“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 15 Desember 2019

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 3)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 169 - 170

* FirmanNya:  مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ (Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?). Lafadz مَن ذَا adalah isim istifham (kata tanya). Atau kita katakan: مَن  isim istifham dan ذَا mulghah (diabaikan). Dan tidak benar dikatakan bahwa ذَا adalah isim maushul pada susunan seperti ini; sebab makna kalimat menjadi مَن الَّذِي الَّذِي (siapakah yang yang). Ini tidaklah benar.
Dan firmanNya مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ (Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah). Syafaat secara bahasa adalah enjadikan yang ganjil menjadi genap. Alloh ta'ala berfirman: والشفع والوتر (yang genap dan yang ganjil). (QS Al-Fajri:3). Sedangkan secara istilah yaitu wasilah kepada orang lain dalam memperoleh manfaat ataupun menolak mudharat; misal: Syafaat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- kepada penduduk padang mahsyar agar Alloh memutuskan perkara mereka: ini adalah syafaat untuk menolak mudharat. Sedangkan syafaat beliau kepada penduduk surga agar Alloh memasukkannya ke surga adalah (syafaat) untuk mendapatkan manfaat.

Dan firmanNya: عِندَهُ"di sisiNya" maksudnya adalah di sisi Alloh.

Lafadz إِلَّا بِإِذْنِهِ (kecuali dengan izinNya); yakni izinNya untuk dia. Dan ini memberi makna akan adanya syafaat; namun dengan syarat dia diberi izin. Sisi pendalilannya seandainya tidak ada syafaat maka istisna (pengecualian) pada firmanNya "kecuali dengan izinNya" maka sia-sia tidak ada faidahnya.

Alloh menyebutkan setelah firmanNya: لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ "BagiNya apa-apa yang ada di langit..." memberikan dalil bahwa kekuasaan ini adalah khusus bagi Alloh -azza wa jalla-; bahwa Dialah pemilik kekuasaan yang sempurna; artinya tidak ada seorang pun yang mampu mengatur dan tidak pula memberikan syafaat yang baik kecuali dengan izinNya. Ini adalah dari kesempurnaan Rububiyah dan kekuaaanNya -azza wa jalla-.

Kalimat ini juga memberikan dalil bahwa Alloh memiliki idzn (izin); dan izin secara bahasa adalah i'lam (pemberitahuan). Alloh -ta'ala- berfirman:
وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Dan (inilah) suatu permakluman(pemberitahuan) daripada Allah dan Rasul-Nya" (QS At-Taubah: 3)
yakni pemberitahuan dari Alloh dan rasulNya.
Maka makna بِإِذْنِهِ"dengan izinNya" (pada ayat kursi di atas -pent)yaitu pemberitahuan dariNya bahwa Dia ridha dengan hal tersebut.
Di sana ada syarat lain bagi syafaat, di antaranya: yaitu bahwa Alloh ridho kepada orang yang memberi syafaat dan yang diberi syafaat. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ
"dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah" (QS Al-Anbiya': 28)
Dan firmanNya:
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
"Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya". (Thaha: 109)

Dan di sana ada suatu ayat yang tiga syarat tersebut:
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ [٥٣:٢٦]
"Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)".(QS An-Najm: 26)
yakni Alloh ridho kepada pemberi syafaat dan yang diberi syafaat; sebab dibuangnya ma'mul (obyek) menunjukkan pada keumuman.
Apabila ada yang berkata: Apa manfaat dari syafaat jika Alloh -ta'ala- telah mengetahui bahwa orang yang akan diberi syafaat akan selamat?
Jawabnya: Sesungguhnya Alloh -subhanahu wa ta'ala- memberi izin dengan syafaat bagi orang yang diberi syafaat sebagai pemuliaan dan mendapatkan maqam mahmud (kedudukan yang terpuji).

* FirmanNya:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
"Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka".
Al-Ilmu (ilmu) yaitu pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti. Dan Alloh 'azza wa jalla "mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka" yaitu masa depan "dan apa-apa yang dibelakang mereka" yaitu yang telah terjadi. Dan kata ما dengan bentuk umum mencakup semua yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan mencakup pula perbuatanNya dan perbuatan-perbuatan hamba.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)