“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 15 Desember 2019

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 4)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 169 - 170

*Dan firmanNya: وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ "dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya." Dhomir pada kata يُحِيطُونَ  kembalinya kepada makhluk yang ditunjukkan oleh firmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi".
Yakni tiada seorang makhluk pun di langit dan di bumi yang mengetauhui sesuatu pun dari ilmu Alloh kecuali dengan apa yang Dia kehendaki.

FirmanNya: مِّنْ عِلْمِهِ "dari ilmuNya". Bisa jadi maksudnya ilmu tentang dzatNya dan shifat-shifatNya. Yakni bahwasannya kita tidak mengetahui sesuatu pun tentang Alloh, dzatNya dan shifat-shifatNya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki dan yang Dia ajarkan kepada kita. Dan bisa jadi pula bahwa maksud ilmu di sini bermakna maklum (yang diketahui). Yakni mereka (para makhluk) tidak mampu menjangkau sesuatu pun dari pengetahuanNya; yaitu dari apa yang Dia ketahui kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kedua makna ini benar. Dan kita katakan: Makna yang kedua lebih umum; karena apa yang diketahuinya masuk di dalamnya ilmuNya tentang dzatNya dan sifat-sifatNya dan yang selainnya.

FirmanNya:  إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ(melainkan apa yang dikehendaki-Nya); yakni kecuali yang Dia kehendaki dalam perkara yang Dia ajarkan kepada mereka.
Dan Alloh -ta'ala- telah mengajarkan kepada kita segala sesuatu yang banyak tentang asma-asmaNya dan sifat-sifatNya dan juga mengenai hukum-hukum kauniyah dan hukum-hukum syar'iyyah. Namun yang banyak ini (yang telah dijelaskan oleh Alloh ini -pent) dibandingkan dengan apa yang diketahuiNya adalah sedikit, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS Al-Isra': 85)
FirmanNya:
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ
"Kursi Allah meliputi langit dan bumi".
Maksudnya mencakupi; yakni bahwa kursiNya melingkupi langit-langit dan bumi, dan lebih besar darinya sebab jika tidaklah lebih besar tidaklah bisa melingkupinya.
Dan Kursi; Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma- berkata: yaitu tempat kedua Kaki Alloh -azza wa jalla-1), dan bukanlah maksudnya 'Arsy. Namun 'Arsy lebih besar dari pada kursi. Dan telah datang dari nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أن السماوات والسبع والأرضين السبع بالنسبة للكرسي كحلقة ألقيت في فلاة من الأرض، وأن فضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على هذه الحلقة
"Sesungguhnya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dibandingkan dengan kursi Alloh seperti gelang yang engkau lemparkan ke tengah padang pasir. Dan sesungguhnya besarnya Arsy dibandingkan dengan besarnya kursi seperti besarnya padang pasir dengan gelang tersebut"2)

Ini menunjukkan akan besarnya makhluk-makhluk ini. Dan besarnya makhluk menunjukkan akan agungnya penciptanya.

Firman Alloh -ta'ala-:  وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَ "Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya". Yakni: tidak memberatkan dan tidak menyusahkanNya dalam memelihara langit dan bumi.
Ini adalah sifat manfiyah (yang ditiadakan). Ada pun sifat Subutiyah yang ditunjukkan oleh penafiian ini adalah kesempurnaan qudrohNya (kemampuanNya), ilmuNya, kekuatanNya dan rahmatNya.

FirmanNya: وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ "dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar". Lafadz الْعَلِيُّ dngan wazan fa'iil dan ini adalah sifat musyabahah; sebab ketinggian Alloh -azza wajalla- senantiasa ada pada DzatNya. Perbedaan antara sifat musyabahah dan isim fail yaitu bahwa isim fail adalah kejadian yang tiba-tiba yang memungkinkan untuk lenyap, sedangkan sifat musyabahah senantiasa dan terus menerus tersifati dengannya.
Ketinggian Alloh ada dua: Ketinggian dzatNya dan ketinggian sifatNya.
Ada pun ketinggian dzatNya maknanya bahwa Dia berada di atas segala sesuatu dengan DzatNya dan tidak ada sesuatu pun di atasNya dan tidak ada sesuatu pun yang sejajar denganNya.
Adapun ketinggian shifat-shifatNya maka sebagaimana yang Alloh firmankan:
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ
"dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi;
yakni bahwa sifat-sifatNya seluruhnya adalah tinggi tidak ada padanya kekurangan dari sisi mana pun.

Adapun الْعَظِيمُ maka ini juga shifat musyabahah dan maknanya adalah 'yang memiliki keagungan' yaitu kekuatan dan kesombongan dan yang serupa dengan makna-makna itu yang dipahami dari penunjukkan (makna) kata ini.
Ayat ini mengandung nama Alloh yang lima yaitu: Alloh, Al-Hayyu, Al-Qoyyum, Al-'Aliyyu dan Al-Adzim.

Note:
1).(Diriwayatkan Abdulloh bin Imam Ahmad dalam Kitab As-Sunnah no. 586; Ibnu Abi Syaibah dalam Al'Arsy no. 61; Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid no. 248; Al-Hakim dalam Mustadrak (2/282) dan dia berkata sesuai dengan syarat Asy-Syaikhain namun keduanya tidak mengeluarkannya; Ad-Daruquthny dalam as-Shifat no. 36 dari Ibnu Abbas secara marfu'; dan dikuatkan oleh Al-Haitsami dalam Majmu' Az-Zawaid (2/323) oleh Ath-Thabroni dan dia berkata: perawinya perawi shahih; dan Al-Albani berkata dalam Mukhtashor Al-Uluw no. 45: Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah).
2). (HR Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Arsy no 58 dan Al-Baihaqy dalam Asma' wa Shifat 862 dari Abu Dzar -radhiyallohu 'anhu dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shohihah no 109; dan dia berkata: Tidak shahih hadits yang marfu' dari nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tentang sifat Arsy kcuali hadits ini)

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)