“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Jumat, 11 September 2020

Syubhat Para Pelaku Bid'ah dan Bantahannya - bag 3

Syubhat Ketiga:

Mereka berdalil dengan firman Alloh -ta'ala-:
وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا مَا كَتَبۡنَٰهَا عَلَيۡهِمۡ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ رِضۡوَٰنِ ٱللَّهِ فَمَا رَعَوۡهَا حَقَّ رِعَايَتِهَاۖ فَـَٔاتَيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۡهُمۡ أَجۡرَهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

"Mereka mengada-adakan rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridhaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya. Maka kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya, dan banyak di antara mereka yang fasik" (QS Al-Hadid: 27)

Jawabannya dari beberapa sisi:
PERTAMA: Apabila maksud firmanNya: إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ رِضۡوَٰنِ ٱللَّهِ "kecuali untuk mencari keridhaan Alloh" kembalinya kepada وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا "(Mereka) mengada-adakan rahbaniyah". Maka ini mengecualikan sebab tercelanya mereka karena kebid'ahan dan yang mereka ada-adakan pada perkara yang Alloh tidak wajibkan atas mereka. Kemudian, dengan kebid'ahan mereka, mereka tidak menjaganya dengan sebenar-benarnya sebagaimana yang Alloh khabarkan.

KEDUA: Jika firmanNya: إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ رِضۡوَٰنِ ٱللَّهِ "kecuali untuk mencari keridhaan Alloh" kembalinya pada firmanNya: مَا كَتَبۡنَٰهَا عَلَيۡهِمۡ "padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka" maka hal itu menunjukkan bahwa mereka membuat-buat peribadahan yang telah Alloh tetapkan untuk mereka. Dan ini ada pada syariat umat sebelum kita. Dan syariat umat terdahulu tidak bisa menjadi syariat kita kecuali jika syariat kita tidak ada yang menyelisihinya. Dan sungguh telah ada syariat kita yang menyelisinya yaitu larangan membuat-buat amalan dalam agama kita. Barang siapa mengada-adakan suatu amalan maka tertolak. Pelakunya menjadi tercela dan tidak terpuji. Ini mengesampingkan perkataan para ulama yang berpendapat bahwa syariat umat sebelum kita tidak bisa menjadi syariat kita secara mutlak.

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 138-139.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)