“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 23 Maret 2020

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS Al-An'am Ayat 59)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 193-199

Kemudian Alloh -azza wa jalla- memberikan perincian lain pada ayat yang lain. Alloh -ta'ala- berfirman:
Ayat Ke-Dua:

عِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ [٦:٥٩]

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59)

*Makna عِندَهُۥ (disisiNya) yakni di sisi Alloh, sebagai khobar yang didahulukan. Sedangkan مَفَاتِحُ (kunci-kunci) sebagai mubtada' yang diakhirkan.
Susunan ini memberikan faidah pembatasan dan pengkhususan. Kunci-kunci yang ghaib hanya di sisi Alloh dan tidak di sisi selainNya. Pembatasan ini dikuatkan dengan firmanNya:  لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ (tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri). Dalam kalimat ini ada pembatasan bahwa ilmu tentang perkara ghaib ini hanya di sisi Alloh dengan dua metode:
Pertama: dengan metode mendahulukan dan mengakhirkan.
Kedua: dengan metode peniadaan dan penetapan.

* Kata مَفَاتِحُ dikatakan sebagai jama' dari مفتح dengan mengkasrahkan mim dan memfathahkan ta': miftaah. Atau jama' dari miftaah namun dihilangkan huruf ya' dan ini jarang ditemui. Dan kita mendefinisikan bahwa miftah (kunci) adalah yang dengannya pintu dibuka. Dan ada yang berpendapat: jama' dari maftih; dengan memfathahkan mim dan mengkasrahkan ta' yang artinya perbendaharaan (tempat penyimpanan -pent). Sehingga مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ maknanya adalah perbendaharaanNya. Dan ada yang berpendapat pula bahwa  مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ adalah mabadi' (permulaan) sebab pembuka segala sesuatu adalah di awalnya. Sehingga dengan demikian  مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ maksudnya adalah permulaan yang ghaib sebab hal-hal yang disebutkan ini adalah permulaan terhadap apa yang ada setelahnya.

* Kata ٱلْغَيْبِ masdarnya ghaaba - yaghiibu - ghaiban. Dan maksud ghaib adalah adalah sesuatu yang tidak nampak. Dan ghaib ini perkara yang relatif. Akan tetapi keghaiban yang mutlak ilmunya khusus hanya pada Alloh.

Al-mafaatih ini; sama saja kita katakan bermakna permulaan, atau perbendaharaan atau kunci-kunci maka tidak ada yang mengetaahuinya kecuali Alloh -azza wa jalla-. Tidaklah diketahui oleh seorang malaikat pun, dan tidak pula seorang rasul bahkan utusan yang paling mulia dari kalangan malaikat  -yakni Jibril- bertanya kepada utusan yang paling mulia dari kalangan manusia yaitu -Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dia bertanya: "Kabarkan kepadaku tentang datangnya hari kiamat". Beliau menjawab:"Yang ditanya tentang hal itu tidaklah lebih mengetahui dari pada yang bertanya". Maksudnya: Sebagaimana engkau tidak mengetahui ilmunya maka aku juga tidak mengetahui ilmunya. Barang siapa yang mengklaim mengetahui datangnya hari kiamat maka dia adalah seorang pendusta dan kafir. Orang yang membenarkannya maka dia juga kafir sebab dia mendustakan Al-Qur'an.

Dan kunci-kunci ini telah dijelaskan oleh manusia yang paling berilmu terhadap firman Alloh yakni Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala membacakan:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS Luqman: 34)

ada lima hal:

PERTAMA: ILMU TENTANG HARI KIAMAT. Ilmu tentang hari kiamat adalah awal pembuka untuk kehidupan akhirat. Dan dinamakan hari kiamat dengan ini (As-Saa'ah) adalah karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat yang ditakut-takuti seluruh manusia dengannya. Dan disebut Al-Haaqqah dan Al-Waqiah. Dan hari kiamat yang mengetahui hanya Alloh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Alloh -azza wa jalla-.

KEDUA: TURUNNYA HUJAN. Berdasarkan firmanNya:  وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ (dan Dialah yang menurunkan hujan). ٱلْغَيْثَ adalah masdar. Maknanya adalah hilangnya kekerasan, maksudnya di sini adalah hujan, sebab dengan hujan hilang kekeringan dan kegersangan. Jika Dialah yang menurunkan hujan maka Dia juga yang mengetahui kapan turunnya.
Turunnya hujan merupakan pembuka bagi kehidupan bumi dengan tetumbuhan. Dengan hidupnya tetumbuhan menjadi kebaikan bagi ladang penggembalaan dan seluruh yang terkait dengan kebaikan hamba-hambaNya.
Di sini ada point penting: Alloh berfirman وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ "Dia yang menurunkan Al-Ghaits (hujan yang lebat)". Dan Alloh tidak mengatakan: Dia yang menurunkan hujan. Sebab hujan terkadang turun namun tidak menumbuhkan tanam-tanaman, dan tidak pula deras, tidak pula bumi hidup dengannya. Oleh karenanya telah ada pada shahih Muslim:

ليست السَنَةُ أﻻ طُمْطَروا ، إنما السنة أن تُمْطَرُوا وﻻ تنبت الأرض شيئا
"Bukanlah paceklik itu tidak turun hujan pada kalian, namun paceklik itu hujan turun pada kalian namun tidak menumbuhkan apa-apa"(HR Muslim 2904).
As-Sannah: maknanya al-qahthu (paceklik).

KETIKA: ILMU TENTANG APA YANG ADA DALAM KANDUNGAN. Berdasarkan firmanNya:
 وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ
"dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim"
yakni rahim perempuan. Alloh -azza wa jalla- mengetahui apa yang ada di dalam kandungan wanita; yakni apa yang ada di dalam perut para ibu dari kalangan manusia maupun selainnya. Keterkaitannya dengan ilmu ini umum terhadap segala sesuatu. Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam kandungan kecuali Dia -azza wa jalla- yang telah menciptakannya.

Jika engkau katakan: dikatakan sekarang ini: mereka (para ahli) menjadi tahu jenis kelamin laki-laki atau perempuan dalam rahim. Apakah ini benar?

Kita katakan: "Ini adalah perkara yang benar adanya dan tidak mungkin diingkari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui kecuali setelah terbentuk janin dan kelihatan jenis kelamin laki-laki atau perempuannya. Janin ini ada kondisi-kondisi lain yang mereka tidak mengetahuinya. Mereka tidak mengetahui kapan lahirnya. Mereka tidak mengetahui apabila dia lahir sampai kapan dia akan hidup. Mereka tidak mengetahui nantinya dia bahagia atau celakanya. Mereka juga tidak mengetahui nantinya dia kaya atau miskin dan selainnya yang merupakan perkara-perkara yang tidak diketahui.

Dengan demikian, kebanyakan perkara-perkara yang terkait dengan janin tidak diketahui manusia. Maka benarlah keumuman firmanNya : وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ "dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim".

KEEMPAT: PENGETAHUAN TENTANG HARI ESOK. Yakni, hari setelah hari ini. Berdasarkan firmanNya:
 وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok".
Dan ini adalah pembuka bagi hal yang dikerjakan pada waktu yang akan datang. Jika manusia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh dirinya maka ketidaktahuannya dengan apa yang akan dilakukan selainnya lebih tidak tahu lagi.

Namun jika ada yang berkata: saya mengetahui yang akan terjadi esok, saya akan pergi ke tempat Fulan, atau membaca atau mengunjungi kerabatku.
Kita katakan: terkadang seseorang memastikan bahwa dia akan mengerjakannya namun ada penghalang yang merintangi antara dia dan rencananya.

KELIMA: PENGETAHUAN TENTANG TEMPAT MATINYA. Hal ini berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati"
Tiada seorang pun yang mengetahui apakah dia mati di negerinya atau di negeri lain. Di negeri Islam ataukah di negeri yang penduduknya kafir. Dan dia juga tidak mengetahui apakah dia nantinya mati di daratan atau di lautan atau di angkasa. Ini adalah hal yang kita saksikan.

Dan seseorang tidak mengetahui jam berapa dia mati. Apabila dia tidak mungkin mengetahui di mana dia akan mati meski terkadang dia menentukan tempat (dia ingin meninggal. Demikian pula dia tidak mengetahui kapan dan jam berapa dia mati.

Ini adalah lima perkara yang merupakan pembuka bagi hal yang ghaib yang tiada yang mengetahuinya kecuali Alloh. Dan disebut dengan kunci-kunci keghaiban. Sebab, pengetahuan tentang apa yang ada di dalam rahim adalah pembuka bagi kehidupan dunia.
FirmanNya: وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok" adalah pembuka bagi amalan yang akan dilakukan pada hari besok.  وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati" adalah pembuka bagi kehidupan akhirat sebab jika manusia telah mati maka dia masuk alam akhirat. Telah berlalu penjelasan tentang pengetahuan tentang hari kiamat dan penurunan hujan. Menjadi jelas bahwa kunci-kunci ini semua adalah permulaan bagi perkara yang akan datang berikutnya.  إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

* Kemudian Alloh -azza wa jalla- berfirman:
 وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ
"dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan" (QS Al-An'am: 59)
Ini umum. Siapakah yang mampu menghitung berbagai jenis (makhluk) yang ada di daratan? Berapa banyak dunia binatang, hasyarat (sejenis serangga dan semisalnya -pent), gunung-gunung, pepohonan, dan sungai-sungai; hal-hal yang tidaklah diketahui kecuali Alloh -azza wa jalla-. Demikian pula lautan yang di dalamnya terdapat kondisi alam yang tidaklah diketahui kecuali penciptaNya -azza wa jalla. Mereka (para ahli) mengatakan bahwa jenis kehidupann lautan tiga kali lipat dari pada daratan; sebab lautan lebih luas dari pada daratan.

* FirmanNya:
 وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
"dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)"(QS Al-An'am: 59)
Ini perincian. Maka daun mana saja yang jatuh; yang ada di pohon manapun baik yang kecil maupun yang besar; yang dekat maupun yang jauh maka Alloh -ta'ala- mengetahuinya. Berdasarkan hal ini terdapat 'maa nafiyah' dan 'min zaidah' sehingga menjadi lafadz yang umum. Dan daun yang diciptakan maka Dia lebih mengetahuinya; sebab (Alloh) Yang Mengetahui apa yang jatuh maka Dia juga mengetahui apa yang diciptakanNya.
Lihatlah kepada luasnya ilmu Alloh -ta'ala-; segala sesuatu yang terjadi maka Dia mengetahuinya sampai perkara yang belum terjadi dan akan terjadi Dia mengetahuinya.
Alloh berfirman:
وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ
"dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi" (QS Al-An'am: 59).
Biji kecil yang tidak diketahui ujungnya di kegelapan bumi Alloh -azza wa jalla- mengetahuinya.

* Kata ظُلُمَـٰتِ "kegelapan" adalah jama' dari dzulmah. Kita anggaplah ada sebuah biji kecil yang tenggelam di dasar samudera pada malam yang gelap dan hujan lebat. Maka kegelapannya: Pertama: lumpur samudera; Kedua: air samudera; Ketiga: hujan; Keempat: mendung; Kelima: malam. Ini adalah lima kegelapan di kegelapan bumi. Meski demikian biji ini diketahui dan dilihat oleh Alloh -azza wa jalla-.

* Lafadz وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ "dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering" maka ini umum. Segala sesuatu mungkin dia basah dan mungkin dia kering.

* Lafadz إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ "melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59. Kitab bermakna maktub. Mubin yakni yang menampakkan dan jelas; sebab ابان bisa dipakai untuk mutaaddi (membutuhkan objek) dan lazim (tanpa membutuhkan objek). Dikatakan: 'abanal fajr' (fajar telah nampak) maksudnya fajar telah kelihatan.
Dan dikatakan 'abanal haqq' maksudnya menampakkannya (kebenaran). Maksud kitab di sini adalah lauh mahfudz.
Segala sesuatu ini diketahui oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan telah tertulis di sisiNya di lauh Mahfudz. Sebab tatkala Alloh menciptakan qalam (pena); maka Alloh memerintahkan kepadanya: Tulislah! Qalam bertanya: Apa yang harus aku tulis? Alloh berfirman: Tulislah segala sesuatu yang ada sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shohihah).
Maka Qalam menuliskannya dalam sekejab segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat. Kemudian Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjadikan kitab-kitab di tangan para malaikat. Malaikat menuliskan apa yang diperbuat manusia sebab yang ada di lauh mahfudz telah tertulis di dalamnya apa yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya. Sedangkan yang ditulis para Malaikat adalah yang manusia akan diberi balasan atasnya. Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّـٰبِرِينَ
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu" (QS Muhammad: 31)
Adapun pengetahuannya bahwa hambaNya si Fulan akan bersabar atau tidak bersabar maka ini sudah tertulis sebelumnya namun tidaklah berkonsekwensi pahala maupun hukuman.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)