“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 15 Desember 2019

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 5)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 173 - 175

Dan (ayat ini) mengandung 26 dari shifat-shifat Alloh. Di antara 5 shifat terkandung dalam 5 nama tadi.
KEENAM: KeesaanNya dalam Uluhiyah.
KETUJUH: Peniadaan mengantuk dan tidur dari diriNya karena kesempurnaan Hayyah dan Qoyyumiyah (kemandirian & mengurusi seluruh makhlukNya).
KEDELAPAN: Keumuman kekuasaannya; berdasarkan firmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi"
KESEMBILAN: Pengesaan Alloh -azza wa jalla- dalam kepemilikan. Kita menyimpulkannya dari didaahulukannya khobar.
KESEPULUH: kuat dan sempurnanya otoritasNya; berdasarkan firmanNya:
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
"Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?"
KESEBELAS: penetapan al-'indiyyah, dan ini menunjukkan bahwa Alloh tidak berada di setiap tempat. Ini bantahan terhadap Hululiyyah.
KEDUABELAS: penetapan adanya izin dari Alloh berdasarkan firmanNya: إِلَّا بِإِذْنِهِ (kecuali dengan izinNya).
KETIGABELAS: keumuman ilmu Alloh -ta'ala- berdasarkan firmanNya:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ
"Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka"
KEEMPATBELAS DAN KELIMABELAS: Bahwa Alloh -subhanahu wa ta'ala- tidak lupa apa yang telah terjadi; berdasarkan firmanNya: وَمَا خَلْفَهُمْ (apa yang ada dibelakang mereka) dan mengetahui apa yang akan terjadi berdasarkan firmanNya: مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ (apa yang ada di depan mereka).
KEENAMBELAS: sempurnanya keagungan Alloh; oleh karenanya makhluk tidak mampu untuk mencapainya.
KETUJUHBELAS: Penetapan kehendak Alloh, berdasarkaa firmanNya  إِلَّا بِمَا شَاءَ (kecuali dengan apa yang Dia kehendaki).
KEDELAPANBELAS: penetapan kursi, yaitu tempat kedua kaki.
KESEMBILAN BELAS, DUAPULUH DAN DUA PULUH SATU: penetapan keagungan, kekuatan dan kekuasaanNya; berdasarkan firmanNya:  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ "Kursi Allah meliputi langit dan bumi"; sebab besarnya makhluk menunjukkan kebesaran penciptannya.
KEDUAPULUHDUA, DUA PULUH TIGA DAN DUA PULUH EMPAT: sempurnanya ilmuNya, rahmatNya dan penjagaanNya; berdasarkan firmanNya:  ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا "Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya".

KEDUAPULUHLIMA: penetapan ketinggian Alloh berdasarkan firmanNya:  وَهُوَ الْعَلِيُّ (dan Alloh adalah Maha Tinggi).
Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa Alloh -subhanahu wa ta'ala- tinggi dengan Dzat-Nya. Dan ketinggian Alloh ini adalah termasuk sifat Dzatiyh yang azali dan abadi.

Dan dua kelompok telah menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah tersebut: Satu kelompok yang mengatakan: Sesungguhnya Alloh berada di setiap tempat dengan Dzat-Nya! Dan kelompok yang lain mengatakan: sesungguhnya Alloh tidak di atas alam, tidak di bawahnya, tidak pula di dalam alam, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak terpisah dari alam dan tidak bersatu dengan alam!

Mereka yang mengatakan bahwa Alloh ada di setiap tempat berdalil dengan firman Alloh -ta'ala-:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ

"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada". (QS Al-Mujadilah: 7)
dan berdalil pula dengan firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". (QS Al-Hadid: 4)
Berdasarkan ini; maka Alloh tidaklah tinggi dengan Dzat-Nya tetapi tinggi menurut mereka adalah ketinggian sifat.

Adapun mereka yang mengatakan: Sesungguhnya Alloh tidaklah disifati dengan arah. Mereka berkata: Sebab jika kita mensifatinya dengan hal itu tentulah Alloh itu jism (badan); dan jism itu penyerupaan dan ini berkonsekwensi tamtsil (menyerupakan Alloh dengan makhluk). Karena hal ini maka kami mengingkari bahwa Dia ada di arah mana saja.
Namun kita membantah kedua golongan ini dari dua sisi:
Sisi Pertama: Salahnya pendalilan mereka.
Sisi Kedua: Penetapan kebalikan dari perkataan ereka dengan dalil-dalil yang qath'i.

(I) PERTAMA: Kita katakan kepada orang yang menganggap bahwa Alloh dengan dzatNya ada di setiap tempat: klaim kamu ini klaim yang batil. Terbantahkan oleh dalil naqli dan aqli (akal):

Adapun dalil naqli: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- menetapkan untuk diriNya bahwa diriNya AL-'Aliy (Yang Maha Tinggi). Dan ayat yang engkau jadikan dalil itu tidaklah menunjukkan akan klaimmu (Alloh ada di mana-mana) sebab ma'iyyah (kebersamaan) tidak mengharuskan hulul (manunggal) dalam setiap tempat. Tidakkah engkau mendengar perkataan orang Arob: Rembulan bersama kita, sedangkan tempatnya ada di langit? Dan seseorang berkata: Istriku bersamaku; padahal dia di timur dan istrinya di barat? Dan seorang komandan berkata kepaada pasukannya: Berangkatlah kalian ke medan perang dan aku bersama kalian; padahal dia berada di ruang kendali dan pasukannya ada di medan perang. Tidaklah ma'iyah (kebersamaan) itu berkonsekwensi yang menemani dan ditemani ada di stu tempat selamanya. Ma'iyyah terbatasi maknanya tergantung pada penyandarannya. Maka terkadang kita katakan: Susu ini padanya ada air. Ini adalah ma'iyyah (kebersamaan) yang mengharuskan percampuran. Dan seseorang berkata: Hartaku ada padaku; padahal hartanya ada di rumah tidak dibawanya. Dan ia berkata ketika membawa hartanya: hartaku ada padaku; dan hartanya dia bawa. Maka ini adalah satu kata namun berragam maknanya tergantung penyandarannya. Berdasarkan hal ini kita katakan: Kebersamaan Alloh -azza wa jalla- dengan makhluknya sesuai dengan kemulianNya (Alloh subhanahu wa ta'ala) sebagaimana dengan kseluruhan sifat-sifatNya. Maka ini adalah kebersamaan yang sempurna dan hakiki namun Dia ada di langit.

Adapun dalil aqli akan bathilnya perkataan mereka; maka kita katakan: ketika aku berkata: Sesungguhnya Alloh bersamamu di setiap tempat. Maka ini mengandung konsekwensi yang bathil. Konsekwensinya adalah:

Pertama: Bisa jadi berbilang atau terbagi-bagi. Ini adalah konsekwensi yang batil tanpa diragukan lagi. Dan bathilnya konsekwensi (pemikiran mereka) menunjukkan akan bathilnya pemikiran mereka.

Kedua: kita katakan: tatkala aku katakan: Sesungguhnya Alloh bersamamu di berbagai tempat. Maka ini berkonsekwensi bertambah dengan bertambahnya manusia dan berkurang dengan berkurangnya manusia.

Ketiga: Pemikiran ini berkonsekwensi tidak adanya pensucian Alloh dari tempat-tempat yang kotor. Tatkala aku katakan: Sesungguhnya Alloh bersamamu ketika engkau ada di kakus. Maka ini adalah sebesar-besar celaan kepada Alloh -'azza wa jalla-.

(II) KEDUA; kita katakan kepada mereka:
Pertama: Sesungguhnya peniadaanmu terhadap arah (bagi Alloh) berkonsekwensi peniadaan terhadap Alloh -azza wa jalla-; sebab tidaklah kita mengetahui sesuatu yang tidak ada di atas alam dan tidak pula dibawahnya, tidak dikiri dan tidak dikanan, tidak bersatu dan tidak berpisah; kecuali sesuatu itu memang tidak ada. Oleh karenanya berkata sebagian ulama: "Jika dikatakan kepada kita: Sifatkanlah Alloh dengan ketiadaan! Maka kita tidak mendapati pensifatan yang lebih tepat untuk peniadaan kecuali dengan sifat seperti ini".
Kedua: Perkataanmu: "Penetapan arah (untuk Alloh) berkonsekwensi tajsiim (anggapan Alloh punya jisim/wujud jasmani)!". Kami akan mengajakmu diskusi tentang kata jisim:
Apakah jisim ini yang karenanya engkau hindarkan manusia dari menetapkan sifat-sifat Alloh?! Apakah maksud kalian jisim itu adalah sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya; yang tidak mungkin tegak kecuali dengan bergabungnya bagian-bagian ini?! Jika maksudmu ini maka kami pun tidak meyakininya. Dan kami katakan: Sesungguhnya Alloh tidak memiliki jisim dengan makna ini. Dan barang siapa berkata: Sesungguhnya penetapan ketinggianNya berkonsekwensi adanya jisim ini maka perkataannya hanyalah klaim semata. Cukuplah kita katakan:
Ini tidaklah bisa diterima!! Namun jika yang kalian maksudkan dengan jisim adalah Dzat yang berdiri sendiri yang menyandang sifat yang sesuai, maka kami menetapkannya. Dan kita katakan: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- memiliki Dzat; dan Dia berdiri sendiri (mandiri) yang memiliki sifat kesempurnaan; dan ini yang diketahui oleh seluruh manusia.

Dengan demikian menjadi jelaslah batilnya perkataan mereka yang meyakini bahwa Alloh dengan Dzat-Nya ada di setiap tempat. Atau (mengatakan) bahwa Alloh -ta'ala- tidaklah ada di atas alam tidak pula di bawahnya, tidak bergabung dan tidak pula terpisah. Namun kita katakan bahwa Dia -azza wa jalla- bersemayam di atas Arsy-Nya.

Adapun dalil-dalil tentang ketinggian (Alloh -ta'ala-)yang telah membantah perkataan kedua golongan dan yang telah menguatkan pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah maka banyak sekali dalilnya tidaklah terhitung jumlahnya. Adapun klasifikasinya ada lima yaitu: Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', Akal dan Fithrah.

Adapun dari Al-Qur'an; maka beracam-macam dalil tentang ketinggian Alloh di antaranya tentang penjelasan tentang al-'Uluww (ketnggian Alloh) dan Al-Fauqiyyah (Alloh ada di atas), naiknya sesuatu kepadaNya dan turunnya sesuatu dariNya dan yang serupa dengan itu.

Adapun dari As-Sunnah maka beragam penunjukannya; dan telah bersesuaian As-Sunnah dengan 3 macamnya (Qoliyah, Fi'liyah dan Taqririyah -pent) akan ketinggian Alloh dengan DzatNya. Telah shahih ketinggian Alloh dengan Dzat-Nya dalam As-Sunnah dari perkataan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- perbuatannya dan ketetapannya.

Adapun dari Ijma'; maka kaum muslimin telah ijma' (sepakat) sebelum kemunculan kelompok-kelompok bid'ah ini bahwa Alloh -ta'ala- bersemayam di atas 'Arasy-Nya di atas para makhlukNya. Telah berkata syaikhul Islam: Tidaklah ada dalam firman Alloh dan tidak pula sabda rasul-Nya dan tidak pula ucapan shahabat dan tidak pula yang mengikuti mereka dengan baik yang menunjukkan -tidaklah secara nash dan tidak pula secara dzahir- bahwa Alloh ta'ala tidaklah di atas Arsy dan tidak di langit. Bahkan seluruh perkataan mereka bersepakat bahwa Alloh berada di atas segala sesuatu. -selesai-

Adapun dari Akal; maka kia katakan: Semua tahu bahwa al-Uluww (ketinggian) adalah sifat yang sempurna. Jika ini adalah sifat kesempurnaan maka wajib untuk ditetapkan bagi Alloh; karena sesungguhnya Alloh tersifati dengan sifat-sifat yang sempurna. Oleh karenanya kita katakan: Adalah bisa jadi Alloh ada di atas, atau di bawah atau sejajar. Adapun di bawah dan sejajar ditiadakan (dari sifat Aloh -pent) sebab di bawah naqish (kurang sempurna) dari segi makna. Sedangkan sejajar adalah naqish karena sama dengan makhluk dan menyerupainya (tamtsil); maka tidaklah tersisa kecuali sifat Uluw (ketinggian). Dan ini adalah bentuk lain dari dalil akal.

Adapun dari Fithrah; maka kita katakan: Tidaklah ada seorag hamba yang berkata: Ya Robb! kecuali didapati dalam hatinya secara naluri mengarah ke atas.

Maka bersesuaianlah lima dalil ini.
Adapun ketinggian sifat-sifat Alloh; maka ini adalah ijma' bagi setiap orang yang beragama atau yang mengaku dirinya muslim.

KEDUAPULUH ENAM: Penetapan Al-Adzomah (keagungan) untuk Alloh 'azza wa jalla- berdasarkan firmanNya: الْعَظِيمُ.
#######


0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)