“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 12 Juni 2020

Hukum Berkaitan Bejana-Bejana Orang Kafir


Permasalahan Ketiga: Bejana-bejana orang kafir
Hukum asal menggunakan bejana-bejana orang kafir adalah boleh kecuali jika diketahui kenajisannya maka yang demikian tidak boleh menggunakannya kecuali setelah dicuci. Berdasarkan hadits Abu Tsa'labah Al-Khusyani dia berkata: 
قلت يا رسول الله إنا بأرض قوم أهل كتاب، أفنأكل في آنيتهم؟ قال: (لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها)
Aku bertanya kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-: Sesungguhnya kami berada di wilayah Ahlul Kitab. Apakah kami boleh makan dengan menggunakan wadah-wadah mereka? Beliau bersabda: "Janganlah kalian makan dengan menggunakannya kecuali kalian tidak mendapati selainnya. Maka cucilah lalu makan dengan menggunakannya"
(HR Bukhari dan Muslim)
المسألة الثالثة: آنية الكفار:
الأصل في آنية الكفار الحل، إلا إذا عُلمت نجاستها، فإنه لا يجوز استعمالها إلا بعد غسلها؛ لحديث أبي ثعلبة الخشني قال: قلت يا رسول الله إنا بأرض قوم أهل كتاب، أفنأكل في آنيتهم؟ قال: (لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها) (١).
Apabila tidak diketahui kenajisannya karena pemiliknya tidak dikenal dengan bersentuhan dengan najis maka boleh menggunakannya sebab yang demikian ini telah diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para shahabat beliau mengambil air untuk berwudhu' dari wadah seorang wanita musyrik (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Dan juga karena Alloh -ta'ala- menghalalkan untuk kita makanan ahlul kitab. Dan terkadang mereka menghidangkannya untuk kita dengan bejana-bejana mereka. Sebagaimana undangan pemuda Yahudi kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- untuk menyantap roti gandum dan lemak yang berbau dan beliau makan sebagiannya. (Diriwayatkan Ahmad dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa').

وأما إذا لم تُعلم نجاستها بأن يكون أهلها غير معروفين بمباشرة النجاسة، فإنه يجوز استعمالها؛ لأنه ثبت أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وأصحابه أخذوا الماء للوضوء من مَزَادة امرأة مشركة (٢)، ولأن الله سبحانه قد أباح لنا طعام أهل الكتاب، وقد يقدِّمونه إلينا في أوانيهم، كما دعا غلام يهودي النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - على خبز شعير وإهالَة سَنِخَة فأكل منها (٣).

(١) رواه البخاري برقم (٥٤٧٨)، ومسلم برقم (١٩٣٠).
(٢) رواه البخاري في كتاب التيمم باب الصعيد الطيب رقم (٣٤٤) ومسلم كتاب المساجد باب قضاء الصلاة الفائتة برقم (٦٨٢)، والمزادة: قربة كبيرة يزاد فيها جلد من غيرها.
(٣) أخرجه أحمد (٣/ ٢١٠، ٢١١). وصححه الألباني في الإرواء (١/ ٧١) والإهالة: الشحم والزيت. والسنخة: المتغيرة الريح.

مصدر: الفقه الميسر في ضوء الكتاب و السنة

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)