“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 10 November 2019

Tuhfah: Pembagian Khouf (Takut)

Berkata penulis -rahimahulloh-:

Pembagian Al-Khouf (takut) ada empat

(1). Khouf Ibadah: yaitu takut kepada Alloh saja yang tiada sekutu bgiNya. Ini jenis ibadah hati. Kita beribadah kepada Alloh denganNya. Alloh ta'ala berfirman:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga". (QS Ar-Rahman: 46)

Dan Alloh -ta'ala- berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya" (QS An-Nazi'at: 40)

Alloh ta'ala berfirman mensifati hamba-hambaNya para malaikat:
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۩

"Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)". (QS An-Nahl: 50)

Dan Alloh ta'ala berfirman:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا
"(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan". (QS Al-Ahzab: 39)

Penjelasan perkataan penulis -hafidzahulloh-:
Jenis khouf (takut) ini adalah ibadah kepada Alloh. Barang siapa yang memalingkannya kepada selainNya baik orang yang telah mati, berhala dan yang selainnya  maka dia telah terkatuh kepada kesyirikan. Dan takut kepada Alloh -azza wa jalla- ini tumbuh dari ma'riftulloh (mengenal Alloh) dengan nama-namaNya dan shifat-shifatNya sehingga membuahkan rasa takut dan rasa selalu diawasi. Sebagaimana dikatakan:
من كان بالله أَعْرَف كان من الله أخْوَف
"Barang siapa paling mengenal Alloh, maka dia paling takut kepada Alloh".
Dan buahnya adalah menjauhi hal-hal yang dimurkai Alloh dan bersungguh-sungguh dalam mentaati Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya" (QS An-Nazi'at: 40)

Terkadang rasa takut ada pada hati seorang hamba bersamaan dengan sebagian kemaksiatan yang dilakukan namun rasa takut ini mendorongnya untuk bertaubat dan menyesal akan perkara yang dilalaikannya tersebut.

Dan buah dari ibadah hati ini adalah berupa kemenangan mendapatkan surga. Alloh ta'ala berfirman:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga". (QS Ar-Rahman: 46)
Meskipun dia mengerjakan sebagian kemaksiatan sebagaimana yang telah shahih dari Imam Ahmad dari hadits Abu Darda' bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- membaca di atas mimbar:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga". (QS Ar-Rahman: 46)
Maka Abu Darda' berkata: Meskipun dia berzina dan mencuri wahai Rasulullah? Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam. Abu Darda' pun mengulangi lagi pertanyaannya. Maka beliau -shollallohu alaihi wa sallam-:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
وإن رغم انف أبي الدرداء
"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga". (QS Ar-Rahman: 46)
Meskipun celakalah Abu Darda'! (Ungkapan orang arab dan bukan laknat -pent)

Dalam ayat lain Alloh berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya"(QS An-Nazi'at: 40)

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
(2). Syirik Khouf (perbuatan syirik karena takut) yaitu seorang hamba takut kepada selain Alloh, seperti takut kepada jin, orang mati dan selainnya seperti takutnya kepada Alloh atau dengan ketakutan yang lebih dahsyat lagi.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ
"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ”Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). ”(QS. An-Nisa': 77)

Penjelasan:
Jenis takut ini sebagaimana takut kepada jin atau orang mati bahwa dia bisa memudharatkannya selain Alloh. Dan Alloh -ta'ala- yang menetapkan kebaikan atau pun keburukan bagi para hambaNya. Dan Dia yang mampu memberikan manfaat dan mudharat. Apa yang dikehendaki Alloh pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakinya tidak akan terjadi. Tidak ada seorang pun yang mampu menimpakan kemudharatan kecuali dengan izin Alloh. Ini dari sisi makhluk yang hidup. Ada pun yang mati maka mereka tidak mampu memberikan manfaat dan mudharat bagi mereka(penyembahnya), dan tidak mampu menolak kemudharatan bagi diri mereka sendiri terlebih lagi untuk melakukannya kepada orang lain.
Dalam hadits Ibnu Abbas yang diriwayatn At-Tirmidzi di sebutkan bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya:
واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتب الله عليك
"Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memudharatkan dengan sesuatu niscaya tidak mampu memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah dituliskan Alloh atasmu" (Al-Hadits).
Jenis takut ini tumbuh dari sangat lemahnya keimanan kepada Alloh, bodoh terhadap keagungan dan kekuasaanNya, lemah atau tidak adanya tawakal kepadaNya dan hasil akhirnya adalah sebagaimana yang difirmankan Alloh -ta'ala-:
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun". (QS Al-Maidah: 72)
Dan gugurnya amalan berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS Az-Zumar: 65)
Dan ini jika pelakunya tidak bertaubat; barang siapa bertaubat niscaya Alloh akan menerima taubatnya.

Mu'allif -hafidzhulloh ta'ala- berkata:
(3). Khouf Ma'shiyah (rasa takut yang merupakan maksiat): yaitu seorang hamba takut kepada manusia sehingga dia meninggalkan kewajiban atau mengerjakan keharaman; dan tidak sampai pada tingkat dipaksa (untuk melakukan hal tersebut). Takut seperti ini adalah maksiat. Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS Ali Imran: 175)
Dan Alloh -ta'ala- berfirman:
فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ
"janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku". (QS Al-Maidah: 3)
Dan firmanNya:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
"janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku" (QS Al-Maidah: 44)

Penjelasan:
Khouf Maksiat adalah akibat dari lemahnya keimanan dan lemahnya tawakal. Lemah keimanan akan kebesaran Alloh dan akibatnya seorang hamba jika tidak bertaubat maka dia terancam dengan hukuman dari Alloh.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
(4). Khouf Thabi'i (takut karena tabiat)yaitu seperti takutnya seseorang kepada musuh, binatang buas, ular dan lain sebagainya. Dan ini boleh selama tidak melampau takut secara tabiat. Alloh ta'ala berfirman mengisahkan keadaan hambaNya dan nabiNya Musa -'alaihis salam-:
فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ
"jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya)" (QS Al-Qashas: 18)
FirmanNya juga:
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ
"Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir" (QS Al-Qashas: 21)
Dan Musa berkata:
رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ [٢٦:١٢]
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku". (QS Asy-Syuara: 12)
Dan Musa juga berkata:
رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَن يَقْتُلُونِ
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku". (QS Al-Qashas: 33)

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)