“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 16 Juni 2020

Bersuci dengan Bejana dari Kulit Bangkai

Masalah ke-Empat: Bersuci dari bejana-bejana yang terbuat dari kulit bangkai:
Kulit bangkai jika disamak menjadi suci dan boleh dipergunakan berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أيما إهاب دبغ فقد طهر
"Kulit apa saja yang disamak maka sungguh telah menjadi suci" (HR Tirmidzi dan Muslim).
Dan juga karena Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah melewati bangkai kambing lalu beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
(هلَّا أخذوا إهابها فدبغوه فانتفعوا به)؟ فقالوا: إنها ميتة. قال: (فإنما حَرُمَ أكلُهَا)
"Kenapa kalian tidak mengambil kulitnya lalu kalian samak sehingga kalian bisa mengambil manfaat darinya?". Para shahabat berkata: "Sesungguhnya ini adalah bangkai". Beliau bersabda: "Yang haram hanyalah memakannya". (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Dan ini adalah jika bangkai tersebut termasuk hewan yang halal sembelihannya. Adapun jika tidak, maka tidak bisa suci dengan disamak.

Adapun bulunya adalah suci -yakni bulu bangkai hewan yang halal dimakan ketika hidupnya- adapun dagingnya maka najis dan haram dimakan. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:

 إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ 
"... kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – " (QS Al-An'am:145)

Disamak dengan membersihkan penyakit dan kotoran yang ada pada kulit dengan menggunakan unsur yang dilarutkan kedalam air seperti garam dan yang semacamnya atau dengan tumbuh-tumbuhan yang biasa dipakai seperti daun akasia atau ar'ar (tanaman mirip pinus) dan sejenisnya.

Adapun hewan yang tidak halal dengan disembelih maka tidak menjadi suci. Oleh karenanya kulit kucing dan hewan yang lebih kecil tidak menjadi suci dengan disamak meskipun ketika hidup statusnya suci.
Dan kulit hewan yang diharamkan memakannya meskipun suci ketika hidup tidaklah menjadi suci dengan disamak.

Ringkasnya: bahwa setiap hewan yang mati dan termaauk hewan yang boleh dimakan dagingnya maka kulitnya menjadi suci dengan disamak. Dan setiap hewan yang mati dan bukan termasuk hewan yang boleh dimakan dagingnya maka kulitnya tidak menjadi suci dengan disamak.

المسألة الرابعة: الطهارة في الآنية المتخذة من جلود الميتة:

جلد الميتة إذا دبغ طهر وجاز استعماله لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (أيما إهاب (٤) دبغ فقد طهر) (٥). ولأنه - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مرّ على شاة ميتة فقال - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (هلَّا أخذوا إهابها فدبغوه فانتفعوا به)؟ فقالوا: إنها ميتة. قال: (فإنما حَرُمَ أكلُهَا) (٦). 

وهذا فيما إذا كانت الميتة مما تحلها الذكاة وإلا فلا.
أما شعرها فهو طاهر -أي شعر الميتة المباحة الأكل في حال الحياة- وأما اللحم فإنه نجس، ومحرم أكله. لقوله تعالى: (إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ) [الأنعام: ١٤٥].
ويحصل الدبغ بتنظيف الأذى والقذر الذي كان في الجلد، بواسطة مواد تضاف إلى الماء كالملح وغيره، أو بالنبات المعروف كالقَرَظ أو العرعر ونحوهما.
وأما ما لا تحله الذكاة فإنه لا يطهر، وعلى هذا فجلد الهرة وما دونها في الخلقة لا يطهر بالدبغ، ولو كان في حال الحياة طاهراً.
وجلد ما يحرم أكله ولو كان طاهراً في الحياة فإنه لا يطهر بالدباغ.
والخلاصة: أن كل حيوان مات، وهو من مأكول اللحم، فإنَّ جلده يطهر بالدباغ، وكل حيوان مات، وليس من مأكول اللحم، فإن جلده لا يطهر بالدباغ.
 


(٤) الإهاب: الجلد قبل أن يدبغ.
(٥) رواه الترمذي برقم (١٦٥٠)، ومسلم برقم (٣٦٦) بلفظ: (إذا دبغ الإهاب فقد طهر) من حديث ابن عباس.
(٦) رواه مسلم برقم (٣٦٣)، وابن ماجه برقم (٣٦١٠).


مصدر: الفقه الميسر في ضوء الكتاب و السنة

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)