“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 09 Februari 2020

Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah: Bertawakallah Hanya Kepada Alloh

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 184 - 187
Perkataan penulis -rahimahulloh-:
Firman Alloh -subhanahu wa ta'ala-:
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ
"Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati" (QS Al-Furqan: 58)

* FirmanNya: وَتَوَكَّلْ (bertawakallah). At-Tawakul berasal dari وكل الشيء على غيره (menyerahkan sesuatu kepada selainnya) yakni memasrahkan kepadanya. Maka tawakkal kepada selainnya maknanya menyerahkan kepadanya.
Sebagian ulama mendefinisikan tawakal kepada Alloh dengan: benarnya bersandar kepada Alloh dalam mendapatkan kemanfaatan dan menolak kemudharatan dengan dibarengi kepercayaan kepada Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan melakukan sebab-sebab yang benar.
Bersandar yang benar maksudnya adalah engkau bersandar kepada Alloh dengan sebenar-benar bersandar; dengan tidak meminta kecuali kepada Alloh; tidak meminta pertolongan kecuali kepada Alloh; tidak berharap kecuali hanya kepada Alloh dan tidak takut kecuali kepada Alloh. Bersandar kepada Alloh -azza wa jalla- dalam mendapatkan manfaat dan menolak kemudharatan. Dan tidaklah cukup bersandar tanpa keyakinan kepadaNya dan melakukan sebab yang diizinkanNya. Engkau yakin tanpa keraguan dengan melakukan sebab yang diizinkan mencapaiNya.
Barangsiapa yang tidak bersandar kepada Alloh dan bersandar pada kemampuannya maka dia akan dihinakan. Dalil hal ini adalah peristiwa yang menimpa para sahabat bersama Nabinya Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada saat perang Hunain tatkala Alloh berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍۢ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ
"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu)"
Tatkala mereka berkata: "Hari ini sekali-kali kita tidak akan dikalahkan oleh golongan yang sedikit"

فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًۭٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ * ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًۭا لَّمْ تَرَوْهَا
"maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya". (QS At-Taubah: 25-26)
Dan barang siapa yang bertawakal kepada Alloh namun tidak melakukan sebab yang diizinkan oleh Alloh untuk mendapatkannya maka dia tidaklah benar(tawakalnya). Bahkan tanpa melakukan sebab-sebab adalah kebodohan menurut akal dan naqis (kurang) dalam agama sebab hal itu adalah bentuk celaan yang jelas terhadap hikmah Alloh.
Tawakal kepada Alloh adalah separoh dari agama sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh -ta'ala-:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". (Al-Fatihah: 5)
Dan permintaan tolong kepada Alloh adalah buah dari tawakal:
فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ
"maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya".(QS Hud: 123)

Oleh karenanya; orang yang bertawakal kepada selain Alloh tidak lepas dari tiga keadaan:

Pertama: Bertawakal dengan penyandaran dan peribadahan; ini syirik besar. Seperti berkeyakinan bahwa yang ditawakali adalah yang mendatangkan untuknya setiap kebaikan dan menolak darinya seluruh keburukan. Maka ia pun menyerahkan urusannya kepadanya dengan sebenar-benarnya dalam mendapatkan manfaat dan menolak kemudharatan dengan dibarengi dengan rasa takut dan harap, sama saja apakah yang ditawakali itu hidup atau mati; sebab tawakal semacam ini tidaklah boleh ditujukan kecuali kepada Alloh.
Kedua: Bertawakal kepada selain Alloh dengan suatu penyandaran namun dengan keyakinan bahwa hal itu hanyalah sebab dan bahwasannya urusannya diserahkan kepada Alloh. Seperti tawakalnya kebanyakan manusia kepada raja dan pemimpin untuk mendapatkan pekerjaan. Ini adalah jenis syirik kecil.
Ketiga: Menyerahkan urusan kepada seseorang yang mewakilinya dan yang menyerahkan adalah orang yang statusnya berada di atasnya. Seperti seseorang mewakilkan dalam perkara jual beli dan semacamnya yang termasuk perwakilan. Maka ini boleh dan tidak meniadakan tawakal kepada Alloh. Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah mewakilkan kepada para sahabatnya dalam perkara jual beli dan semacamnya.

* Dan firmanNya:  عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ "kepada (Allah) yang hidup (kekal) Yang tidak mati". Para ulama mengatakan: Jika suatu hukum dikaitkan dengan suatu sifat menunjukkan akan pentingnya sifat tersebut.
Seandainya seseorang berkata: Kenapa bunyi ayatnya: "Bertawakallah kepada yang Maha Kuat dan Maha Perkasa"; sebab kekuatan dan keperkasaan lebih sesuai dengan yang kontek?
Jawabnya: Bahwasannya tatkala berhala-berhala yang ditawakali oleh mereka ini keadaannya adalah mati; sebagaimana yang difirmankan Alloh -ta'ala-:
وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْـًۭٔا وَهُمْ يُخْلَقُونَ * أَمْوَ‌ٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍۢ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan". (QS An-Nahl: 20-21)
Maka Alloh berfirman: Bertawakallah kepada Dzat yang tidak memiliki sifat seperti berhala-berhala ini; Dia yang hidup dan tidak akan mati. Alloh berfirman pada ayat yang lain:
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ
"Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang" (QS Asy-Syu'araa': 217)
sebab 'izzah (keperkasaan) sesuai pada konteks ini.

Bentuk yang lain: bahwa Al-Hayyu (Maha Hidup) adalah nama yang mencakup seluruh sifat-sifat yang sempurna dalam kehidupan. Dan karena kesempurnaan kehidupanNya -azza wa jalla- maka Dia pantas sebagai tempat bertawakal.

FirmanNya:  لَا يَمُوتُ "tidak mati"; yakni karena kesempurnaan hidupnya Dia tidak akan mati sehingga ada keterkaitannya dengan sebelumnya. Maksudnya adalah faidah bahwa kehidupanNya ini adalah sempurna dan tidak diikuti kefanaan.
Dalam ayat ini terdapat nama-nama Alloh: Al-Hayyu. Dan didalamnya juga ada sifat-sifatNya: hidup, tidak mati yang mencakup kesempurnaan hidupNya. Dalam ayat ini ada dua sifat dan satu nama Alloh.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)