“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Minggu, 21 Juni 2020

Adab-adab Buang Hajat: Istinja' dan Istijmar


Bab ke-3: Masalah buang hajat dan adab-adabnya. Di sini ada beberapa permasalahan:
Permasalahan Pertama: Istinja' dan Istijmar dan salah satunya bisa menggantikan lainnya.

Istinja': membersihkan kotoran yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) dengan menggunakan air.
Istijmar: mengusapnya (kotoran yang keluar dari qubul atau dubur) dengan benda yang suci, mubah dan bisa membersihkan seperti batu dan yang semisalnya.
Dan boleh memilih salah satunya karena hal tersebut telah diriwayatkan dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dari Anas -radhiyallohu 'anhu- berkata:
 (كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يدخل الخلاء، فأحمل أنا وغلام نحوي إداوة من ماء وعنزة، فيستنجي بالماء)
"Nabi -shoallallohu 'alaihi wa sallam- masuk wc. Maka aku dan anak kecil seusiaku membawakan wadah kecil (dari kulit) berisi air dan tombak kecil. Lalu beliau beristinja' dengan air" (HR Muslim).
وعن عائشة رضي الله عنها، عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: (إذا ذهب أحدكم إلى الغائط، فليستطب بثلاثة أحجار، فإنها تُجزئ عنه)
Dan dari 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian pergi ke tempat buang hajat, hendaklah dia bersuci dengan 3 batu. Maka yang demikian itu mencukupi baginya" (HR Ahmad dan Daruquthni. Ia berkata sanadnya shahih)
Menggabungkan keduanya lebih utama.
Istijmar bisa dilakukan dengan batu atau yang bisa menggantikannya dari setiap sesuatu yang suci, bisa membersihkan dan mubah, seperti tissu, kertas, atau kayu dan yang semisalnya. Sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beristijmar dengan batu sehingga disamakan apa pun yang semisal dengannya (batu) dalam hal membersihkan.
Dan tidak boleh beristijmar kurang dari tiga usapan berdasarkan hadits Salman -radhiyallohu 'anhu-:
(نهانا -يعني النبي (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) - أن نستنجي باليمين، وأن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، وأن نستنجي برجيع أو عظم)
"Beliau melarang kami -yakni Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beristinja' dengan tangan kanan, (melarang) beristinja' dengan batu kurang dari tiga dan (melarang) beristinja' dengan kotoran hewan atau tulang" (HR Muslim)

Diterjemahkan dari Al-Fiqh Al-Muyassar.

الباب الثالث: في قضاء الحاجة وآدابها، وفيه عدة مسائل:
المسألة الأولى: الاستنجاء والاستجمار وقيام أحدهما مقام الآخر:
الاستنجاء: إزالة الخارج من السبيلين بالماء. والاستجمار: مسحه بطاهر مباح مُنْقِ كالحجر ونحوه. ويجزئ أحدهما عن الآخر؛ لثبوت ذلك عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: فعنَ أنس - رضي الله عنه - قال: (كان النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يدخل الخلاء، فأحمل أنا وغلام نحوي إداوة من ماء وعنزة، فيستنجي بالماء) (١). وعن عائشة رضي الله عنها، عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: (إذا ذهب أحدكم إلى الغائط، فليستطب بثلاثة أحجار، فإنها تُجزئ عنه) (٢). والجمع بينهما أفضل.
والاستجمار يحصل بالحجارة أو ما يقوم مقامها من كل طاهر مُنْقِ مباح، كمناديل الورق والخشب ونحو ذلك؛ لأن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يستجمر بالحجارة فيلحق بها ما يماثلها في الإنقاء. ولا يجزئ في الاستجمار أقل من ثلاث مسحات؛ لحديث سلمان - رضي الله عنه -: (نهانا -يعني النبي (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) - أن نستنجي باليمين، وأن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، وأن نستنجي برجيع أو عظم) (٣).

(١) رواه مسلم برقم (٢٧١)، والإداوة: إناء صغير من جلد.
(٢) أخرجه أحمد (٦/ ١٠٨)، والدارقطني برقم (١٤٤) وقال: إسناد صحيح.
(٣) رواه مسلم برقم (٢٦٢)، والرجيع: العَذرَةُ والروْثُ.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)