena akan berpanjang lebar dan sedikitnya faidah yang didapatkan.
Dan yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih lagi jelas dan dipegangi oleh jumhur salaf dan khalaf bahwa maksudnya adalah sholat Ashar. Ada pun selain pendapat ini adalah lemah dalilnya dan tertolak hujahnya.

Kesimpulan hadits:
1. Bahwa maksud sholat Wustho adalah sholat Ashar sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain dari 'Ali bahwa ia berkata: "Kami kira adalah shalat Subuh sampai aku mendengar Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata ketika perang Ahzab:
شغلونا عن الصلاة الوسطى؛ صلاة العصر
"Mereka menyibukkan kita dari mngerjakan sholat wustho yaitu sholat 'Ashar".
Ibnul Atsir berkata: disebut sholat wustho karena merupakan seutama-utama sholat dan sebesar-besar pahalanya dan oleh karenanya dikhususkan untuk menjaganya.
2. Bolehnya mengakhirkan sholat dari waktunya karena ketidakmungkinan mengerjakannya pada waktunya.
3. Bisa jadi hal ini sebelum disyariatkannya sholat Khouf; mereka diperintahkan sholat dengan jalan dan berkendara setelah peristiwa ini. Al-Qodhi Iyadh berkata: "Beliau mengakhirkannya (sholat Ashar) secara sengaja dan (disyariatkannya) sholat khouf untuk menghapusnya". Ibnu Hajar berkata: "Ini yang lebih dekat (kepada pendapat yang benar -pent) dan terlebih lagi telah ada hadits dalam riwayat Ahmad dan Nasa'i dari hadits Abu Sa'id: "Bahwa hal itu terjadi sebelum Alloh menurunkan ayat tentang sholat khouf:
فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ
"(Jika kamu dalam keadaan bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan". (QS Al-Baqarah: 239)
3. Bahwa orang yang terlupakan sholat pada waktunya maka dia mengerjakannya ketika ingat.
4. Bolehnya berdoa atas orang dzolim sesuai dengan kedzalimannya sebab hal itu adalah qishos.
5. Para ulama berkata: "Ini adalah dalil tentang tidak adanya riwayat hadits dengan maknanya, bahkan haruslah sesuai dengan nash yang ada karena Ibnu Mas'ud ragu-ragu antara ucapan "مَلأ الله" atau "حَشا الله " dan tidak mencukupkan dengan salah satu lafadznya padahal keduanya memiliki persamaan makna".

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)